Search

Miss Dimas Amalia: Dari Wali Murid Menjadi Guru di Bintang Juara

Miss Bercerita_ Miss Dimas Amalia

Menjadi orang tua murid ternyata bisa menjadi awal dari sebuah perjalanan baru. Bagi Miss Dimas Amalia Munazah Pasanema, S.Farm., pengalaman mengenal PAUD Islam Bintang Juara sebagai wali murid justru membawanya untuk bertumbuh menjadi seorang guru.

Dalam Miss Bercerita kali ini, Miss Dimas berbagi tentang perjalanannya, pengalamannya mendampingi anak-anak Old Toddler, hingga pelajaran yang ia temukan setelah melihat tumbuh kembang anak dari dua sisi: sebagai orang tua sekaligus guru.

Daftar Isi

Perjalanan Miss Dimas Amalia, Dari Wali Murid Menjadi Guru

Sebelum menjadi guru, Miss Dimas lebih dahulu mengenal Bintang Juara sebagai orang tua murid. Dari pengalaman tersebut, tumbuh ketertarikan untuk memahami lebih dalam cara anak didampingi, belajar, dan berkembang. Yuk, kenali lebih dalam perjalanan Miss Dimas hingga akhirnya bergabung menjadi salah satu guru tangguh di PAUD Islam Bintang Juara!

1. Sebelum menjadi guru, Miss terlebih dahulu mengenal Bintang Juara sebagai orang tua murid. Apa yang membuat Miss begitu tertarik dengan pendidikan anak saat itu?

Ketertarikan saya terhadap dunia pendidikan anak berawal dari pengalaman menjadi orang tua murid di Bintang Juara dan juga sebagai alumni PSPA Abah Ihsan di tahun 2015. Saat itu, saya melihat bahwa mengasuh dan mendidik anak bukan sekadar mengajarkan kemampuan akademik, tetapi juga tentang mendampingi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan keunikan, potensi, serta tahap perkembangannya.

Saya merasa tertarik dengan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan, penuh kasih sayang, dan menghargai setiap proses belajar anak. Melihat bagaimana guru anak saya di TK Islam Bintang Juara saat itu (2018) mendampingi anak dengan memberikan pijakan yang konstruktif dan bermakna, menciptakan suasana belajar yang positif, serta menanamkan nilai-nilai karakter dan keislaman membuat saya semakin terinspirasi.

Dari pengalaman tersebut, awalnya saya coba-coba melamar menjadi guru di PAUD Islam Bintang Juara, lalu tumbuh keinginan dalam diri saya untuk tidak hanya menjadi orang tua yang mendampingi proses belajar anak di rumah, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan anak-anak dalam mengenal diri, mengembangkan potensi, membangun karakter, dan menemukan kebahagiaan dalam belajar.

2. Apa yang pertama kali Miss temukan di Bintang Juara yang membuat Miss berpikir, “Oh, ternyata mendampingi anak memang bisa dilakukan seperti ini”?

Hal pertama yang saya temukan di Bintang Juara adalah cara pandang bahwa setiap anak memiliki keunikan, potensi, dan tahapan perkembangan yang berbeda. Saya melihat bahwa mendampingi anak tidak harus selalu dengan memberikan instruksi atau mengarahkan mereka untuk melakukan sesuatu, tetapi juga dengan memberikan kepercayaan, kesempatan, dan ruang untuk bereksplorasi.

Saya merasa takjub melihat bagaimana guru menggunakan kegiatan bermain sebagai sarana belajar, memberikan pijakan yang tepat, serta mendampingi anak dengan penuh kesabaran tanpa menghilangkan kemandirian mereka.

Dari situ, saya menyadari bahwa peran guru bukan sekadar mengajar, melainkan menjadi fasilitator yang memahami kebutuhan anak, menghargai setiap proses, dan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Hal inilah yang membuat saya berpikir bahwa ternyata mendampingi anak bisa dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan, terarah, dan penuh makna.

3. Miss pernah mengatakan bahwa pijakan di Bintang Juara terasa “masuk logika” dan bahkan mind blowing. Apa yang paling membuka perspektif Miss dari ilmu pijakan tersebut?

Hal yang paling membuka perspektif saya dari ilmu pijakan di Bintang Juara adalah pemahaman bahwa setiap tindakan guru dalam mendampingi anak memiliki tujuan dan makna. Dari kejadian anak tidak sengaja menumpahkan air, saya melihat cara guru memberikan kesempatan anak untuk berpikir kritis dan logis. Hal ini tidak instan anak menemukan sendiri caranya, namun ternyata cara memberikan pijakan bermakna ini dilakukan sejak anak masih bayi.

Ternyata, mendampingi anak bukan sekadar mengawasi mereka bermain atau memberikan instruksi, melainkan menyiapkan lingkungan, membangun komunikasi, memberikan stimulasi, serta mendukung proses belajar anak sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya.

