Search

Guru Bercerita: Mengenal Miss Tia Menemani Anak Tumbuh, dari Keseharian hingga Eksplorasi

guru bercerita mengenal miss tia

Mendampingi anak usia dini berarti bersedia melihat setiap proses kecil sebagai bagian penting dari perjalanan tumbuh mereka. Dari belajar melakukan sesuatu secara mandiri, berani berkomunikasi, mengelola emosi, hingga menemukan sesuatu melalui permainan sederhana, setiap pengalaman memiliki makna.

Hal inilah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perjalanan Miss Nurul Setiariksa, AMG, S.Pd. (Miss Tia), yang telah membersamai anak-anak Bintang Juara dalam berbagai peran, mulai dari guru pendamping baby, guru kelas toddler dan KB, wali kelas TK A dan TK B, Guru Sentra Bahan Alam, hingga kini sebagai Koordinator Daycare KB dan TK. Berbagai pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa setiap kelompok usia memiliki kebutuhan yang berbeda, dan setiap anak perlu dikenali secara utuh agar dapat tumbuh sesuai potensinya.

Daftar Isi

Kenal Lebih Dekat dengan Miss Tia Yuk!

Perjalanan Miss Tia bersama PAUD Islam Bintang Juara tidak bisa dibilang sebentar. Pada episode Guru Bercerita kali ini, MinBin akan mengajak ayah bunda berkenalan lebih dekat dengan Miss Tia, dari awal bergabung hingga kini bertumbuh bersama sekolah ini.

1. Bisa diceritakan perjalanan Miss hingga mendapat amanah sebagai Koordinator Daycare, Wali Kelas TK B, sekaligus Guru Sentra Bahan Alam?

Awal mula bergabung di PAUD Islam Bintang Juara pada 2014, saya mendapat amanah sebagai asisten guru baby kecil (kalau sekarang sebutannya guru pendamping baby), dengan wali Miss Fitri. Kemudian, 2015 – 2017 mendapat amanah baru menjadi guru baby besar (sekarang sebutannya guru kelas young toddler).

Selanjutnya, 2017/2018 pertama kalinya ada kelas toddler, menjadi guru wali toddler (kalau sekarang sebutannya old toddler). Tahun 2018/2019 mendapat amanah menjadi wali KB dan guru sentra bahan alam 2 (hanya bermain dengan KB).

Tahun 2019/2020 mendapat amanah menjadi wali TK A dan guru sentra bahan alam 1 (bermain dengan semua kelompok, KB, TK A dan TK B). Tahun 2020/2021 pertama kalinya mendapat amanah menjadi wali TK B. Tahun 2021/2022 kembali diamanahi menjadi wali TK A.

Selanjutnya, 2022/2023 hingga 2026/2027 mendapat amanah menjadi wali TK B dan guru sentra bahan alam (saat ini sentra bahan alam hanya 1). Sempat ditambah amanah menjadi kepala unit KB 2 tahun, lalu kepala unit TK 3 tahun. Hingga kemudian, saat ini mendapat tambahan amanah sebagai koordinator daycare KB dan TK

2. Dari ketiga peran tersebut, apa yang paling banyak Miss pelajari tentang anak?

Setiap kelompok usia memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, dan kita sebagai orang tua di sekolah haruslah mengenal anak secara utuh. Mengenal maksudnya paham kebutuhan dan perkembangan masing-masing anak. Bagaimana karakter masing-masing anak saat belajar, mengekspresikan emosi, berinteraksi sosial, berkomunikasi, sejauh mana kemandiriannya serta potensi yang bisa dioptimalkan anak.

3. Apa yang membuat Miss memilih untuk terus mendampingi anak usia dini?

Sebenarnya ada banyak alasan kenapa memilih tetap mendampingi anak-anak. Saya senang melihat perubahan kecil dalam diri anak. Mulai dari yang awalnya butuh bantuan sekarang menjadi lebih mandiri. Dari belum percaya diri, belum lancar berbicara sekarang menjadi berani dan komunikatif.

Bahkan seiring berjalannya waktu, sekarang anak-anak justru memiliki tantangan untuk bergantian berbicara, hehe…😅. Menjadi bagian dari perubahan positif mereka merupakan kebahagiaan tersendiri untuk saya.

