“Anak saya sudah siap masuk SD belum, ya?”
Pertanyaan itu mungkin mulai muncul di benak banyak Ayah Bunda ketika anak memasuki kelompok TK B.
Seragam mulai terasa semakin besar maknanya. Anak mulai sering ditanya, “Nanti kalau SD sekolah di mana?”
Buku-buku mulai lebih sering muncul di rumah. Latihan menulis mulai dilakukan. Orang tua mulai memperhatikan kemampuan mengenal huruf, angka, membaca, atau mengikuti instruksi.
Di tengah persiapan tersebut, ada satu pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih penting:
Apakah anak sudah siap belajar di lingkungan sekolah dasar?
Kesiapan sekolah bukan hanya tentang apakah anak sudah bisa membaca atau menulis. Ada banyak kemampuan yang saling berkaitan dan perlu dibangun secara bertahap.
Hal inilah yang menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Parenting Wali Murid TK B PAUD Islam Bintang Juara yang dilaksanakan pada Sabtu, 26 September 2026 di PAUD Islam Bintang Juara.
Kegiatan parenting menghadirkan Bunda Vivi Psikolog, Miss Meli selaku Kepala KB–TK Islam Bintang Juara, serta Miss Nurul sebagai Indonesian Dyslexia Specialist Teacher.
Pada sesi pertama, Miss Meli dan Miss Nurul mengajak orang tua melihat kembali makna “Siap vs Terpaksa Sekolah” dan apa saja yang sebenarnya perlu dipersiapkan sebelum anak memasuki jenjang sekolah dasar. Pada kegiatan parenting tersebut, Miss Meli juga memperkenalkan Piramida Perkembangan sebagai gambaran bahwa kemampuan akademik berada di atas berbagai fondasi perkembangan yang dibangun sejak awal.
Daftar Isi
Siap Sekolah Bukan Berarti Harus Bisa Semuanya
Ada anggapan bahwa anak yang siap masuk SD adalah anak yang sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung.
Kemampuan tersebut memang menjadi bagian dari proses belajar. Namun, kesiapan belajar jauh lebih luas.
Dalam materi yang disampaikan Miss Meli, fondasi perkembangan digambarkan secara bertingkat. Di dalamnya terdapat sistem sensorik dan refleks, kemampuan motorik, sensory processing, kemampuan komunikasi, life management dan sosialisasi, perhatian serta fokus, hingga akhirnya kemampuan fungsi eksekutif dan performa akademik.
Gambaran tersebut membantu orang tua memahami satu hal:
Kemampuan akademik tidak berdiri sendiri.
Anak membutuhkan tubuh yang siap bergerak, kemampuan memproses informasi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengelola diri, serta kemampuan mempertahankan perhatian sebelum dapat mengikuti tuntutan belajar yang semakin kompleks.
Karena itu, mempersiapkan anak menuju SD bukan berarti mempercepat semua kemampuan akademiknya. Yang perlu dilakukan adalah membangun fondasinya.
Apa Saja Tahapan Kesiapan Anak Menuju SD yang Perlu Dibekalkan pada Anak TK B?
Miss Meli pada kesempatan tersebut memaparkan beberapa capaian perkembangan anak TK B yang masih perlu dioptimalkan.
Di antaranya kemampuan mempraktikkan gerakan wudu secara berurutan dan mengikuti salat dengan tenang, mengelola emosi ketika merasa tidak nyaman, bekerja sama, mempertahankan keseimbangan dan koordinasi tubuh, menjaga posisi duduk, mempertahankan fokus, memahami informasi dan instruksi bertingkat, mengembangkan kemampuan bahasa, menceritakan pengalaman secara berurutan, hingga mengenali hubungan antara bunyi dan simbol huruf.
Kemampuan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun, coba bayangkan ketika anak nantinya duduk di kelas 1 SD;
- Guru memberikan instruksi yang terdiri dari beberapa tahapan.
- Anak perlu mendengarkan.
- Kemudian mengingat instruksi tersebut.
- Lalu mengerjakannya.
- Jika ada bagian yang belum dipahami, anak perlu bertanya.