Bagi saya, ilmu pijakan terasa masuk logika karena pendekatannya sangat menghargai anak sebagai individu yang memiliki potensi dan kemampuan untuk belajar secara mandiri. Saya juga menyadari bahwa anak tidak selalu membutuhkan jawaban atau bantuan langsung dari orang dewasa. Terkadang, yang mereka butuhkan adalah kesempatan untuk mencoba, bereksplorasi, menghadapi tantangan, dan menemukan solusi sendiri dengan pendampingan yang tepat.

Hal yang paling mind blowing bagi saya adalah menyadari bahwa perubahan kecil dalam cara guru bersikap, berbicara, dan memberikan respon dapat memberikan dampak besar terhadap proses tumbuh kembang anak. Dari ilmu pijakan ini, saya belajar bahwa menjadi guru bukan tentang seberapa banyak materi yang disampaikan, melainkan seberapa bermakna pengalaman belajar yang dapat diciptakan untuk setiap anak.

4. Sampai akhirnya Miss memutuskan untuk mencoba menjadi guru di Bintang Juara. Apa yang membuat Miss berani mengambil langkah tersebut?

Keputusan saya untuk mencoba menjadi guru di Bintang Juara berawal dari ketertarikan dan kekaguman saya terhadap konsep pendidikan yang diterapkan. Setelah merasakan sendiri bagaimana Bintang Juara mendampingi anak dengan pendekatan yang menghargai keunikan, potensi, dan proses tumbuh kembang setiap anak, muncul keinginan dalam diri saya untuk menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Meskipun awalnya ada rasa ragu karena menjadi guru tentu memiliki tantangan dan tanggung jawab yang berbeda dari menjadi orang tua, dengan ijin Allah SWT, saya percaya bahwa setiap perjalanan besar selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba. Dengan niat untuk terus belajar, kemauan untuk berkembang, serta dukungan dari lingkungan Bintang Juara, Bismillah saya memberanikan diri mengambil langkah tersebut.

Bagi saya, keputusan ini bukan sekadar mencoba profesi baru, melainkan kesempatan untuk bertumbuh bersama anak-anak dan menjadi bagian dari proses mereka menemukan potensi terbaiknya.

5. Miss rela menempuh perjalanan puluhan kilometer dari rumah untuk menjalani peran sebagai guru di Bintang Juara. Apa yang membuat perjalanan sejauh itu terasa tetap layak untuk dijalani?

Awalnya terasa berat, ujian demi ujian pun datang, saya mengalami kecelakaan tunggal yang mengakibatkan saya harus istirahat. Saya yakin dibalik ujian itu semua, ada alasan kenapa Allah memilih saya untuk menjadi tenaga pendidik yang amanah di PAUD Islam Bintang Juara.

Awalnya terasa capek, namun Allah berikan nikmat semangat lewat anak saya yang sekolah di SD Islam Bintang Juara. Kalau mereka semangat dalam menempuh perjalanan berkilo-kilo meter, saya juga harus lebih semangat.

Setiap hari, saya memiliki kesempatan untuk belajar hal baru, setiap anak memiliki potensi luar biasa yang perlu didampingi dengan cara yang tepat. Melihat perkembangan anak, menyaksikan pencapaian kecil mereka, serta menjadi bagian dari proses tumbuh kembangnya memberikan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bagi saya.

Selain itu, lingkungan Bintang Juara yang mendukung budaya belajar, refleksi, dan pengembangan diri membuat saya merasa bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang jarak yang harus ditempuh, melainkan tentang makna dan tujuan yang ingin dicapai.

galeri kegiatan Miss Dimas

Memahami Dunia Old Toddler dari Kacamata Miss Dimas

Memasuki dunia Old Toddler membuat Miss Dimas semakin memahami bahwa banyak perilaku anak yang terlihat sederhana sesungguhnya menyimpan proses belajar yang penting. Di usia ini, anak sedang membangun kemandirian, mengenali emosi, beradaptasi, dan belajar memahami dunia di sekitarnya.

6. Setelah mendampingi anak-anak di usia Old Toddler, menurut Miss, apa hal paling penting yang perlu dipahami orang dewasa tentang anak di usia ini?

Menurut saya, hal paling penting yang perlu dipahami orang dewasa tentang anak usia Old Toddler adalah bahwa setiap anak sedang berada dalam proses mengenal diri, membangun kemandirian, dan memahami lingkungan di sekitarnya. Pada usia ini, anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, senang bereksplorasi, ingin mencoba banyak hal sendiri, dan mulai menunjukkan keinginan serta emosinya dengan lebih jelas.

Saya menyadari bahwa terkadang perilaku anak yang dianggap sulit, seperti menolak, menangis, atau ingin melakukan segala sesuatu sendiri, sebenarnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, anak membutuhkan orang dewasa yang tidak hanya mengarahkan, tetapi juga mau memahami, memberikan kesempatan, serta mendampingi dengan sabar dan penuh kasih sayang.

