Search

Miss Arum, Menemani Anak TK A Tumbuh Mandiri dan Berakhlak

Miss Arum menemani anak TK A tumbuh mandiri dan berakhlak

Mendampingi anak tumbuh bukan hanya tentang membantu mereka melakukan sesuatu, tetapi juga memberi kesempatan untuk mencoba, belajar, dan mengenal nilai-nilai kebaikan. Dalam Miss Bercerita kali ini, Fitriya Ningrum atau Miss Arum, Guru Pendamping TK A PAUD Islam Bintang Juara, berbagi pengalaman tentang mendampingi anak membangun kemandirian, mengelola emosi, serta belajar akhlak melalui pembiasaan sehari-hari.

Daftar Isi

A. Mengenal Sosok Miss Arum

Perjalanan Miss Arum di PAUD Islam Bintang Juara dimulai pada 2021, menjadi pengalaman pertamanya bekerja secara profesional. Berbekal pengalaman belajar di pondok pesantren, Miss Arum terus belajar memahami dunia anak usia dini dan menjalani berbagai peran dalam mendampingi tumbuh kembang mereka.

1. Apa yang pertama kali membuat Miss tertarik untuk mendampingi dan mengajar anak usia dini? Kapan mulai bergabung dengan PAUD Bintang Juara?

Bekerja di PAUD Islam Bintang Juara merupakan pengalaman pertama saya bekerja. Saat itu tahun 2021, saya mendapat informasi lowongan kerja di PAUD Islam Bintang Juara. Saya tertarik mencoba mendaftar karena memiliki rasa ingin tahu tentang bagaimana pendidikan untuk anak usia dini.

Bekal saya saat itu pengalaman saya belajar di Pondok Pesantren selama 8 tahun. Saat diwawancarai, saya menceritakan bahwa saya belum memiliki pengalaman menangani anak usia dini. Namun dengan pengalaman sebagai humas Ponpes, saya banyak terlibat dalam pendidikan dan pengasuhan anak usia SMP-SMA.

Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk belajar dan bertumbuh di sekolah ini, hingga kini memasuki tahun kelima saya bekerja di sini.

2. Sebelum menjadi Guru Pendamping TK A, seperti apa perjalanan Miss dalam dunia pendidikan anak?

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, menjadi bagian dari PAUD Islam Bintang Juara adalah pengalaman bekerja secara profesional bagi saya. Saya banyak belajar ilmu mengenai tahap perkembangan anak dan bagaimana memberi pijakan pada anak dari Bunda Vivi Psikolog dan teman-teman guru yang sudah bergabung sebelumnya.

Awal bergabung, saya mendapat amanah menjadi guru mengaji sekaligus guru pendamping/ daycare. Ketika proses KBM di sentra berlangsung, saya mendampingi anak-anak agar lebih fokus dan tenang mengikuti arahan dari guru sentra.

Saat proses KBM sudah tuntas, saya beralih peran menjadi guru mengaji dengan metode Qiraaty. Sejak tahun lalu, peran saya tidak lagi ganda. Hanya fokus sebagai guru pendamping TK A sekaligus guru daycare.

3. Miss sebelumnya pernah menjadi guru mengaji. Apa pengalaman yang paling berkesan selama mengajar mengaji anak-anak?

Pengalaman yang paling berkesan adalah setiap harinya melantunkan ayat Al Quran bersama anak-anak. Dengan lantangnya mereka murajaah bersama.

Mereka selalu bersemangat. Terutama ketika diajak untuk murojaah metode Kauny Surah Alfatihah di mana mereka melafalkan berserta artinya dan menggunakan gerakan tangan.

4. Setelah berpindah dari pengalaman mengajar anak mengaji ke guru pendamping, apa hal yang paling terasa berbeda dalam mendampingi anak?

Yang paling terasa, saya jadi lebih fokus ketika mendampingi anak saat berkegiatan atau saat bermain menunggu giliran mengaji satu-satu, dan lebih paham karakter masing-masing anak yang saya dampingi.

B. Memahami Peran Guru Pendamping TK A

Guru pendamping memiliki peran penting dalam membantu anak menjalani berbagai kegiatan di sekolah. Mulai dari membangun kemandirian, mendampingi anak ketika mengalami kesulitan, hingga berkomunikasi dengan wali kelas, semuanya membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan pemahaman terhadap karakter setiap anak.

5. Bagi Ayah Bunda yang mungkin belum familiar, sebenarnya apa saja peran Guru Pendamping TK A dalam keseharian anak di kelas?