Selain itu saya merasa bukan hanya mereka yang sedang belajar, tapi saya pun ikut belajar, belajar memahami karakter anak, belajar bersabar, dan terus mengembangkan cara mendidik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Ada sebuah hadis yang menguatkan saya untuk memilih terus mendampingi anak usia dini;

“Jika telah meninggal anak Adam, maka telah putus amalannya kecuali tiga perkara, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Dan ketiga amalan ini InsyaAllah saya dapatkan dengan mendampingi anak-anak di PAUD.

Sudut Pandang Miss Tia tentang Daycare: Pengasuhan dan Rasa Aman

Pada tahun pelajaran 2026/2027, Miss Tia mendapat amanah baru sebagai Koordinator Daycare KB & TK. Yuk, kulik lebih dalam bagaimana sudut pandang beliau mengenai peran barunya ini.

4. Menurut Miss, apa yang paling dibutuhkan anak ketika menghabiskan sebagian waktunya di daycare?

Menurut saya, yang paling dibutuhkan anak ketika menghabiskan sebagian waktunya di daycare adalah rasa aman, nyaman, dan kasih sayang. Anak perlu merasa bahwa daycare adalah tempat yang aman seperti rumah kedua, di mana mereka diterima, didengarkan, dan diperhatikan.

Selain itu, anak membutuhkan pendampingan yang konsisten, kesempatan bermain dan bereksplorasi, rutinitas yang teratur, serta interaksi positif dengan guru dan teman. Mereka juga perlu mendapat kesempatan untuk belajar mandiri sesuai usianya, tanpa terlalu banyak tuntutan.

Yang tidak kalah penting adalah pemenuhan kebutuhan dasar anak, seperti makan, tidur, kebersihan, kesehatan, dan waktu istirahat yang cukup. Dengan terpenuhinya kebutuhan tersebut, anak akan lebih nyaman, percaya diri, dan siap untuk belajar serta berkembang secara optimal.

5. Bagaimana daycare memastikan anak tetap merasa aman, nyaman, dan dekat dengan orang dewasa yang mendampinginya?

Daycare dapat memastikan anak tetap merasa aman, nyaman, dan dekat dengan orang dewasa melalui kepercayaan (trust), hubungan yang hangat, konsisten, dan responsif. Mulai dari cara guru menyambut anak dengan ramah, mengenali kebiasaan dan kebutuhan setiap anak, serta memberikan perhatian ketika anak membutuhkan bantuan atau sedang merasa tidak nyaman.

Daycare juga perlu membuat jadwal (aktivitas harian yang teratur) dan lingkungan yang aman, sehingga anak mengetahui apa yang akan dilakukan dan merasa lebih tenang. Anak juga mendapatkan kesempatan untuk bermain, bereksplorasi, dan melakukan kegiatan sesuai minatnya dengan tetap mendapatkan pendampingan.

Yang paling penting adalah kehadiran orang dewasa yang dapat dipercaya. Guru tidak hanya menjaga dan memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga menjadi tempat anak mencari kenyamanan, bercerita, meminta bantuan, dan mendapatkan dukungan emosional. Dengan begitu, anak dapat membangun rasa percaya dan merasa bahwa dirinya dikenal, diterima, disayangi, dan aman selama berada di daycare.

6. Bagaimana sekolah menjaga keseimbangan antara kebutuhan pengasuhan, bermain, belajar, makan, istirahat, dan aktivitas anak?

Sekolah menjaga keseimbangan kebutuhan anak dengan menyusun jadwal harian yang teratur dan sesuai dengan usia serta kebutuhan masing-masing anak. Pengasuhan, bermain, belajar, makan siang dan makan snack, istirahat, dan aktivitas lainnya diberikan secara proporsional agar anak tetap merasa aman, nyaman, dan tidak terbebani.

7. Apa yang perlu dipahami Ayah Bunda bahwa daycare bukan sekadar tempat “menitipkan anak”?

Yang perlu dipahami Ayah Bunda adalah bahwa daycare bukan sekadar tempat menitipkan anak selama orang tua bekerja, tetapi merupakan lingkungan pengasuhan, pendidikan, dan juga tumbuh kembang anak. Daycare adalah partner Ayah Bunda dalam pengasuhan, bukan pengganti peran orang tua.