Bagi saya, penting bagi orang dewasa untuk tidak terburu-buru memberikan apa yang anak minta atau menuntut anak agar bisa melakukan sesuatu sesuai harapan kita. Sebaliknya, berikan kepercayaan, ruang untuk mencoba, dan pijakan yang tepat agar anak dapat belajar mandiri serta mengembangkan potensinya.

Karena pada dasarnya, tugas kita bukan mempercepat proses tumbuh kembang anak, melainkan memastikan mereka mendapatkan pendampingan yang tepat agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan bahagia.

7. Anak Old Toddler kadang menangis, sulit berpisah dengan orang tua, atau belum mau mengikuti kegiatan. Sebenarnya apa yang sedang mereka pelajari di balik perilaku tersebut?

Menurut saya, di balik perilaku anak yang menangis, sulit berpisah dengan orang tua, atau belum mau mengikuti kegiatan, sebenarnya ada banyak proses belajar yang sedang berlangsung. Anak sedang belajar mengenali dan mengelola emosinya, membangun rasa aman, menumbuhkan kepercayaan terhadap lingkungan dan orang-orang baru, serta beradaptasi dengan situasi yang belum familiar bagi mereka.

Ketika anak menangis saat berpisah dengan orang tua, misalnya, mereka sedang belajar menghadapi rasa tidak nyaman dan membangun rasa percaya bahwa mereka tetap aman meskipun tidak selalu berada di dekat orang tua. Begitu pula ketika anak belum mau mengikuti kegiatan, bisa jadi mereka sedang mengamati, mengenali situasi, atau membutuhkan waktu untuk merasa nyaman sebelum terlibat.

Bagi saya, hal terpenting adalah memahami bahwa setiap anak memiliki ritme adaptasi dan kesiapan yang berbeda. Tugas kita sebagai orang dewasa bukan memaksa mereka untuk segera mengikuti kegiatan, melainkan hadir dengan penuh kesabaran, memberikan rasa aman, dan menawarkan pijakan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Karena terkadang, proses belajar yang paling bermakna bukanlah ketika anak berhasil menyelesaikan suatu kegiatan, melainkan ketika mereka mulai berani mencoba, merasa nyaman, dan percaya pada lingkungan di sekitarnya.

8. Menurut Miss, apa yang sebenarnya sedang dipelajari anak ketika mereka terlihat hanya bermain?

Menurut saya, ketika anak terlihat hanya bermain, sebenarnya mereka sedang mempelajari banyak hal yang menjadi dasar bagi tumbuh kembangnya. Melalui bermain, anak belajar mengenal lingkungan, mengembangkan kemampuan berpikir, melatih motorik, membangun kemampuan berbahasa, serta belajar bersosialisasi dan mengelola emosi.

Hal yang menarik adalah melalui kegiatan bermain yang sederhana, anak juga belajar memecahkan masalah, mengambil keputusan, mencoba hal baru, dan membangun rasa percaya diri. Misalnya, ketika anak bermain menyusun balok, mereka tidak hanya menumpuk balok, tetapi juga belajar tentang keseimbangan, bentuk, ukuran, kesabaran, dan bagaimana menemukan solusi ketika susunannya roboh.

Bagi saya, bermain bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu, melainkan dunia belajar yang paling dekat dengan anak. Di sinilah peran orang dewasa sangat penting, yaitu menyiapkan lingkungan yang kaya akan pengalaman, memberikan pijakan yang tepat, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi tanpa terlalu banyak intervensi.

Karena sesungguhnya, saat anak bermain dengan bahagia dan penuh rasa ingin tahu, mereka sedang membangun fondasi penting bagi proses belajar dan kehidupannya kelak.

9. Apa satu hal kecil yang sering dilakukan anak Old Toddler, tetapi sebenarnya punya makna besar dalam proses tumbuh mereka?

Salah satu hal kecil yang sering dilakukan anak Old Toddler, tetapi memiliki makna besar, adalah keinginan untuk melakukan sesuatu sendiri, seperti memakai sepatu, menuangkan air, membuka dan menutup air kran, mengambil mainan, atau bahkan melihat apa yang sedang dilakukan orang dewasa.

Mungkin bagi orang dewasa, kegiatan tersebut terlihat sederhana dan terkadang justru lebih mudah jika kita bantu. Namun, di balik keinginan itu, anak sedang belajar membangun kemandirian, mengembangkan koordinasi motorik, melatih konsentrasi, memecahkan masalah, dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Ketika anak berkata, “Aku mau sendiri,” sebenarnya mereka sedang menunjukkan keinginan untuk mencoba, mengeksplorasi kemampuan, dan merasa bahwa dirinya mampu.

Bagi saya, di sinilah pentingnya peran orang dewasa untuk memberikan kepercayaan dan tidak terburu-buru mengambil alih. Sebab, setiap kesempatan kecil yang diberikan kepada anak bisa menjadi langkah besar dalam proses tumbuh kembangnya.

Karena kemandirian tidak tumbuh dari seberapa sering kita membantu anak, tetapi dari seberapa banyak kesempatan yang kita berikan agar mereka belajar mencoba.