Guru pendamping adalah guru yang mendampingi anak ketika berkegiatan. Peran guru pendamping juga membantu memberikan pijakan saat anak mengalami kesulitan, atau saat guru walas butuh bantuan untuk mengondisikan anak.

Selain itu, kami juga membantu membangun kemandirian anak dalam beberapa pembiasaan sehari-hari, seperti mendampingi toilet training, makan siang, ganti baju, dan tidur siang.

6. Dalam situasi seperti apa biasanya anak membutuhkan pendampingan lebih dari seorang Guru Pendamping?

Di beberapa situasi, seperti saat berbaris, saat toilet training, seperti pup dan pipis. Serta saat ganti baju dan tidur siang.

Guru pendamping tidak boleh langsung membantu, tetapi harus memberikan pijakan agar anak mau melakukan sendiri. Di awal masuk, biasanya anak yang tidak terbiasa atau belum dilatihkan di rumah, ada yang tantrum dan butuh bantuan. Guru pendamping harus tetap tenang dan memberikan pijakan yang konsisten agar anak mau mencoba.

Tentu saja terkadang proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun dengan kesabaran dan konsistensi, insyaAllah perlahan ada progress yang terlihat.

7. Bagaimana Miss menentukan kapan anak perlu dibantu dan kapan harus diberi kesempatan untuk mencoba sendiri?

Kalau Miss Arum biasanya melihat apakah seorang anak butuh dibantu ketika anak belum paham pijakan yang diberikan. Seperti misalnya, saat membalik celana.

Di awal, saya akan memberikan pijakan, “Coba lihat celananya.. yang ada gambarnya posisinya di depan ya..” Namun, tak sedikit anak yang masih memutar-mutar celananya.

Setelah diberi kesempatan untuk mencoba, jika masih belum berhasil, Miss Arum akan bantu dengan menunjukkan caranya dan diberi pijakan, “Lihat, seperti ini kak cara membalik celananya. Yang ada gambarnya di depan ya. Besok kakak coba lagi ya…”

Besoknya, anak tersebut akan Miss Arum minta untuk mencoba sendiri lagi. Sampai akhirnya berhasil tanpa perlu pijakan yang terlalu panjang.

8. Bagaimana bentuk kerja sama antara Guru Pendamping dan Wali Kelas dalam mendampingi perkembangan setiap anak?

Bentuk kerja sama antara guru pendamping dan wali kelas, di antaranya;

  • Saling berkomunikasi apa bila terjadi sesuatu kepada anak, misal terlibat konflik dengan teman, atau saat datang anak sedang tantrum, dan semacamnya.
  • Saling komunikasi jika ada info dari wali murid, misal akan dijemput lebih awal atau lebih terlambat dari biasanya, dibawakan obat yang harus diberikan saat siang, dsb.
  • Saling tukar ide saat mendampingi anak dengan menyesuaikan karakter dan kebutuhan perkembangan anak.

9. Seberapa penting komunikasi antara Guru Pendamping dan Wali Kelas dalam memahami karakter dan kebutuhan masing-masing anak?

Tentu saja sangat penting. Guru pendamping bisa menginformasikan perkembangan dan progress anak setiap harinya, yang barangkali terlewat oleh wali kelas.

Selain itu, komunikasi antara guru pendamping dan walas sangat dibutuhkan agar masing-masing paham karakter anak, sehingga bisa lebih tepat ketika memberi pijakan.

C. Memahami Dunia Anak TK A

Di usia TK A, banyak kemampuan penting sedang berkembang melalui pengalaman sehari-hari. Hal sederhana seperti memakai celana sendiri, menunggu giliran, atau mengungkapkan perasaan dapat menjadi proses belajar yang bermakna bagi kemandirian dan perkembangan sosial-emosional anak.

10. Ketika anak sulit mengikuti aturan, mudah terdistraksi, atau berselisih dengan teman, bagaimana sebaiknya orang dewasa memahami perilaku tersebut?

Ketika ada anak yang sulit mengikuti aturan, Miss Arum biasanya akan mendekati anaknya, lalu menjelaskan kembali aturan/ informasi dari wali kelas atau guru sentra dengan lebih pelan.

Jika masih belum mengikuti aturan, biasanya Miss Arum berikan waktu untuk keluar dari kelompoknya sampai ia berhasil tenang. Setelah tenang, Miss Arum akan ajak si anak membuat kesepakatan.

