Search

Sudah Siap Masuk SD? Kenali Capaian Perkembangan Anak TK B

kenali capaian perkembangan anak TK B

Selain kehadiran Miss Meli dan Miss Nurul, kegiatan parenting TK B pada Sabtu, 26 September 2026 juga dihadiri oleh Bunda Vivi Psikolog. Dikarenakan keterbatasan waktu, Bunda Vivi tidak banyak memaparkan materi, tetapi lebih banyak menguatkan hal-hal yang telah disampaikan Miss Meli dan Miss Nurul.

Dalam closing statement yang disampaikannya, Bunda Vivi Psikolog mengajak orang tua melihat lebih dekat: sebenarnya seperti apa capaian perkembangan anak TK B yang sedang dipersiapkan menuju SD?

Sebab sebelum berbicara tentang target akademik, ada banyak kemampuan dasar yang perlu tumbuh terlebih dahulu.

Bayangkan seorang anak yang akan memasuki kelas 1 SD. Ia akan bertemu guru baru, teman baru, ruang kelas baru, aturan baru, jadwal baru, serta tuntutan untuk mengikuti aktivitas belajar yang lebih terstruktur.

Karena itu, kesiapan sekolah tidak hanya berbicara tentang apa yang anak tahu, tetapi juga tentang apa yang anak mampu lakukan dalam kesehariannya. Kesiapan belajar sebagai sesuatu yang terbentuk dari hubungan antara murid dan lingkungan belajar. Keduanya berperan dalam membangun kesiapan anak untuk belajar.

Artinya, Ayah Bunda tidak perlu memandang kesiapan sebagai sebuah “ujian” yang harus dilewati anak. Sebaliknya, kesiapan merupakan proses yang dapat dibangun bersama.

Kapan Anak Siap Masuk SD?

Dalam materi parenting, turut dibahas ketentuan usia masuk kelas 1 SD berdasarkan Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025. Secara umum, calon murid kelas 1 SD berusia 7 tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan, dengan usia paling rendah 6 tahun. Untuk kondisi tertentu, usia paling rendah dapat dikecualikan menjadi 5 tahun 6 bulan dengan persyaratan khusus. JDIH Kemendikdasmen

Namun, pembahasan tentang kesiapan anak tidak berhenti pada angka usia. Justru, di sinilah orang tua perlu mulai bertanya: “Apa yang sudah bisa dilakukan anak saya?” Bukan hanya: “Sudah bisa baca belum?”

Karena perkembangan anak memiliki banyak sisi.

Melihat Anak secara Utuh melalui Capaian Perkembangan Anak TK B

Bunda Vivi Psikolog mengajak orang tua melihat beberapa area perkembangan anak yang perlu diperhatikan. Mulai dari keagamaan dan akhlak, emosi dan sosial, fisik-motorik, bahasa dan komunikasi, hingga kognitif.  Semua aspek tersebut tidak berdiri sendiri.

Seorang anak mungkin memiliki kemampuan kognitif yang baik, tetapi masih membutuhkan dukungan dalam mengelola emosi.cAnak lain mungkin sudah mengenal banyak huruf dan angka, tetapi masih perlu dilatih untuk mengikuti instruksi bertahap.

Ada pula anak yang sudah mandiri dalam aktivitas sehari-hari, tetapi masih perlu penguatan dalam berkomunikasi dengan teman. Karena itu, setiap anak perlu dilihat sebagai pribadi yang utuh.

1. Motorik: Tubuh Juga Sedang Bersiap untuk Belajar

Sebelum anak duduk di meja belajar dan mengerjakan tugas, tubuhnya perlu memiliki kemampuan untuk mendukung aktivitas tersebut.
Dalam materi parenting, kemampuan motorik kasar yang perlu diperhatikan antara lain berjalan mengikuti garis, berdiri dengan satu kaki, naik turun tangga, berlari dengan kontrol, melempar dan menangkap bola, bersepeda, berenang, hingga melakukan skipping.

Sementara itu, pada motorik halus, anak diarahkan untuk berkembang dalam kemampuan seperti menggunakan pensil dengan pegangan yang sesuai, menggunting bentuk sederhana, melipat, serta melakukan aktivitas bantu diri seperti memakai baju, memasang kancing, risleting, dan sepatu.

Menariknya, penguatan tersebut tidak harus berupa latihan yang terasa seperti “belajar”. Berikut ini beberapa jenis kegiatan yang direkomendasikan kepada orang tua:

  • Berenang.
  • Bersepeda.
  • Badminton.
  • Melipat baju.
  • Bermain dengan tangan.

Semua dapat menjadi pengalaman yang membantu anak mengembangkan kemampuan tubuhnya. Jadi, ketika anak sedang melipat bajunya sendiri, jangan buru-buru menganggapnya sebagai aktivitas kecil yang tidak berkaitan dengan persiapan sekolah. Bisa jadi, di situlah anak sedang belajar.