10. Perubahan kecil apa yang biasanya menjadi tanda bahwa seorang toddler mulai berkembang dalam kemandirian?

Menurut saya, perubahan kecil yang menjadi tanda bahwa seorang toddler mulai berkembang dalam kemandirian adalah ketika mereka mulai memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu tanpa selalu menunggu bantuan orang dewasa. Misalnya, mulai mencoba memakai sepatu sendiri, makan menggunakan sendok, merapikan mainan setelah bermain, atau mengambil barang yang dibutuhkan.

Selain itu, ada perubahan dalam cara anak menghadapi tantangan. Jika sebelumnya anak mudah meminta bantuan ketika mengalami kesulitan, perlahan mereka mulai berusaha mencoba kembali, mencari cara lain, atau menunjukkan keinginan untuk menyelesaikan sesuatu sendiri.

Bagi saya kemandirian bukan hanya tentang kemampuan anak melakukan sesuatu tanpa bantuan, tetapi juga tentang tumbuhnya rasa percaya diri, keberanian mengambil keputusan sederhana, dan keyakinan bahwa dirinya mampu.

Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan pencapaian yang sangat berarti. Tugas kita sebagai orang dewasa adalah menghargai setiap prosesnya, memberikan kesempatan untuk mencoba, dan mendampingi tanpa mengambil alih.

Karena kemandirian tumbuh dari keberanian anak untuk mencoba, bukan dari tuntutan orang dewasa agar mereka segera bisa.

11. Di usia ini anak masih banyak membutuhkan bantuan. Bagaimana Miss menentukan kapan harus membantu dan kapan perlu memberi kesempatan anak mencoba sendiri?

Menurut saya, kuncinya adalah memahami kebutuhan, kemampuan, dan kesiapan setiap anak. Saya berusaha mengamati terlebih dahulu sebelum memberikan bantuan. Ketika anak sedang mencoba melakukan sesuatu, saya memberikan waktu dan kesempatan agar mereka dapat mengeksplorasi kemampuannya sendiri, meskipun prosesnya membutuhkan waktu lebih lama atau hasilnya belum sempurna.

Namun, ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda kesulitan, merasa frustasi, atau membutuhkan dukungan, saya akan memberikan pijakan sesuai kebutuhannya. Bantuan tidak selalu berarti mengambil alih pekerjaan anak. Terkadang, cukup dengan memberikan contoh, arahan sederhana, pertanyaan pemantik, atau sedikit bantuan agar anak bisa melanjutkan usahanya sendiri.

Bagi saya, penting untuk menemukan keseimbangan antara memberikan kebebasan dan memastikan anak tetap merasa aman serta didukung. Saya percaya bahwa setiap anak memiliki ritme belajar yang berbeda sehingga kita perlu menghargai prosesnya tanpa membandingkan satu anak dengan anak lainnya.

Karena tujuan kita bukan membuat anak selalu berhasil dengan bantuan orang dewasa, melainkan menumbuhkan keyakinan bahwa mereka mampu mencoba, belajar, dan menyelesaikan sesuatu dengan kemampuannya sendiri.

12. Apa tantangan terbesar mendampingi anak-anak di usia Old Toddler, dan bagaimana Miss biasanya menghadapinya?

Menurut saya, tantangan terbesar dalam mendampingi anak usia Old Toddler adalah memahami bahwa setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, emosi, dan tahap perkembangan yang berbeda. Ada anak yang sangat aktif dan penuh rasa ingin tahu, ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi, dan ada pula yang masih belajar mengungkapkan keinginannya sehingga terkadang menunjukkan emosi melalui tangisan atau perilaku tertentu.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, saya berusaha untuk lebih banyak mengamati, memahami kebutuhan anak, dan tidak terburu-buru memberikan penilaian. Saya juga melakukan wawancara ke orang tua tentang bagaimana perilaku anak saat di rumah, bagaimana orang tua tersebut memberikan pola pengasuhan terhadap anaknya dan seantusias apa Orang tua terhadap perkembangan anak.

Justru tantangan terbesar adalah menghadapi orang tua dengan pola pengasuhan yang kurang tepat terhadap anaknya, orang tua dengan karakter yang cuek, belum lagi ada pihak-pihak lain dalam memberikan pengasuhan di rumah seperti kakek dan nenek.

Saya juga menyadari bahwa menjadi guru bukan berarti harus selalu memiliki jawaban atas setiap situasi. Ada kalanya saya perlu berefleksi, berdiskusi dengan rekan guru, dan terus belajar agar dapat memberikan pendampingan yang lebih baik.

Guru, Orang Tua dan Proses Tumbuh Anak

Proses tumbuh anak tidak berlangsung hanya di sekolah. Apa yang dibangun di kelas perlu mendapatkan kesinambungan di rumah, sementara informasi dari orang tua juga membantu guru memahami anak secara lebih utuh. Karena itu, komunikasi dan kerja sama menjadi bagian penting dalam pendampingan anak.