Sementara itu, apabila ada anak yang berselisih hingga muncul konflik, Miss Arum akan memanggil anak-anak yang berkonflik tersebut, lalu Miss Arum ajak masing-masing anak konfirmasi bagaimana tadi awal mula kejadian.

Tak jarang anak-anak yang berkonflik ini belum tenang dan masih diliputi rasa jengkel, marah atau malah menangis. Miss Arum akan memberi kesempatan anak yang sudah siap bercerita, yaitu anak yang sudah tenang. Pijakan yang diberikan sebelum anak diberi kesempatan bercerita yaitu, “Silakan bicara sesuai fakta ya…”

11. Apa saja bentuk kemandirian yang sedang dibangun pada anak TK A melalui kegiatan sehari-hari di sekolah?

Bentuk-bentuk kemandirian yang dibangun biasanya hal-hal sederhana bagi orang dewasa, tetapi memiliki makna yang luar biasa bagi anak, seperti:

  • sudah bisa memakai baju celana dengan sesuai (tidak terbalik).
  • makan sendiri (ada beberapa anak yang masih butuh dibantu karena kurang dilatih/ lebih sering disuapi saat di rumah).
  • menyimpan botol minum dan tempat bekal sesuai informasi.

12. Bagaimana guru membantu anak ketika mereka sedang marah, sedih, kecewa, atau kesulitan mengungkapkan perasaannya?

Biasanya Miss Arum akan mendekati anak tersebut. Kalau anak masih marah/ menangis, kita beri waktu sendiri dulu untuk merilis emosinya. Jika anak sudah tenang, lalu kita tanya… “Kenapa kakak bersedih? Kenapa marah?” Lalu kita dengarkan anak tersebut untuk menceritakan apa yang dirasakan dan dialaminya.

13. Apa perubahan kecil pada anak yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya menjadi pencapaian besar dalam proses tumbuhnya?

Perubahan kecil seperti berhasil memakai celana sendiri dengan sesuai (tidak terbalik), berhasil mengenakan celana panjang (banyak anak yang kesulitan mengenakan celana panjang), dan bisa menyampaikan kata tolong saat butuh bantuan miss adalah progress yang luar biasa untuk anak-anak TK A.

14. Menurut Miss, apa yang sebenarnya anak pelajari ketika mereka bermain, bereksplorasi, dan berinteraksi dengan teman?

Saat bermain, bereksplorasi, dan berinteraksi dengan teman, anak sebenarnya sedang belajar hal-hal esensial yang membentuk karakter dan kemandiriannya:

  • Belajar regulasi emosi dan resolusi konflik: Ketika bermain bersama, anak belajar antre atau menunggu giliran secara sabar, mengungkapkan perasaan saat terjadi selisih paham, hingga belajar berani meminta maaf serta memaafkan temannya secara tulus.
  • Belajar komunikasi dan empati (sosial-emosional): Anak belajar mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya dengan kata-kata—seperti berani meminta bantuan menggunakan kata “tolong”—serta menunjukkan kepedulian terhadap teman sebayanya di lingkungan sekolah.
  • Belajar problem-solving dan kemandirian nyata: Melalui eksplorasi langsung, anak melatih kepekaan logika dan motoriknya. Mereka belajar memahami sebab-akibat dari tindakan mereka, mengenali batasan aturan bermain bersama, serta membangun rasa percaya diri bahwa mereka mampu menyelesaikan tantangan kecil secara mandiri.
  • Belajar adab dan kebiasaan baik dari lingkungan: Melalui interaksi kelompok dan teladan di sekitarnya, anak secara alami menyerap kebiasaan tertib, manajemen waktu dari datang hingga pulang, serta adab dasar sehari-hari seperti menjaga kebersihan dan berbagi.

galeri Miss Arum bersama murid PAUD Islam Bintang Juara

D. Nilai dari Pengalaman Mengajar Mengaji

Pengalaman Miss Arum sebagai guru mengaji turut membentuk caranya mendampingi anak saat ini. Baginya, mengenalkan nilai agama tidak cukup melalui hafalan, tetapi perlu diwujudkan dalam kebiasaan nyata dan keteladanan yang dapat anak lihat setiap hari.

15. Apakah pengalaman Miss sebagai guru mengaji memengaruhi cara Miss mendampingi anak-anak TK A sekarang?

Alhamdulillah sangat mempengaruhi, lebih fokus dan tenang. Dibanding saat awal bergabung di sekolah ini, sekarang Miss Arum sudah bisa mendekati anak satu per satu, dan bisa lebih kontrol suara saat memberi pijakan ke anak.