Di daycare, anak mendapatkan:

  • Rasa aman dan kasih sayang, melalui pendampingan yang hangat dan responsif.
  • Kesempatan bermain dan bereksplorasi, karena bermain adalah bagian penting dari proses belajar anak.
  • Stimulasi perkembangan, sesuai usia dan kebutuhan anak, meliputi aspek bahasa, kognitif, fisik-motorik, sosial-emosional, serta kemandirian.
  • Pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makan, minum, kebersihan, kesehatan, dan istirahat.
  • Kesempatan bersosialisasi, belajar berbagi, berkomunikasi, mengikuti aturan, dan membangun hubungan dengan teman maupun guru.
  • Pendampingan menuju kemandirian, sehingga anak belajar melakukan berbagai hal sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya

8. Bagaimana komunikasi antara guru/daycare dengan orang tua dijaga agar kebutuhan anak dapat dipahami bersama?

Komunikasi antara guru/daycare dan orang tua dijaga melalui komunikasi yang terbuka, rutin, dan saling menghargai. Tujuannya agar informasi tentang kondisi, kebiasaan, kebutuhan, serta perkembangan anak dapat dipahami bersama.
Beberapa hal yang dapat dilakukan:

  • Komunikasi harian saat anak datang dan pulang, untuk menyampaikan kondisi atau kejadian penting. Misal, anak demam, muntah, dan sebagainya.
  • Laporan perkembangan anak dan juga diskusi secara berkala, mencakup perkembangan, aktivitas, kebiasaan makan, tidur, dan interaksi anak. Kegiatan ini kami lakukan setiap 3 bulan sekali.
  • Berbagi informasi dua arah, bukan hanya guru yang menyampaikan, tetapi orang tua juga memberikan informasi tentang kondisi atau perubahan perilaku anak di rumah.
  • Komunikasi aktif, baik melalui grup maupun personal chat.
  • Komitmen orang tua dalam pengasuhan. Sehingga aturan, pembiasaan, dan cara mendampingi anak di daycare dapat selaras dengan yang diterapkan di rumah.

Dengan komunikasi yang baik, guru dan orang tua dapat menjadi satu tim dalam memahami dan mendampingi anak, sehingga kebutuhan anak dapat terpenuhi secara lebih tepat dan konsisten.

Peran Miss Tia Sebagai Guru TK B: Membangun Kesiapan Anak Masuk SD

Menjadi guru wali kelas TK B, artinya Miss Tia harus mulai membangun kesiapan anak untuk belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Yuk, kenali lebih dekat sebenarnya apa saja sih yang harus disiapkan sebelum anak masuk SD?

9. Anak TK B sebentar lagi akan memasuki jenjang SD. Menurut Miss, apa yang sebenarnya perlu dipersiapkan sebelum anak masuk SD?

Banyak terjadi miskonsepsi dalam masyarakat mengenai hal ini. Tak sedikit orang tua yang menganggap bahwa kemampuan membaca, menulis dan berhitung adalah tanda bahwa anak sudah siap masuk SD.

Menurut saya tidak. Kesiapan sekolah dasar lebih luas, yaitu kesiapan anak untuk belajar, beradaptasi, bersosialisasi, dan mandiri di lingkungan baru.

Oleh karenanya, yang perlu dipersiapkan sebelum anak masuk SD bukan hanya kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi terutama kesiapan anak secara utuh agar ia mampu menjalani pengalaman belajar baru dengan percaya diri dan nyaman.

Beberapa hal yang penting dipersiapkan:

  • Kemandirian: mampu melakukan kegiatan bantu diri, seperti makan, memakai sepatu, istinja’, merapikan barang, dan meminta bantuan ketika membutuhkan.
  • Kematangan sosial-emosional: lancar perpisahan pagi hari dengan orang tua, mengelola emosi, menunggu giliran, berbagi, bergantian, bekerja sama, dan mengikuti aturan sederhana.
  • Kemampuan berbahasa dan berkomunikasi: mampu menunjukkan kemampuan bahasa resepstif dan ekspresif. Misalnya, mampu mengikuti informasi maupun instruksi guru, menyampaikan kebutuhan, bertanya, menjawab pertanyaan, berkomunikasi dengan teman, dan menceritakan pengalaman.
  • Kesiapan belajar: memiliki rasa ingin tahu, mampu berkonsentrasi dalam waktu yang sesuai, mengikuti instruksi, berkonsentrasi, mencoba kembali ketika mengalami kesulitan, mencoba menyelesaikan masalah, tidak mudah menyerah, dan mampu menyelesaikan tugas-tugas sederhana.
  • Kesiapan literasi dan numerasi dasar: mengenal simbol, bunyi bahasa, konsep jumlah, pola, bentuk, serta memiliki ketertarikan keaksaraan, seperti pengalaman menggunakan buku dan berbagai alat tulis, melalui kegiatan yang menyenangkan, tanpa memberikan tekanan untuk menguasai kemampuan akademik secara berlebihan.
  • Kesiapan fisik-motorik: memiliki koordinasi tubuh dan keterampilan motorik halus yang mendukung aktivitas di sekolah.
  • Kepercayaan diri dan sikap positif terhadap sekolah: anak merasa bahwa sekolah adalah tempat yang aman, menyenangkan, dan menjadi ruang untuk belajar serta berteman. Anak yang merasa aman akan tumbuh percaya diri, dan tidak takut melakukan kesalahan.

Jadi, tujuan utama persiapan masuk SD adalah membuat anak “siap belajar”, bukan sekadar “siap dites”. Anak yang mandiri, percaya diri, mampu berkomunikasi, mengelola emosi, dan memiliki rasa ingin tahu akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan SD.

10. Kemampuan apa yang justru sering terlupakan ketika orang tua mempersiapkan anak masuk SD?

Menurut saya, kemampuan yang sering terlupakan justru adalah kemandirian dan sosial-emosional anak. Orang tua terkadang terlalu fokus di kognitif, seperti memastikan anak sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung, sementara kemampuan untuk menjalani kemandirian dalam kegiatan keseharian belum cukup dilatih.

Yang sering terlupakan antara lain:

  • Kemandirian dalam kegiatan bantu diri, seperti makan, memakai sepatu, ke toilet, membawa dan merapikan barang sendiri.
  • Mengelola emosi, mampu tetap tenang saat kecewa, sedih, menghadapi kesulitan, dan menerima bahwa tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan.
  • Berani berkomunikasi, mampu bertanya kepada guru, menyampaikan kebutuhan, dan mengatakan ketika membutuhkan bantuan.
  • Mengikuti aturan dan instruksi, seperti mendengarkan guru, menunggu giliran, dan menyelesaikan kegiatan.
  • Bersosialisasi, mampu bekerja sama, berbagi, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik sederhana dengan teman.
  • Percaya diri dan pantang menyerah, berani mencoba hal baru meskipun belum tentu langsung berhasil.
    Memiliki rasa ingin tahu dan senang belajar,

Jadi, sebelum masuk SD, mari kita siapkan anak bukan hanya agar “bisa”, tetapi juga agar “siap menjalani”. Anak yang mandiri, mampu mengelola emosi, berkomunikasi, bersosialisasi, dan memiliki rasa percaya diri akan memiliki bekal yang sangat penting untuk memasuki dunia sekolah dasar.

11. Bagaimana Miss membantu anak TK B membangun kemandirian sebelum mereka masuk SD?

Menurut saya, kemandirian anak TK B dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, bukan dengan menuntut anak harus bisa melakukan semuanya sendiri. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, mendampingi ketika diperlukan, dan memberikan apresiasi atas usahanya.

Contohnya:

  • Kemandirian saat makan, toilet training
  • Bertanggung jawab dengan barang milik pribadi, seperti tas, botol minum, sepatu, dan sebagainya
  • Tuntas mengerjakan sesuatu
  • Mengetahui kebutuhan pribadi, seperti minum saat haus, makan saat lapar
  • Izin saat akan meninggalkan ruangan
  • Mengelola emosi

Apresiasi yang diberikan juga tidak berupa hadiah, namun dengan kata-kata positif, misalnya “Alhamdulillah, hari ini Kakak mampu bergerak lancar dan menuntaskan kegiatan yang dilakukan.”

12. Bagaimana sekolah menumbuhkan keberanian anak untuk berkomunikasi, bertanya, dan menyampaikan pendapat?

Sekolah menumbuhkan keberanian anak untuk berkomunikasi melalui lingkungan yang aman, hangat, dan tidak menghakimi. Anak diberikan kesempatan untuk berbicara, bertanya, dan menyampaikan pendapat tanpa takut salah.