13. Menurut Miss, pembiasaan apa di sekolah yang paling penting untuk dilanjutkan Ayah Bunda di rumah?

Menurut saya, salah satu pembiasaan yang sangat penting untuk dilanjutkan Ayah Bunda di rumah adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan hal-hal sederhana secara mandiri. Misalnya, merapikan mainan setelah bermain, membawa barangnya sendiri, mencoba makan sendiri, memakai atau melepas sepatu, serta membantu aktivitas sederhana di rumah.

Selain kemandirian, pembiasaan bicara saat membutuhkan bantuan, menunggu giliran, mengungkapkan perasaan, dan mengikuti rutinitas sederhana juga penting untuk terus dilakukan secara konsisten di rumah. Ketika pembiasaan di sekolah dan di rumah berjalan selaras, anak akan lebih mudah memahami bahwa keterampilan tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, yang paling penting bukan seberapa sempurna anak melakukannya, tetapi konsistensi dan kesabaran orang dewasa dalam mendampingi prosesnya. Berikan kesempatan untuk mencoba, apresiasi usahanya, dan bantu ketika memang dibutuhkan.

Karena kemandirian dan kebiasaan baik tidak terbentuk dalam satu hari. Ia tumbuh dari kesempatan-kesempatan kecil yang diberikan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.

14. Kalau Ayah Bunda merasa anaknya “belum bisa” dibandingkan anak lain, apa yang ingin Miss sampaikan?

Ayah Bunda tidak perlu terburu-buru membandingkan proses anak dengan anak yang lain. Setiap anak memiliki ritme tumbuh dan berkembang yang berbeda. Ada yang lebih cepat dalam satu kemampuan, tetapi membutuhkan waktu lebih lama dalam kemampuan lainnya.

Ketika anak terlihat “belum bisa”, bukan berarti anak tidak mampu. Bisa jadi mereka sedang membutuhkan lebih banyak waktu, kesempatan, pengalaman, atau pendampingan untuk sampai pada tahap tersebut. Yang penting adalah kita terus mengamati prosesnya dan memberikan stimulasi yang sesuai tanpa memberikan tekanan.

Saya juga ingin mengajak Ayah Bunda untuk melihat kemajuan kecil yang sudah dicapai anak. Mungkin hari ini anak baru berani mencoba, besok mulai mau melakukannya dengan bantuan, dan suatu hari nanti mampu melakukannya sendiri. Setiap langkah tersebut adalah bagian dari proses belajar yang patut dihargai.

Jadi, jangan hanya melihat seberapa jauh anak dibandingkan dengan anak lain. Mari lihat seberapa jauh anak sudah bertumbuh dari dirinya yang kemarin.

15. Bagaimana sebaiknya Ayah Bunda melihat perkembangan anak di usia toddler agar tidak terlalu terburu-buru mengejar hasil?

Perkembangan anak usia toddler sebaiknya dilihat sebagai sebuah proses, bukan perlombaan. Di usia ini, setiap anak memiliki ritme tumbuh dan berkembang yang berbeda. Jadi, tidak perlu terburu-buru mengejar hasil hanya karena melihat anak lain sudah mampu melakukan sesuatu lebih dulu.

Ayah Bunda bisa mulai melihat perkembangan dari proses dan kemajuan kecil yang ditunjukkan anak. Misalnya, dari yang awalnya belum mau mencoba, kemudian mulai tertarik; dari yang selalu membutuhkan bantuan, perlahan mulai mencoba sendiri; atau dari yang belum mampu mengungkapkan perasaan, mulai bisa mengatakan apa yang ia rasakan.

Bagi saya, yang tidak kalah penting adalah menikmati proses membersamai anak. Berikan kesempatan untuk bermain, bereksplorasi, mencoba, gagal, dan mencoba kembali. Ketika anak merasa aman dan tidak terus-menerus dituntut untuk segera bisa, mereka memiliki ruang untuk belajar dengan lebih nyaman.

Karena tugas kita bukan mempercepat tumbuh kembang anak, tetapi menyediakan lingkungan yang aman, kesempatan yang cukup, dan pendampingan yang tepat agar mereka dapat tumbuh sesuai potensinya.

16. Informasi apa dari Ayah Bunda yang menurut Miss penting disampaikan kepada guru agar pendampingan anak di sekolah bisa lebih optimal?

Hal-hal yang berkaitan dengan kondisi, kebiasaan, kebutuhan, dan perubahan yang sedang dialami anak di rumah. Karena orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak, informasi tersebut dapat membantu guru memahami anak secara lebih utuh.

Misalnya, Ayah Bunda bisa menyampaikan ketika anak sedang kurang sehat, mengalami perubahan pola tidur atau makan, sedang menghadapi perubahan suasana hati, memiliki kebiasaan tertentu, atau sedang mengalami peristiwa yang mungkin mempengaruhi emosinya. Hal-hal sederhana seperti “hari ini anak tidur lebih larut” atau “pagi tadi anak terlihat lebih sensitif” juga bisa menjadi informasi yang berarti bagi guru.