2. Emosi dan Sosial: Bisa Mengelola Diri, Bukan Selalu Harus Tenang

Memasuki SD berarti anak akan semakin banyak berinteraksi dengan orang lain. Tentunya juga akan mengalami beragam situasi, seperti;

  • Ada teman yang berbeda karakter.
  • Ada aturan yang perlu diikuti.
  • Ada situasi ketika harus menunggu.
  • Ada pula saat keinginan anak tidak langsung terpenuhi.

Karena itu, kemampuan sosial dan emosional menjadi bagian penting dari kesiapan. Dalam materi Bunda Vivi, anak diharapkan berkembang dalam kemampuan mengekspresikan perasaan, menunggu giliran, berbagi, menolong, bekerja sama dengan teman sebaya, serta mengikuti kegiatan yang memiliki aturan, batasan, dan kesepakatan.

Dengan kata lain, anak tidak dituntut untuk tidak pernah marah, sedih, kecewa, atau frustrasi. Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengendalikan responsnya secara bertahap.

Inilah salah satu alasan mengapa permainan bersama teman memiliki nilai yang besar. Saat bermain, ada banyak hal yang terjadi;

  • Anak belajar menunggu.
  • Anak beelajar berbagi.
  • Anak belajar bernegosiasi.
  • Anak belajar mengikuti aturan.

Dan belajar menghadapi situasi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.

3. Kemandirian: “Aku Bisa Melakukannya Sendiri”

Ada satu kemampuan yang sering terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting ketika anak mulai memasuki lingkungan sekolah yang baru; Kemandirian.

Dalam materi parenting, anak TK B diarahkan untuk mampu melakukan kegiatan bersih diri, makan secara mandiri, terlibat dalam persiapan perlengkapan sekolah, serta membantu orang tua di rumah.

Coba bayangkan malam hari sebelum sekolah. Daripada Ayah Bunda yang selalu mengambilkan semua perlengkapan, anak dapat diajak: “Coba lihat, apa saja yang perlu dibawa untuk besok?” Lalu, anak membuka tas, mulai mengecek perlengkapan. Menyiapkan baju yang besok akan dikenakan dan merapikan buku-buku yang akan dibawa.

Tampak sederhana. Namun dari rutinitas tersebut, anak sedang belajar mengambil tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Kemandirian tidak muncul karena anak tiba-tiba besar. Ia tumbuh karena diberi kesempatan.

4. Fokus dan Perilaku: Anak Perlu Belajar “Siap Menerima”

Dalam paparan materi yang disampaikan Miss Meli dan Miss Nurul telah membahas terkait focus and attention. Bunda Vivi Psikolog hanya menegaskan bahwa capaian perkembangan anak TK B yang siap masuk SD meliputi;

  • kemampuan mempertahankan perhatian dalam rentang sekitar 10–20 menit,
  • menyimak informasi meskipun ada suara latar,
  • memusatkan perhatian pada tugas atau aktivitas bermain,
  • memahami instruksi,
  • serta mencari cara atau meminta bantuan ketika mengalami kesulitan.

Namun sekali lagi, ini bukan alasan untuk menuntut anak duduk diam berjam-jam. Justru anak membutuhkan aktivitas yang sesuai tahap perkembangannya untuk membangun kemampuan tersebut.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di ruamh bersama Ayah Bunda, antara lain: bermain puzzle, mendengarkan cerita, mengikuti permainan dengan aturan, dan menyelesaikan aktivitas sampai selesai. Semua dapat menjadi kesempatan untuk melatih perhatian dan ketekunan.

5. Bahasa: Anak Perlu Mampu Menyampaikan Apa yang Dipikirkannya

Sekolah bukan hanya tempat anak menerima informasi. Anak juga perlu mampu menyampaikan informasi. Apakah kakak shalih-shalihah sudah muncul kemampuannya untuk mengungkapkan perasaan seperti berikut;

  • “Aku tadi bermain dengan teman.”
  • “Aku tidak suka kalau mainanku diambil.”
  • “Miss, aku belum mengerti.”
  • “Boleh aku minta bantuan?”

Kemampuan berkomunikasi menjadi bekal penting bagi anak untuk belajar. Bunda Vivi menyampaikan beberapa kemampuan bahasa yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • memahami tiga instruksi,
  • memiliki artikulasi yang jelas,
  • menggunakan kalimat lengkap,
  • memahami konsep posisi, arah, ukuran, dan perbandingan,
  • menemukan persamaan dan perbedaan,
  • bertanya menggunakan konsep 5W1H,
  • serta menceritakan kembali cerita sederhana secara runtut.

Karena itu, salah satu cara sederhana mempersiapkan anak menuju SD adalah:

  • Ajak anak berbicara.
  • Tanyakan bagaimana harinya.
  • Minta ia menceritakan kembali pengalaman.
  • Dengarkan pertanyaannya.
  • Jangan selalu buru-buru memberikan jawaban.

Sebab percakapan sehari-hari merupakan ruang yang sangat kaya untuk mengembangkan bahasa.

6. Kognitif: Bukan Hafalan, tetapi Cara Anak Berpikir

Kesiapan kognitif juga menjadi bagian penting. Anak dapat mulai mengenali bentuk, ukuran, dan warna; melanjutkan pola; menyelesaikan puzzle sederhana; memahami konsep posisi; membedakan sama dan berbeda; serta mengelompokkan benda berdasarkan kategori.