Guru dapat melakukannya dengan:

  • Mengajak anak berdiskusi
  • Memberikan kesempatan bertanya dan menghargai setiap pertanyaan anak, termasuk pertanyaan yang sederhana.
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan respons positif.
  • Menghargai setiap pendapat,
  • Melalui kegiatan bermain,
  • Memberikan apresiasi terhadap usaha

Cerita Miss Tia tentang Sentra Bahan Alam: Belajar Melalui Eksplorasi

Sentra Bahan Alam tidak bisa dipisahkan dari Miss Tia. Seperti apa ya serunya mendampingi kakak shalih-shalihah di sentra ini?

13. Apa yang membuat bahan alam menjadi media belajar yang menarik untuk anak usia dini?

Bahan alam menjadi media belajar yang menarik bagi anak usia dini karena dekat dengan kehidupan mereka, mudah ditemukan, memiliki tekstur dan bentuk yang beragam, serta memberikan kesempatan anak untuk bereksplorasi secara langsung.

Misalnya air, tepung, pasir, daun, batu, ranting, biji-bijian, sabut kelapa, tanah liat, dan sebagainya, dapat digunakan untuk berbagai kegiatan bermain.

Bahan alam memberikan pengalaman belajar yang nyata dan bermakna. Anak tidak hanya melihat atau mendengar, tetapi dapat menyentuh, mencoba, mengeksplorasi, dan menemukan sesuatu dengan caranya sendiri.

Hal yang membuatnya menarik bagi anak antara lain:

  • Mengundang rasa ingin tahu — anak dapat menyentuh, mengamati, membandingkan, dan menemukan hal-hal baru.
  • Memberikan pengalaman sensorik — anak mengenal berbagai tekstur, bentuk, ukuran, warna, dan aroma.
  • Mendorong kreativitas — bahan alam dapat diolah menjadi karya atau digunakan dalam permainan sesuai imajinasi anak.
  • Mendukung berbagai aspek perkembangan — motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan kreativitas dapat berkembang melalui satu kegiatan.
  • Mengenalkan lingkungan — anak belajar menghargai dan merawat alam sejak dini.
  • Membuat belajar terasa seperti bermain — anak tidak merasa sedang “belajar”, tetapi aktif menemukan dan mengalami sendiri.

14. Ketika anak bermain dengan tanah, air, pasir, daun, atau benda-benda alam lainnya, sebenarnya kemampuan apa yang sedang berkembang?

Ketika anak bermain dengan tanah, air, pasir, daun, batu, atau benda alam lainnya, sebenarnya banyak kemampuan yang berkembang secara alami melalui kegiatan bermain.

  • Sensorik – anak mengenal tekstur, suhu, berat, bentuk, warna, bau/aroma, dan perubahan sifat benda.
  • Motorik halus – meremas tanah liat, membentuk playdough, merasakan ublek, menuang air, kolase daun, atau membuat bentuk dari pasir melatih koordinasi tangan dan jari.
  • Motorik kasar – menggali, berpindah tempat, mengangkat dan menuang air dari jerigen / galon ke bak air, melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh.
  • Kognitif – anak belajar mengamati, membandingkan, klasifikasi, memecahkan masalah dengan beragam cara, serta memahami sebab-akibat.
  • Bahasa dan komunikasi – anak terdorong untuk bertanya, bercerita, menyebutkan nama benda, dan menjelaskan hasil temuannya.
  • Sosial-emosi – bermain bersama mengajarkan berbagi, bekerja sama, menunggu giliran, dan mengelola emosi.
  • Kreativitas dan imajinasi – benda alam dapat diubah menjadi berbagai karya atau digunakan dalam permainan pura-pura.

Ketika anak bermain dengan bahan alam bukan sekadar bermain “kotor-kotoran” atau “basah-basahan”, tetapi menjadi pengalaman belajar yang kaya karena anak belajar melalui sentuhan, gerakan, eksplorasi, percobaan, dan pengalaman langsung.

15. Mengapa anak perlu mendapatkan pengalaman belajar yang melibatkan tangan, indera, dan interaksi langsung dengan lingkungan?