Selain itu, ceritakan juga perkembangan atau hal-hal yang sedang anak pelajari di rumah. Dengan begitu, guru dapat menyesuaikan cara berkomunikasi, memberikan pijakan, dan mendampingi anak selama berada di sekolah.

Bagi saya, komunikasi seperti ini bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah, tetapi untuk membangun kesinambungan antara rumah dan sekolah. Semakin terbuka komunikasi Ayah Bunda dan guru, semakin baik pula kita dapat memahami kebutuhan anak.

Karena anak yang sama sedang kita dampingi dari dua tempat yang berbeda. Ketika sekolah dan rumah saling berbagi informasi dan bekerja sama, anak akan mendapatkan pendampingan yang lebih utuh dan konsisten.

galeri kegiatan Miss Dimas bersama murid

Cerita yang Tertinggal di Hati

Di balik rutinitas mendampingi anak setiap hari, selalu ada momen-momen kecil yang meninggalkan kesan. Bagi Miss Dimas, keberanian anak mencoba, berkembang sedikit demi sedikit, hingga kembali tersenyum setelah menghadapi kesulitan menjadi pengalaman yang juga mengajarkan banyak hal kepadanya.

17. Pernahkah ada momen sederhana bersama anak Old Toddler yang justru sangat membekas bagi Miss?

Tentu ada, misalnya ketika seorang anak yang awalnya masih ragu atau membutuhkan banyak bantuan, tiba-tiba berani mencoba sesuatu sendiri. Mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi Miss itu adalah sebuah pencapaian besar karena di baliknya ada proses keberanian, kepercayaan diri, dan kemandirian yang sedang tumbuh.

Ada juga momen ketika anak tiba-tiba datang menghampiri, memanggil “Miss”, mengajak bermain, atau sekadar memberikan pelukan. Hal-hal kecil seperti itu membuat saya merasa bahwa kehadiran dan pendampingan saya mulai memberikan rasa aman bagi mereka.

Yang paling membekas bagi saya adalah ketika menyadari bahwa anak mungkin lupa kegiatan apa yang pernah kita lakukan bersama, tetapi mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka saat bersama kita merasa diterima, disayangi, didengarkan, dan dipercaya.

Dari anak-anak Old Toddler, saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang apa yang berhasil kita ajarkan kepada anak, tetapi juga tentang pengalaman dan kenangan baik yang kita tinggalkan dalam proses tumbuh mereka.

Ada kalanya juga rasa sedih menghampiri. Saat tumbuh kembang mereka lagi bagus-bagusnya, eh harus pindah mengikuti orang tuanya (karena pindah bekerja atau melanjutkan sekolah). Dari momen-momen ini, saya jadi belajar bahwa sebagai orang dewasa kita memang mendidik dan mengasuh mereka untuk siap kita lepaskan jauh dari kita. Semoga apa yang sudah kami ajarkan di Bintang Juara tetap terekam dan menjadi pondasi ketika mereka berpindah ke kota atau  sekolah lain.

18. Pernahkah ada satu anak yang membuat Miss berpikir, “Wah, ternyata dia sudah berkembang sejauh ini”? Apa yang terjadi?

Tentu pernah. Salah satu momen yang cukup membekas bagi saya adalah ketika melihat anak yang pada awalnya masih sering membutuhkan bantuan dan cenderung ragu untuk mencoba, kemudian perlahan mulai berani melakukan sesuatu sendiri. Atau bahkan ada anak yang awalnya sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, lama-lama mulai mengikuti pola pembiasaan saat di sekolah dengan lebih tenang.

Awalnya mungkin hanya hal sederhana, seperti mau mengikuti kegiatan, mencoba menyelesaikan permainan, membereskan mainannya, atau meminta bantuan dengan cara yang lebih jelas. Namun, ketika suatu hari saya melihat anak tersebut mampu mencoba tanpa banyak dibantu, saya merasa, “Wah, ternyata dia sudah berkembang sejauh ini.”

Yang membuat momen itu terasa istimewa bukan hanya karena anak akhirnya “bisa”, tetapi karena saya menyadari ada begitu banyak proses kecil yang sudah ia lalui sebelumnya. Ada keberanian untuk mencoba, belajar menghadapi kesulitan, dan membangun rasa percaya diri.

19. Setelah menjalani peran sebagai Wali Kelas Old Toddler, apa yang justru Miss pelajari dari anak-anak?

Setelah menjadi Wali Kelas Old Toddler, justru banyak sekali hal yang saya pelajari dari anak-anak. Salah satunya adalah belajar menikmati proses dan tidak selalu terburu-buru mengejar hasil.

Anak-anak mengajarkan saya bahwa setiap hal kecil layak dirayakan. Ketika mereka mencoba sesuatu untuk pertama kali, gagal, lalu mencoba lagi, saya belajar tentang keberanian dan kegigihan. Ketika mereka menangis lalu kembali tersenyum dan bermain, saya belajar bahwa anak mampu menjalani emosinya dan kembali menikmati momen yang ada.