- Ketika mengalami kesulitan, anak perlu mencoba kembali.
- Ketika harus menunggu giliran, anak perlu mengendalikan diri.
- Ketika pekerjaan belum selesai, anak perlu bertahan dan menyelesaikannya.
Di sinilah kesiapan sekolah menjadi jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan akademik.
Fokus: Anak Perlu Bisa “Hadir” dalam Proses Belajar
Salah satu kemampuan penting yang dibahas dalam materi adalah attention and focus atau perhatian dan fokus.
Anak yang memasuki SD akan menghadapi kegiatan yang semakin membutuhkan kemampuan menyimak, mengikuti instruksi, dan menyelesaikan tugas.
Namun, kemampuan fokus bukan sesuatu yang muncul begitu saja.
Ia berkembang melalui latihan dan pengalaman.
Miss Meli memberikan beberapa contoh situasi yang dapat menjadi perhatian orang tua, seperti anak kesulitan mengingat instruksi dua atau tiga langkah, mudah teralihkan ketika ada suara atau gangguan, sulit fokus ketika membaca atau menggambar, sering lupa meletakkan barang, atau membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan tugas.
Catatan pentingnya bukan untuk membuat orang tua buru-buru memberi label kepada anak. Sebaliknya, contoh tersebut dapat menjadi bahan pengamatan.
Jika anak mengalami kesulitan, orang tua dan guru dapat melihat:
- Apa yang sebenarnya membuat anak kesulitan?
- Apakah instruksinya terlalu panjang?
- Apakah lingkungan terlalu banyak distraksi?
- Apakah anak sedang lelah?
- Apakah ia belum memahami tugas?
- Atau ada kemampuan dasar tertentu yang masih membutuhkan stimulasi?
Pendekatan seperti ini membantu orang tua melihat kebutuhan anak secara lebih utuh.
Regulasi Emosi Juga Bagian dari Kesiapan Sekolah
Bayangkan seorang anak sudah mengenal banyak huruf. Namun ketika menghadapi kesulitan, ia langsung menyerah. Atau ketika harus berganti kegiatan, ia sangat sulit beradaptasi. Atau ketika keinginannya tidak terpenuhi, ia kesulitan mengendalikan respons emosinya.
Maka, kemampuan akademik saja belum cukup.
Materi parenting TK B juga membahas masalah pengendalian sikap dan emosi, termasuk berbagai situasi yang berkaitan dengan kemampuan mengatur respons, toleransi terhadap ketidaknyamanan, interaksi sosial, serta kemampuan menunggu dan mengikuti aturan.
Dalam perkembangan anak, kemampuan mengatur diri memang berkaitan erat dengan proses belajar. NAEYC menjelaskan bahwa keterampilan self-regulation membantu anak tetap tenang, fokus, dan bertindak dengan tujuan, termasuk dalam situasi yang menantang. Keterampilan fungsi eksekutif seperti inhibitory control, working memory, dan cognitive flexibility berkembang secara bertahap dan membutuhkan latihan serta dukungan orang dewasa.
Artinya, ketika anak belajar menunggu giliran, mengikuti aturan permainan, menyelesaikan aktivitas, atau mengelola rasa kecewa, sebenarnya ia sedang membangun bekal yang penting untuk perjalanan belajarnya.
Bahasa: Bukan Sekadar Bisa Bicara
Kesiapan menuju SD juga membutuhkan kemampuan komunikasi. Anak perlu mampu memahami bahasa yang disampaikan kepadanya sekaligus mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan.
Miss Meli dan Miss Nurul membahas beberapa kondisi yang dapat diamati, seperti anak kesulitan mengikuti instruksi lisan, kesulitan membedakan bunyi tertentu, memiliki kosakata yang terbatas dibandingkan teman sebaya, kesulitan mengingat kata, atau mengalami hambatan dalam menyampaikan gagasan.
Karena itu, percakapan sehari-hari di rumah memiliki peran penting.
Ayah Bunda dapat mengajak anak bercerita: “Hari ini di sekolah bermain apa?”