Anak perlu mendapatkan pengalaman belajar yang melibatkan tangan, indera, dan interaksi langsung dengan lingkungan karena pada usia dini anak belajar paling efektif melalui pengalaman yang nyata dan bermakna.

Beberapa alasannya:

  • Belajar melalui pengalaman langsung — anak tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi mencoba, menyentuh, memegang, dan melakukan sendiri.
  • Merangsang berbagai indera — pengalaman melihat, meraba, mendengar, mencium, dan bergerak membantu anak memahami konsep dengan lebih utuh.
  • Membangun kemampuan berpikir — anak belajar mengamati, membandingkan, mencoba, menemukan sebab-akibat, dan memecahkan masalah.
  • Mengembangkan motorik — kegiatan seperti menuang, menggali, meremas, atau membawa benda melatih koordinasi tubuh dan tangan.
  • Memperkaya bahasa — pengalaman nyata memunculkan rasa ingin tahu sehingga anak terdorong untuk bertanya, bercerita, dan menyampaikan pendapat.
  • Mengembangkan sosial-emosi — ketika bereksplorasi bersama, anak belajar bekerja sama, berbagi, bernegosiasi, dan menghargai orang lain.
  • Menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap lingkungan — anak belajar mengenal lingkungan bukan sekadar dari gambar, tetapi dari apa yang benar-benar mereka temui.

Sederhananya, anak bukan hanya belajar tentang sesuatu, tetapi belajar melalui sesuatu. Ketika tangan bergerak, indera bekerja, dan anak berinteraksi langsung dengan lingkungan, pengalaman belajar menjadi lebih konkret, menyenangkan, dan mudah dimaknai oleh anak.

16. Dalam kegiatan sentra, bagaimana guru memberikan ruang agar anak menemukan dan mencoba sendiri?

Dalam kegiatan sentra, guru memberikan ruang agar anak menemukan dan mencoba sendiri dengan berperan sebagai fasilitator.

Beberapa cara yang dapat dilakukan:

  • Melalui pijakan lingkungan — menyediakan berbagai alat dan bahan yang memungkinkan anak memilih sesuai minatnya.
  • Memberikan kesempatan mencoba — anak diberi waktu untuk bereksperimen, meskipun hasilnya belum sesuai harapan.
  • Pijakan saat main, seperti menggunakan pertanyaan terbuka — misalnya, “Menurutmu, bagaimana supaya pasirnya tidak mudah jatuh?” atau “Apa yang terjadi kalau airnya ditambah?
  • Mengamati tanpa terburu-buru membantu.
  • Menghargai proses, bukan hanya hasil.
  • Memberikan bantuan seperlunya lalu mengembalikan kesempatan kepada anak untuk melanjutkan.
  • Mengajak anak merefleksikan pengalaman — setelah bermain, guru dapat bertanya, “Tadi kamu mencoba apa?”, “Apa yang kamu temukan?”, atau “Kalau dicoba lagi, apa yang ingin kamu lakukan?

17. Pernahkah ada pengalaman sederhana di Sentra Bahan Alam yang justru menunjukkan kemampuan atau potensi unik seorang anak?

Tentu. Di Sentra Bahan Alam, kemampuan unik anak sering terlihat dari hal-hal sederhana yang awalnya tidak terlalu diperhatikan.

Misalnya, ketika anak-anak bermain tuang isi air, ada seorang anak yang terus mencoba menuangkan air sedikit demi sedikit ke dalam jerigen menggunakan gelas, kemudian mencoba menggunakan sendok sayur dan berganti lagi menggunakan gayung.

Ia memperhatikan bahwa ternyata yang paling banyak mengambil air adalah gayung. Ia juga belajar jika terlalu banyak air maka akan tumpah di jerigen nya dan menyebabkan lantainya basah. Di sini ia juga belajar tentang konsep sifat air yang berubah-ubah sesuai bentuknya, memiliki tekstur cair, dan konsep air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Dari kegiatan sederhana tersebut, guru dapat melihat bahwa anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat, kemampuan mengamati, berpikir sebab-akibat, melakukan percobaan, dan memecahkan masalah.

