Siang itu, Sabtu, 25 April 2026, suasana di PAUD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Waktu yang biasanya identik dengan istirahat, justru dipenuhi oleh langkah-langkah penuh semangat dari para orang tua Kelompok Bermain (KB).
Mereka datang bukan tanpa alasan. Hari itu, mereka memilih untuk “berhenti sejenak” dari rutinitas, demi satu hal yang jauh lebih penting: belajar menjadi orang tua yang lebih baik.
Kegiatan parenting dengan tema “Kenali Perkembangan Emosi Anak, dan Tata Kelola Emosi Orang Tua” pun dimulai.
Hadir sebagai narasumber adalah Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang akrab disapa Bunda Vivi Psikolog—sosok yang sudah tidak asing dalam membersamai perjalanan belajar para guru maupun orang tua di lingkungan sekolah.
Beliau adalah ketua Yayasan Dewi Sartika yang menaungi PAUD dan SD Islam Bintang Juara, Psikolog di Biro Psikologi Qualifa, serta dosen Psikologi PJJ UICI (Universitas Insan Cita Indonesia).
Daftar Isi
Ketika Orang Tua Mau Belajar Rahasia Anak Tenang
Ruang parenting siang itu terasa hangat. Bukan hanya karena interaksi yang terjalin, tetapi karena ada satu kesamaan di antara semua yang hadir: keinginan untuk bertumbuh.
Di tengah kesibukan, mereka memilih hadir. Di tengah lelah, mereka memilih belajar. Ini adalah langkah awal yang sangat berarti.
Karena dalam proses pengasuhan, orang tua yang mau belajar adalah kunci utama tumbuhnya anak yang sehat secara emosi.
Mengawali dengan Kesadaran
Bunda Vivi Psikolog tidak langsung membahas teori. Ia mengajak orang tua kembali pada hal yang paling mendasar: kesadaran. Apa itu orang tua berkesadaran?
Orang tua yang:
- memahami perannya sebagai amanah dari Allah
- bersyukur atas kehadiran anak
- dan menjalani pengasuhan dengan penuh tujuan
“Kalau kita tahu tujuan kita, maka jalan kita akan lebih terarah,” ungkap Bunda Vivi Psikolog.
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam.
Karena seringkali, dalam keseharian, orang tua terjebak pada rutinitas tanpa sempat kembali mengingat tujuan besar dalam mengasuh anak.
Fokus: Hadir Sepenuhnya untuk Anak
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah tentang fokus. Fokus bukan hanya soal waktu, tetapi soal kehadiran utuh.
Seringkali, orang tua merasa sudah “bersama anak”, tetapi:
- sambil memegang HP
- sambil menonton TV
- sambil mengerjakan pekerjaan lain
Padahal, anak membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran fisik. Anak membutuhkan perhatian. Anak membutuhkan koneksi.
Orang tua berkesadaran adalah mereka yang mampu:
- mendengarkan anak dengan penuh perhatian
- bermain bersama tanpa distraksi
- dan benar-benar hadir di momen tersebut
Memahami Emosi Anak Dimulai dari Diri Sendiri
Materi kemudian masuk pada inti pembahasan: perkembangan emosi anak. Bunda Vivi Psikolog menjelaskan bahwa emosi anak tidak bisa dilepaskan dari bagaimana orang tua mengelolanya.
Ada satu kalimat yang begitu mengena:
“Jika ingin memvalidasi perasaan anak, maka orang tua harus bisa memvalidasi perasaannya sendiri terlebih dahulu.”
Artinya, sebelum berkata: “Tidak apa-apa ya, kamu sedih,” orang tua perlu terlebih dahulu memahami perasaan dirinya sendiri.
- Apakah kita sedang lelah?
- Apakah kita sedang marah?
- Apakah kita sedang tidak sabar?
Kesadaran ini menjadi pintu awal dalam membangun hubungan emosional yang sehat dengan anak.
Regulasi Emosi: Belajar Bersama Anak
Hal lain yang tidak kalah penting adalah regulasi emosi.
Seringkali, orang tua berharap anak bisa:
- sabar
- tidak mudah marah
- bisa mengendalikan diri
Namun tanpa disadari, orang tua sendiri masih belajar dalam hal tersebut.
Bunda Vivi Psikolog mengingatkan bahwa:
anak belajar bukan dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang kita lakukan.
Jika orang tua mampu:
- menenangkan diri saat marah
- berbicara dengan lembut
- mengelola stres dengan baik
maka anak akan meniru hal yang sama.
Materi yang Konsisten dan Terintegrasi
Menariknya, materi yang disampaikan dalam parenting ini sejalan dengan yang sebelumnya diberikan kepada para guru melalui kegiatan Kombel Telaga Ilmu.
Bahkan, materi serupa juga telah disampaikan pada kegiatan parenting kelas 1 pada tanggal 18 April.
Ini menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan di PAUD & SD Islam Bintang Juara dilakukan secara terintegrasi. Guru dan orang tua mendapatkan pemahaman yang sama.
Sehingga, anak mendapatkan lingkungan yang konsisten—baik di rumah maupun di sekolah.
Diskusi yang Menghidupkan Suasana
Selama sesi berlangsung, suasana tidak hanya satu arah. Para orang tua aktif bertanya, berbagi pengalaman, bahkan menceritakan tantangan yang mereka hadapi di rumah.
Dari sini, muncul banyak insight baru. Karena setiap keluarga memiliki cerita. Dan dari setiap cerita, selalu ada pembelajaran.
Peran Orang Tua dalam Perkembangan Emosi Anak
Kegiatan ini kembali menegaskan bahwa orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan emosi anak.
Beberapa peran penting tersebut antara lain:
- Sebagai Role Model : Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.
- Sebagai Pembimbing Emosi : Orang tua membantu anak mengenali dan memahami perasaannya.
- Sebagai Pendengar yang Baik : Memberi ruang bagi anak untuk bercerita tanpa dihakimi.
- Sebagai Sumber Rasa Aman : Anak merasa diterima dan dicintai apa adanya.
Dari Kesadaran, Tumbuh Ketenangan
Kegiatan parenting siang itu ditutup dengan suasana yang penuh refleksi. Tidak ada perubahan instan. Namun ada satu hal yang mulai tumbuh: kesadaran.
Kesadaran untuk:
- lebih hadir bersama anak
- lebih memahami emosi diri sendiri
- dan lebih bijak dalam merespons anak
Karena pada akhirnya, anak yang tenang tidak lahir dari lingkungan yang sempurna. Tetapi dari orang tua yang terus belajar.
Bertumbuh Bersama, Bukan Sendiri
Pengasuhan bukan perjalanan yang mudah. Namun kabar baiknya, orang tua tidak harus berjalan sendiri.
Melalui kegiatan seperti ini, PAUD Islam Bintang Juara terus membuka ruang bagi orang tua untuk belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Karena tumbuh kembang anak tidak hanya tentang anaknya saja. Tetapi juga tentang orang tuanya yang ikut berproses.
Dan dari proses itulah, lahir keluarga yang lebih hangat, lebih sadar, dan lebih kuat dalam menghadapi setiap fase kehidupan.*** (CM-MRT)