Saya juga belajar untuk lebih banyak mengamati daripada menghakimi. Di balik perilaku anak yang terkadang terlihat sulit, selalu ada kebutuhan atau proses belajar yang sedang berlangsung. Hal itu membuat saya semakin belajar untuk bersabar, memahami, dan memberikan pijakan yang sesuai.

Jadi, selama mendampingi anak-anak untuk tumbuh, ternyata saya juga sedang belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peka, dan lebih menghargai setiap proses.

Dari Wali Murid, Menjadi Guru: Sebuah Refleksi

Menjalani dua peran membuat Miss Dimas melihat tumbuh kembang anak dari sudut pandang yang berbeda. Dari sana, ia menemukan satu hal penting: anak tidak membutuhkan orang dewasa yang terburu-buru mengejar hasil, tetapi orang dewasa yang hadir, memahami, memberi kesempatan, dan percaya pada prosesnya.

20. Setelah mengalami pendidikan anak dari sisi orang tua sekaligus guru, apa yang sekarang Miss pahami tentang proses tumbuh anak yang mungkin dulu belum Miss sadari sebagai orang tua?

Setelah melihat pendidikan anak dari dua sisi—sebagai orang tua dan sebagai guru—saya semakin memahami bahwa tumbuh kembang anak tidak bisa dilihat hanya dari hasil akhirnya. Dulu sebagai orang tua, mungkin kita lebih mudah fokus pada pertanyaan, “Anak saya sudah bisa apa?” Namun setelah menjadi guru, saya belajar untuk lebih memperhatikan, “Proses apa yang sedang dilalui anak untuk sampai ke sana?”

Saya juga semakin memahami bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda. Hal yang terlihat sederhana bagi orang dewasa, seperti mau mencoba sendiri, berani berpisah dengan orang tua, mampu menyampaikan keinginan, atau mau menunggu giliran, sebenarnya merupakan pencapaian besar bagi anak.

Sebagai guru, saya juga belajar bahwa perilaku anak selalu perlu dipahami dalam konteksnya. Ketika anak menangis, menolak, atau belum mau mengikuti kegiatan, bukan berarti mereka sedang “tidak mau belajar”. Bisa jadi mereka sedang belajar mengenali emosi, beradaptasi, membangun rasa aman, atau membutuhkan waktu untuk siap.

Yang paling berubah dalam cara pandang saya adalah kesadaran bahwa anak tidak perlu terus-menerus didorong untuk cepat bisa. Mereka membutuhkan orang dewasa yang hadir, memahami, memberikan kesempatan, dan percaya pada prosesnya.

Jadi, sekarang saya melihat tumbuh kembang anak bukan sebagai perlombaan menuju sebuah pencapaian, tetapi sebagai perjalanan yang perlu dinikmati, didampingi, dan dihargai setiap langkah kecilnya.

21. Setelah semua pengalaman itu, menurut Miss, apa yang sebenarnya paling dibutuhkan anak usia toddler dari orang dewasa di sekitarnya?

Saya merasa bahwa hal yang paling dibutuhkan anak usia toddler dari orang dewasa di sekitarnya adalah rasa aman, kasih sayang, dan kepercayaan.

Anak membutuhkan orang dewasa yang hadir dan mau memahami mereka, bukan hanya ketika mereka berhasil atau berperilaku sesuai harapan. Mereka juga membutuhkan ruang untuk mencoba, bereksplorasi, melakukan kesalahan, dan belajar dari pengalaman tanpa takut langsung disalahkan atau dibandingkan.

Di usia ini, anak sedang membangun banyak hal dalam dirinya: kemandirian, rasa percaya diri, kemampuan mengelola emosi, dan pemahaman tentang lingkungan. Karena itu, mereka membutuhkan orang dewasa yang sabar memberikan waktu, konsisten memberikan batasan, dan tepat dalam memberikan pijakan.

Bagi saya, yang paling penting adalah anak merasa, “Aku aman. Aku disayangi. Aku dipercaya. Aku boleh mencoba.” Dari rasa aman itulah anak akan lebih berani mengeksplorasi dunia dan mengembangkan potensinya.

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau hadir, mau memahami, dan mau bertumbuh bersama mereka.

22. Kalau suatu hari anak-anak Old Toddler ini sudah besar dan mereka bertanya, “Dulu waktu aku kecil Miss ngajarin aku apa?”, apa yang ingin Miss mereka ingat?

Saya ingin mereka tidak hanya mengingat kegiatan atau materi yang pernah dilakukan bersama, tetapi mengingat perasaan yang mereka rasakan ketika bersama kami.

Saya ingin mereka ingat bahwa dulu mereka pernah diberi kesempatan untuk mencoba, bermain, bereksplorasi, melakukan kesalahan, dan mencoba lagi. Bahwa saya selalu percaya mereka mampu, meskipun setiap anak memiliki waktu dan cara yang berbeda untuk berkembang.

Saya juga ingin mereka mengingat hal-hal sederhana yang mungkin dulu terasa biasa: belajar merapikan mainan, menunggu giliran, berbicara dengan santun, menyayangi teman, berani mencoba sendiri, dan mengenali perasaan mereka.