Pendapat Miss Tia Mengenai Nilai-nilai Islam dan Filosofi Pendidikan PAUD Islam Bintang Juara

Menuju akhir perbincangan, Miss Tia menyampaikan pesan bermakna untuk Ayah Bunda nih.

18. Bagaimana nilai-nilai Islam dapat dikenalkan melalui pengasuhan, kemandirian, maupun eksplorasi alam?

Nilai-nilai Islam dapat dikenalkan kepada anak bukan hanya melalui hafalan atau nasihat, tetapi melalui pengalaman sehari-hari yang mereka lakukan dan rasakan.

  • Melalui pengasuhan: guru dan orang tua memberi teladan dalam mengucapkan salam, berdoa, bersyukur, berkata baik, menyayangi, membantu, dan menghormati orang lain. Anak belajar bahwa Islam hadir dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
  • Melalui kemandirian: anak dibiasakan merapikan mainan, menjaga kebersihan, makan dan minum dengan adab, serta bertanggung jawab terhadap barangnya. Dari sini tumbuh nilai amanah, disiplin, tanggung jawab, dan menghargai nikmat Allah.
  • Melalui eksplorasi alam: ketika anak bermain dengan tanah, air, daun, atau batu, guru dapat mengajak anak menyadari bahwa alam adalah ciptaan Allah. Anak belajar bersyukur, menjaga kebersihan, tidak merusak, menyayangi makhluk hidup, dan menjaga lingkungan.
  • Melalui hubungan dengan sesama: saat bermain bersama, anak belajar berbagi, bergantian, menolong, meminta maaf, dan menghargai teman. Nilai kasih sayang, ukhuwah, dan akhlak mulia tumbuh melalui pengalaman nyata.

Jadi, pengenalan nilai Islam pada anak usia dini akan lebih bermakna ketika nilai tersebut “dihidupkan” dalam keseharian. Anak tidak hanya diberi tahu bahwa harus menjadi anak yang baik, tetapi diberi kesempatan untuk mengalami, melakukan, dan merasakan kebaikan tersebut.

19. Apa pesan Miss Tia untuk Ayah Bunda tentang bagaimana membersamai anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan dekat dengan Allah?

Membersamai anak tumbuh bukan tentang membuat mereka selalu bisa melakukan semuanya sendiri, tetapi tentang memberi kesempatan untuk mencoba, percaya pada kemampuan mereka, dan hadir ketika mereka membutuhkan dukungan.
Berikan anak ruang untuk memilih, mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar bertanggung jawab. Jangan terlalu cepat membantu, karena dari proses mencoba itulah kemandirian dan rasa percaya diri tumbuh.
Dan yang tidak kalah penting, libatkan Allah melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ajak anak bersyukur atas nikmat yang diterima, berdoa, menyayangi sesama, menjaga alam, serta melihat kebesaran Allah dalam setiap ciptaan-Nya.

20. Jika harus merangkum peran Miss Tia sebagai Koordinator Daycare, Wali Kelas TK B sekaligus Guru Sentra Bahan Alam dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?

Menjadi guru berarti menjadi orang tua sekaligus sahabat anak, hadir mendampingi, membersamai mereka bertumbuh dan berkembang, memberi ruang untuk mandiri, berani mencoba, dan menemukan dunia dengan penuh rasa ingin tahu, sambil menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kedekatan kepada Allah.

Pada akhirnya, membersamai anak bukan tentang membuat mereka selalu mampu melakukan semuanya sendiri, melainkan tentang memberikan ruang untuk mencoba, kesempatan untuk belajar dari kesalahan, dan kehadiran ketika mereka membutuhkan dukungan. Dari daycare, ruang kelas, hingga Sentra Bahan Alam, proses belajar anak berlangsung melalui pengalaman-pengalaman nyata yang membantu mereka menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan penuh rasa ingin tahu.

Di saat yang sama, nilai-nilai Islam pun dapat dihidupkan melalui keseharian—dengan mengajak anak bersyukur, menyayangi sesama, menjaga alam, dan mengenal kebesaran Allah melalui apa yang mereka lihat dan alami. Sebab bagi Miss Tia, menjadi guru berarti menjadi orang tua sekaligus sahabat anak.

Sampai jumpa pada episode Guru Bercerita berikutnya. Ayah Bunda mau kenal lebih dekat dengan sosok guru yang mana nih?*** (CM-MRT)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*