Bukan hanya berhenti pada jawaban “main”.
Lanjutkan dengan pertanyaan:
- “Terus bagaimana?”
- “Siapa yang bermain bersama?”
- “Apa yang paling kamu suka?”
- “Kalau besok bermain lagi, kamu ingin melakukan apa?”
Percakapan sederhana seperti ini memberi kesempatan anak menyusun pengalaman, mengingat urutan kejadian, memilih kata, dan menyampaikan gagasan.
Bagaimana dengan membaca?
Salah satu bagian materi Miss Nurul membahas reading comprehension atau pemahaman membaca.
Materi tersebut menekankan bahwa membaca merupakan gerbang menuju pengetahuan dan bahwa kemampuan membaca tidak lahir secara alami, tetapi perlu diajarkan. Materi juga memperkenalkan tahapan perkembangan membaca, mulai dari pre-alphabetic, partial alphabetic, full alphabetic, hingga consolidated alphabetic.
Menariknya, materi juga memperlihatkan konsep The Simple View of Reading, yaitu kemampuan membaca yang dipandang sebagai hasil interaksi antara decoding dan language comprehension.
Maka, membangun kesiapan literasi anak bukan hanya soal meminta anak menghafalkan huruf. Anak juga perlu memiliki pengalaman bahasa yang kaya;
- Mendengarkan cerita.
- Berbicara.
- Menjawab pertanyaan.
- Menceritakan kembali.
- Mengenal bunyi.
- Memperhatikan simbol.
- Memahami makna.
Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju kemampuan membaca.

Bagaimana Kalau Anak Mengalami Kesulitan Membaca?
Di sinilah pembahasan tentang disleksia menjadi penting.
Sebagai Indonesian Dyslexia Specialist Teacher, Miss Nurul memperkenalkan kepada orang tua mengenai disleksia dan beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Dalam materi yang disampaikan Miss Nurul, disleksia dijelaskan sebagai kesulitan belajar spesifik yang memengaruhi ketepatan dan kelancaran membaca serta kemampuan decoding dan mengeja. Materi juga mengacu pada definisi International Dyslexia Association 2025 yang menggambarkan disleksia sebagai gangguan belajar spesifik dengan karakteristik kesulitan membaca kata secara akurat dan/atau cepat, dengan penyebab yang kompleks.
Miss Nurul kemudian memperkenalkan sejumlah tanda yang dapat diamati pada usia prasekolah, seperti kesulitan dalam perkembangan bahasa, mudah lupa, kesulitan membedakan kata dengan bunyi yang mirip, lambat merespons tugas, kesulitan koordinasi atau motorik halus, serta adanya riwayat keluarga dengan disleksia atau kesulitan bahasa.
Namun, satu hal penting perlu digarisbawahi:
Satu tanda saja tidak otomatis berarti anak mengalami disleksia.
Karena itu, pengamatan perkembangan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan, bila ada kekhawatiran yang menetap, dibicarakan dengan tenaga profesional yang sesuai.
Tujuannya bukan memberi label. Tujuannya adalah memahami kebutuhan anak sedini mungkin agar dukungan yang diberikan tepat. Miss Nurul juga menekankan pentingnya identifikasi dan intervensi dini dalam mendukung anak yang mengalami kesulitan literasi.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Ayah Bunda?
Setelah memahami berbagai fondasi tersebut, pertanyaan berikutnya tentu: “Kalau begitu, apa yang bisa kami lakukan di rumah?”
Jawabannya tidak harus berupa les tambahan setiap hari. Justru, banyak kemampuan dapat dilatih melalui aktivitas sederhana:
- Untuk fokus, orang tua dapat mengajak anak bermain permainan yang membutuhkan perhatian dan mengikuti instruksi.
- Untuk koordinasi, anak dapat melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh, tangan, dan mata.
- Untuk bahasa, ajak anak berbicara dan bercerita.
- Untuk kemampuan membaca, bacakan buku dan ajak anak mendiskusikan cerita.
- Untuk fungsi eksekutif, berikan kesempatan kepada anak untuk mengingat urutan kegiatan, memilih, merencanakan, dan menyelesaikan tugas sederhana.