Dan yang paling ingin saya tanamkan adalah bahwa mereka adalah anak-anak yang berharga, memiliki potensi, dan layak dicintai apa adanya.

Jadi, kalau suatu hari mereka bertanya, “Miss dulu ngajarin aku apa?”, saya berharap jawabannya bukan hanya, “Miss mengajarimu banyak hal,” tetapi: “Miss pernah menemanimu belajar percaya pada dirimu sendiri. Miss percaya kamu bisa, dan sejak kecil kamu sudah menjadi bintang yang punya cahaya sendiri.”

23. Miss sendiri menjalani perjalanan puluhan kilometer untuk bisa bertumbuh dan membersamai anak-anak di Bintang Juara. Kalau ada Ayah Bunda yang sebenarnya merasa cocok dengan sistem dan cara pendidikan di Bintang Juara, tetapi masih ragu karena jaraknya cukup jauh dari rumah, apa yang ingin Miss sampaikan kepada mereka?

Menurut saya, wajar jika Ayah Bunda mempertimbangkan jarak karena pendidikan anak juga perlu dipikirkan bersama dengan kenyamanan dan kondisi keluarga. Namun, jika Ayah Bunda merasa nilai, pendekatan, dan cara pendampingan di Bintang Juara sesuai dengan kebutuhan anak, mungkin yang perlu dipertimbangkan bukan hanya “seberapa jauh jaraknya?”, tetapi juga “apa yang ingin kita bangun bersama untuk tumbuh kembang anak?”

Saya sendiri merasakan bahwa perjalanan yang cukup jauh menjadi bagian dari proses belajar dan bertumbuh. Ada lelahnya, tentu saja. Tetapi ketika sampai di sekolah dan melihat anak-anak berkembang, belajar mandiri, berani mencoba, dan menunjukkan kemajuan kecil setiap hari, perjalanan itu terasa memiliki makna.

Namun, saya juga percaya bahwa setiap keluarga memiliki pertimbangan yang berbeda. Tidak harus memaksakan sesuatu hanya karena orang lain menjalaninya. Yang terpenting adalah Ayah Bunda merasa yakin bahwa pilihan yang diambil sesuai dengan kebutuhan anak dan kemampuan keluarga untuk menjalaninya secara konsisten.

Karena pendidikan bukan hanya tentang tempat anak belajar, tetapi tentang nilai, proses, dan pendampingan yang mereka terima sepanjang perjalanan tumbuhnya.

Dan kalau memang Bintang Juara terasa sesuai, jangan takut untuk datang, mengenal lebih dekat, bertanya, dan merasakan sendiri bagaimana lingkungan serta proses pembelajarannya. Kadang, keputusan menjadi lebih jelas setelah kita melihat dan mengalaminya secara langsung.

24. Kalau ada Ayah Bunda yang sedang mendampingi anak di fase toddler, apa satu hal yang ingin Miss titipkan kepada mereka?

Ayah Bunda, usia toddler adalah usia emas dimana anak memiliki banyak ide, antusias, penuh dengan dunia eksplorasi, maka Ayah Bunda jangan terburu-buru melewati fase ini hanya karena ingin anak cepat bisa, bahkan malah melewati fase emas ini dengan mengabaikannya, alih-alih “ah, biarkan saja masih anak-anak ini”.

Nikmati setiap prosesnya. Anak mungkin hari ini masih sering meminta bantuan, mudah menangis, ingin melakukan semuanya sendiri, atau belum mampu mengikuti harapan kita. Namun, di balik semua itu, mereka sedang belajar banyak hal tentang dirinya, orang lain, dan dunia di sekitarnya.

Berikan mereka waktu untuk mencoba, kesempatan untuk mandiri, dan rasa aman untuk kembali kepada Ayah Bunda ketika mereka membutuhkan bantuan. Jangan terlalu sering membandingkan proses mereka dengan anak lain, karena setiap anak memiliki waktunya sendiri untuk berkembang.

Dan yang paling penting, hadirlah dengan penuh cinta. Karena masa toddler hanya berlangsung sebentar, tetapi rasa aman, percaya diri, dan kenangan tentang bagaimana mereka didampingi akan menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam tumbuh besar.

Nikmati prosesnya, Ayah Bunda. Tidak harus menjadi orang tua yang sempurna. Cukup menjadi orang tua yang hadir, mau belajar, dan terus membersamai anak dengan penuh kasih.

Pada akhirnya, perjalanan Miss Dimas Amalia dari wali murid menjadi guru bukan hanya tentang perubahan peran, tetapi juga tentang perubahan cara memandang anak. Setiap proses kecil, keberanian mencoba, dan langkah menuju kemandirian adalah bagian penting dari perjalanan tumbuh mereka.

Seperti pesan Miss Dimas untuk Ayah Bunda, nikmati prosesnya, hadir dengan penuh cinta, dan terus bertumbuh bersama anak.*** (CM-MRT)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*