16. Menurut Miss, bagaimana cara mengenalkan nilai-nilai kebaikan dan agama kepada anak TK A tanpa membuatnya terasa seperti menggurui?

Dengan menjadi role model saat anak berkegiatan/ saat di lingkungan sekolah. Contohnya seperti membuang sampah pada tempatnya, mengikuti salah Zuhur berjamaah di samping beberapa anak, lalu saat melatih anak berwudu dilakukan dengan bernyanyi agar urutan wudu lebih mudah diingat anak. Selain itu juga menunjukkan bagaimana cara minum dan makan sesuai adab.

17. Dalam mengenalkan nilai agama kepada anak, mengapa pembiasaan sehari-hari juga penting selain mengajarkan hafalan atau materi

Pembiasaan sehari-hari sangat penting karena anak usia dini belajar paling efektif bukan sekadar dari menghafal kata-kata, melainkan dari apa yang mereka lihat, rasakan, dan lakukan secara berulang di lingkungan nyata.

  • Agama menjadi amalan hidup, bukan sekadar hafalan teori: Menghafal ayat Al-Qur’an—seperti surah Al-Fatihah dengan arti dan gerakan tangan—memang sangat berkesan dan menumbuhkan semangat, tetapi pembiasaan langsung seperti adab makan dan minum, membuang sampah pada tempatnya, serta urutan wudlu yang dipraktikkan membuat nilai tersebut benar-benar melekat menjadi karakter dasar.
  • Anak belajar dari teladan langsung (role model): Karena guru hadir di separuh hari kehidupan mereka di sekolah, setiap tindakan orang dewasa menjadi cermin bagi anak. Ketika kita mendampingi dan ikut salat berjamaah tepat di samping mereka, anak melihat wujud nyata dari ibadah tersebut tanpa merasa sedang diperintah secara kaku.
  • Menumbuhkan akhlak nyata dalam hubungan sosial: Nilai keagamaan paling terasa saat diterjemahkan ke dalam interaksi sesama, seperti kebiasaan saling bermaafan saat berselisih, kepedulian terhadap teman, serta membiasakan berkata santun seperti meminta “tolong”.
  • Proses tumbuh yang membekas jangka panjang: Pemahaman anak bertumbuh perlahan melalui rutinitas harian yang teratur dari datang hingga pulang. Melalui kesabaran memberi pijakan kecil setiap hari, nilai-nilai spiritual dan adab akan otomatis menjadi bagian dari kepribadian mereka tanpa disadari

18. Menurut Miss, seberapa besar peran contoh dari guru dalam membantu anak belajar tentang akhlak dan kebiasaan baik?

Sangat besar. Karena miss di PAUD hadir hampir di separuh hari anak-anak. Oleh karenanya, apapun yang dilakukan oleh guru ataupun orang dewasa di sekitarnya, pasti akan berpengaruh ke anak.

Anak-anak dapat mengikuti perilaku yang kita lakukan. Jika anak sering terpapar perilaku yang kurang baik, maka seperti itu pula yang akan ia tampilkan. Begitu pula sebaliknya, jika anak sering melihat perilaku sesuai contoh-contoh yang saya sampaikan di atas, insyaAllah akan terbentuk karakter dan akhlak yang baik di kemudian hari.

E. Sekolah & Ayah Bunda Tumbuh Bersama

Proses tumbuh anak membutuhkan kesinambungan antara sekolah dan rumah. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, disertai kesabaran dan kepercayaan dari orang dewasa, membantu anak belajar mandiri tanpa harus terburu-buru mencapai hasil tertentu.

19. Bagaimana Ayah Bunda bisa melanjutkan pembiasaan dan nilai-nilai baik yang anak dapatkan di sekolah ketika berada di rumah

Konsisten menerapkan kegiatan yang sudah dilatih, dibangun, dibiasakan dan dikuatkan di sekolah. Harapan besar dari kami, Ayah Bunda bisa melakukan saran wali kelas yang telah disampaikan saat pembagian rapor/ LPA (Laporan Perkembangan Anak). Dengan adanya sinergi antara rumah dan sekolah, insyaAllah progress anak akan lebih terlihat ke depannya.

20. Apa yang ingin Miss sampaikan kepada Ayah Bunda yang lebih fokus pada hasil anak daripada proses mereka belajar dan bertumbuh?