Miss Nurul juga memberikan contoh stimulasi untuk berbagai kebutuhan. Untuk masalah fokus, misalnya, terdapat aktivitas seperti ayunan, berguling, latihan keseimbangan, aktivitas mendorong benda berat, permainan sensorik halus, serta kegiatan yang melibatkan postur dan kontrol tubuh.
Untuk stimulasi bicara, materi memberikan contoh aktivitas seperti bermain gunting sambil mengikuti objek, meniup gelembung atau peluit, aktivitas koordinasi bilateral, permainan auditori, dan puzzle huruf.
Sementara untuk mendukung kesiapan menulis, terdapat contoh seperti cross crawl, merangkak, aktivitas animal walk, permainan bola, wheelbarrow walk, aktivitas merayap, bermain plastisin, menjepit jemuran, tracing, serta permainan yang mendukung koordinasi visual-motor.
Dengan demikian, persiapan menuju SD dapat berlangsung melalui aktivitas yang menyenangkan dan dekat dengan keseharian anak.
Kesiapan Anak Menuju SD Dibangun Bersama
Menjelang akhir masa TK B, mungkin ada keinginan agar anak segera “siap” menghadapi SD. Namun, kesiapan tidak dibangun dalam satu malam.
Ia tumbuh dari pengalaman sehari-hari;
- Dari anak yang belajar menunggu giliran.
- Dari anak yang mencoba menyelesaikan tugas meski tidak langsung berhasil.
- Dari anak yang belajar mendengarkan.
- Dari anak yang berani bertanya.
- Dari anak yang belajar mengungkapkan perasaan.
- Dari anak yang berlatih mengurus dirinya.
- Dari anak yang diberi kesempatan mencoba.
- Dan dari orang tua yang bersedia mendampingi proses tersebut.
Karena itu, persiapan menuju sekolah dasar bukan perlombaan untuk membuat anak menjadi “paling bisa”. Yang lebih penting adalah memastikan fondasi perkembangan anak terus dikuatkan.
NAEYC juga menempatkan keterampilan sosial-emosional, fungsi eksekutif, matematika, dan literasi sebagai bagian penting dari persiapan anak menuju sekolah. Pendekatan yang sesuai perkembangan memberi anak kesempatan belajar melalui pengalaman yang bermakna dan sesuai tahap usianya.
Dari “Siap Sekolah” Menjadi “Siap Belajar”
Pada akhirnya, mungkin kita perlu mengubah sedikit pertanyaannya.
Bukan hanya: “Apakah anak saya sudah siap masuk SD?” Tetapi: “Apakah anak saya sudah memiliki fondasi untuk terus belajar?”
Sebab ketika anak memiliki kemampuan untuk mendengarkan, berkomunikasi, mengelola diri, beradaptasi, memecahkan masalah, mempertahankan perhatian, dan mencoba kembali ketika mengalami kesulitan, ia membawa bekal yang jauh lebih luas untuk menghadapi pengalaman belajar berikutnya.
Di PAUD Islam Bintang Juara, persiapan menuju jenjang berikutnya menjadi bagian dari proses pendampingan perkembangan anak secara bertahap.
Melalui kerja sama antara sekolah dan keluarga, orang tua dapat memahami apa yang sedang berkembang, apa yang masih membutuhkan stimulasi, serta bagaimana memberikan pengalaman yang tepat di rumah.
Karena anak tidak perlu dipaksa menjadi siap. Anak perlu didampingi agar bertumbuh menuju kesiapan. Dan setiap proses itu layak dihargai.
Sebab setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda. Setiap anak memiliki kekuatan yang berbeda. Dan setiap anak membutuhkan kesempatan untuk tumbuh dengan cara yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dari TK B menuju SD, bukan sekadar berpindah jenjang. Ini adalah perjalanan membangun fondasi agar anak semakin siap belajar, beradaptasi, bersosialisasi, dan menjadi pribadi yang mandiri. Setiap anak adalah Bintang dan berhak menjadi Juara. ⭐*** (CM-MRT)