Perhatikan bahwa banyak kemampuan tersebut bisa dilatih melalui aktivitas bermain. Namun saat anak bermain, pastikan Ayah Bunda aktif memberikan pemantik, seperti:

  • “Mana yang ukurannya lebih besar?”
  • “Coba kelompokkan yang warnanya sama.”
  • “Setelah merah, kira-kira apa berikutnya?”
  • “Mana yang berada di sebelah kanan?”

Melalui kalimat-kalimat pemantik tersebut, anak kemudian diajak berpikir, membandingkan, mengelompokkan dan mencari pola. Dan semua itu merupakan bagian dari proses belajar.

galeri kegiatan parenting TK B pemaparan materi bunda vivi psikolog

Literasi dan Numerasi Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya

Tentu, literasi dan numerasi tetap menjadi bagian dari perkembangan anak. Beberapa kemampuan literasi seperti menikmati cerita berima, mengenali bunyi huruf pada awal atau akhir kata, mengenali huruf dalam nama, menulis nama lengkap, menulis nama benda yang dikenal, serta membaca kata-kata sederhana yang dikenal, perlu dikuasai anak sebelum masuk SD.

Sementara pada numerasi, anak diarahkan untuk berkembang dalam kemampuan membilang, mengenal angka dan jumlah benda, memahami konsep waktu sederhana, mengenali konsep besar-kecil dan banyak-sedikit, serta memahami instruksi seperti menggabungkan, memisahkan, mengelompokkan, mengganti, dan menukar.

Namun, yang penting adalah bagaimana kemampuan tersebut dibangun sesuai tahap perkembangan anak. Bukan dengan membuat masa TK terasa seperti kelas SD yang dipercepat.

Caranya bagaimana?

Tidak dengan cara yang rumit kok, Ayah Bunda. Pendampingan dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Ajak anak menyiapkan tas sekolah.
  • Biarkan anak mencoba memakai sepatu.
  • Libatkan anak merapikan pakaian.
  • Ajak bermain permainan sederhana.
  • Beri kesempatan anak menyelesaikan puzzle.
  • Bacakan cerita.
  • Tanyakan kembali isi cerita.
  • Ajak anak membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuannya.
  • Berikan kesempatan untuk memilih.
  • Latih anak menyampaikan perasaan.

Dan ketika anak mengalami kesulitan, jangan langsung mengambil alih. Berikan waktu untuk mencoba. Karena tujuan akhirnya bukan sekadar anak mampu mengerjakan tugas, tetapi anak memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih mandiri dan bermakna.

Sekolah dan Rumah: Dua Lingkungan yang Saling Menguatkan Capaian Perkembangan Anak TK B

Pada akhirnya, mempersiapkan anak menuju SD bukan pekerjaan satu pihak. Sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Orang tua juga tidak perlu merasa harus mengerjakan semuanya sendiri.

Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten. Ketika sekolah melatih kemandirian, rumah dapat memberikan kesempatan yang sama. Ketika sekolah membangun kemampuan mengikuti aturan, rumah dapat meneruskannya melalui rutinitas sederhana. Ketika sekolah mengajak anak berkomunikasi dan bekerja sama, rumah dapat menjadi tempat anak berlatih menyampaikan pikiran dan perasaannya.
Sekolah dan rumah berjalan bersama.

Bukan untuk membuat anak menjadi “sempurna” sebelum masuk SD. Tetapi untuk memberikan bekal agar anak semakin siap menghadapi pengalaman belajar berikutnya.

  • Ketika melihat anak belum bisa melakukan sesuatu, pertanyaannya bukan lagi: “Kok belum bisa?” Tetapi: “Apa yang sedang perlu dikuatkan?”
  • Ketika anak sulit fokus: “Bagaimana kita membantu kemampuan perhatiannya?”
  • Ketika anak sulit mengungkapkan perasaan: “Bagaimana kita membantu kemampuan regulasi emosinya?”
  • Ketika anak belum mandiri: “Kesempatan apa yang bisa kita berikan agar ia mencoba sendiri?”
  • Dan ketika anak menghadapi kesulitan belajar: “Dukungan seperti apa yang paling sesuai untuk kebutuhannya?”

Inilah semangat penting dalam mempersiapkan anak menuju jenjang Sekolah Dasar. Bukan mengejar anak agar cepat menjadi “anak SD”. Tetapi memastikan fondasi perkembangannya terus bertumbuh.

Karena setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda. Dan tugas orang dewasa bukan mempercepat perjalanan itu, melainkan menemani, menguatkan, dan menyediakan lingkungan yang membantu anak berkembang sebaik mungkin.

Semoga Allah memberikan kekuatan, kecerdasan, dan keberkahan dalam setiap detik Ayah Bunda mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Pesan tersebut menjadi penutup materi parenting Bunda Vivi Psikolog yang hangat dan menguatkan.*** (CM-MRT)

Sumber:

  • Materi Parenting Class TK Islam Bintang Juara, “Mempersiapkan Anak Menuju Jenjang SD”, Bunda Vivi Psikolog, 26 September 2026.
  • Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*