Setiap anak butuh kehadiran penuh Ayah Bunda di setiap prosesnya, bukan hanya hadir saat melihat hasil akhirnya saja. Terkadang orang tua baru menyadari perubahan ketika anak tiba-tiba menunjukkan perkembangan yang terlihat besar. Padahal, di balik hasil tersebut, anak sedang berjuang dan bertumbuh sedikit demi sedikit setiap detiknya tanpa kita sadari.

Hal-hal kecil yang tampak sederhana—seperti anak yang berusaha membalik celananya sendiri meski masih bingung, belajar mengantre, mau mengucapkan kata tolong, hingga belajar memaafkan temannya—adalah proses belajar yang luar biasa bernilai.

Di sanalah letak pembentukan karakter, kemandirian, dan kesabaran anak yang sesungguhnya. Mari kita lebih mengapresiasi setiap usaha kecil yang mereka lalui hari demi hari, serta konsisten menerapkan pembiasaan baik di rumah bersama-sama. Karena ketika kita menghargai dan mendampingi prosesnya dengan sabar, hasil terbaik akan tumbuh secara alami pada diri anak.

21. Apa hal sederhana yang bisa dilakukan Ayah Bunda untuk membantu anak menjadi lebih mandiri dan percaya diri di usia TK A?

Ayah Bunda bisa mulai dari memberi kesempatan dan ruang bagi anak untuk mencoba hal-hal kecil sendiri di rumah tanpa terburu-buru dibantu:

  • Beri kepercayaan pada rutinitas kemandirian dasar: Biarkan anak mencoba memakai dan melepas baju, celana, atau sepatu sendiri. Walaupun posisinya masih terbalik atau anak masih memutar-mutar celananya, beri waktu dan kesempatan terlebih dahulu sebelum kita masuk memberi bantuan secukupnya.
  • Gunakan pijakan yang jelas dan nada bicara tenang: Saat anak terlihat bingung atau ragu, beri petunjuk visual yang mudah dipahami (misalnya, mengajak anak melihat sisi yang ada gambarnya di bagian depan) dengan kontrol suara yang lembut dan tenang agar anak tidak cemas.
  • Latih adab berkomunikasi secara santun: Biasakan anak untuk berani menyampaikan kebutuhannya, terutama membiasakan mengucapkan kata “tolong” saat mereka benar-benar membutuhkan bantuan. Hal ini melatih keberanian dan rasa percaya diri mereka dalam berinteraksi.
  • Konsisten menyelaraskan pembiasaan di sekolah dan rumah: Menerapkan pembiasaan yang telah disampaikan di sekolah—seperti makan sendiri, merapikan kotak bekal, hingga adab keseharian—secara konsisten di rumah bersama Ayah Bunda. Kepercayaan dan kesabaran orang tua dalam mendampingi proses kecil setiap hari adalah kunci tumbuhnya rasa percaya diri anak.

F.Cerita dan Refleksi Miss Arum

Selama mendampingi anak-anak, Miss Arum tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga terus belajar dari mereka. Dari proses kecil yang berlangsung setiap hari, ada pelajaran tentang kesabaran, rasa syukur, kepedulian, dan indahnya bertumbuh bersama.

22. Selama menjadi Guru Pendamping TK A dan sebelumnya menjadi guru mengaji, apa pelajaran terbesar yang justru Miss dapatkan dari anak-anak?

Pelajaran terbesar yang saya dapatkan adalah semakin mengerti arti kesabaran yang berbuah manis dari proses dan hal-hal kecil saat mendampingi anak-anak. Selain itu, saya belajar untuk selalu bersyukur karena setiap hari mendapatkan ilmu baru dari sosok-sosok “guru kecil” ini. Banyak keteladanan tulus yang justru hadir dari mereka, seperti kemauan untuk saling memaafkan, kepedulian yang nyata terhadap sesama teman, serta kedisiplinan belajar manajemen waktu yang teratur sejak mereka datang hingga pulang sekolah.

Perjalanan Miss Arum mengingatkan kita bahwa tumbuh kembang anak tidak selalu ditandai oleh pencapaian besar. Ada keberanian untuk mencoba, kemauan meminta tolong, dan kemampuan memaafkan yang patut dihargai. Ketika sekolah dan keluarga bersedia mendampingi setiap proses dengan sabar dan konsisten, anak memiliki ruang untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak baik.*** (CM-MRT)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*