Search

Miss Ekka, Menemani Tumbuh Kembang Anak dari Baby Toddler hingga TK A

Miss Ekka menemani tumbuh kembang anak dari baby toddler hingga tk a

Mendampingi anak bertumbuh berarti belajar memahami setiap tahap perkembangannya. Dalam episode Miss Bercerita kali ini, Ekka Nur Maisaroh, S.Psi., Gr. atau Miss Ekka, berbagi pengalaman mendampingi anak sejak Baby Toddler hingga TK A, mulai dari membangun rasa aman, memahami emosi, hingga menghargai setiap proses kecil dalam tumbuh kembang anak.

Daftar Isi

A. Mengenal Sosok Miss

Perjalanan Miss Ekka di dunia pendidikan anak usia dini berawal dari pengalaman mendampingi kedua buah hatinya. Ketertarikannya pada stimulasi dan perkembangan anak kemudian membawanya bergabung dengan PAUD Islam Bintang Juara pada 2021, hingga terus bertumbuh melalui berbagai amanah pendampingan.

1. Apa yang pertama kali membuat Miss tertarik untuk terjun ke dunia pendidikan anak usia dini?

Semua bermula ketika Miss Ekka mempunyai 2 batita shalih yang usianya terpaut 1,5 tahun. Saat itu Miss Ekka memutuskan untuk fokus mendampingi 2 batita shalih dan ingin memastikan mereka tumbuh dengan stimulasi yang tepat.

Berbekal pernah belajar ilmu psikologi saat kuliah, Miss Ekka mulai membuka lagi dan membaca buku psikologi perkembangan anak tentang konsep golden age (masa emas) di periode awal kehidupan anak. Miss Ekka sangat kagum akan konsep golden age, dan berusaha memberikan stimulasi terbaik dengan membuat mainan edukatif sendiri di rumah (sensory play), stimulasi motorik dengan naik sepeda, dan mendampingi mereka belajar lewat bermain seperti membaca buku, murojaah, dan gerak lagu dengan bernyanyi.  Melihat anak-anak saya bahagia; Rasyid terlihat semakin aktif dan adiknya Baasith termotivasi dari sang kakak, membuat saya makin kagum terhadap cara kerja otak anak usia dini.

Pada saat itu berbarengan dengan adanya informasi lowongan pekerjaan guru PAUD Islam Bintang Juara yang ada di group angkatan Fakultas Psikologi. Miss Ekka tertarik dengan informasi tersebut dan flyernya pun tidak asing buat Miss Ekka. Ya, di situ ada foto Bunda Vivi Psikolog, yang di mana beliau adalah dosen Miss Ekka saat itu. Pastinya buat mahasiswa Psikologi angkatan Miss Ekka sudah tahu siapa owner PAUD Islam Bintang Juara.

Berbekal pernah belajar ilmu psikologi dan ingin ilmu tersebut tidak sia sia dan berkembang, akhirnya Miss Ekka memberanikan diri untuk ikut bergabung di PAUD Islam Bintang Juara. Miss Ekka saat itu sempat ragu, karena tidak mempunyai pengalaman atau bakat menjadi guru.

Namun ada kalimat Bunda Vivi Psikolog yang memberikan pemahaman ke Miss Ekka yaitu “seorang Ibu itu juga guru, guru pertama dari anak-anak nya”.

Bismillah sejak saat itu Miss Ekka semakin tertarik dan mantap terjun di dunia pendidikan anak usia dini, tepatnya di PAUD Islam Bintang Juara dan Miss Ekka merasa senang bisa menjadi bagian dari proses mereka belajar dan tumbuh, memberikan bimbingan dan pendampingan di fase awal kehidupan mereka.

2. Bagaimana perjalanan Miss hingga akhirnya menjadi Guru Pendamping TK A di Bintang Juara?

Berawal menjadi guru pendamping Baby Class di tahun 2021. Pada tahun berikutnya, Miss Ekka mendapat kepercayaan berdampingan dengan Miss Fitri menjadi guru kelas di Baby Class.

Pada tahun 2023, Miss Ekka saat itu mendapatkan amanah menjadi guru di kelas Young Toddler dan setelah cuti melahirkan Miss Ekka kembali lagi ke kelas Baby Class menjadi guru kelas hingga tahun 2025. Alhamdulillah di tahun 2025 Miss Ekka terpanggil untuk mengikuti PPG dan lulus PPG. Di tahun 2026 ini Miss Ekka mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi guru pendamping TK A.

3. Sebelumnya Miss pernah mendapat amanah mendampingi Baby Toddler. Seperti apa pengalaman itu?

Menjadi Miss Baby Toddler mempunyai banyak pengalaman yang luar biasa, penuh dinamika, menantang, sekaligus sangat menyentuh hati.
Di fase ini, guru tidak hanya mengajar, tetapi berperan ganda sebagai pengasuh, pelindung, dan fasilitator tumbuh kembang emas (golden age) anak.

Berawal di tahun 2021, Miss Ekka mendapatkan amanah menjadi guru pendamping di Baby Class yang setahun kemudian Miss Ekka mendapatkan amanah menjadi guru kelas di Baby Class bersama Miss Fitri.

Menjadi Miss Baby Class di mana di pagi hari, menjadi hari yang penuh kejutan. Setiap hari selalu dimulai dengan energi yang berbeda. Pagi hari Miss harus ready dengan hati yang tenang dan penuh senyum ketika menghadapi ada beberapa baby ataupun anak yang menangis histeris karena tidak ingin berpisah dengan orang tuanya.

Tugas pertama Miss adalah menjadi “tempat aman” baru bagi mereka dengan pelukan hangat dan pengalihan perhatian yang menarik. Mood anak juga sering cepat berubah, Anak di usia Baby Toddler ini bisa tertawa riang, lalu sedetik kemudian menangis hanya karena mainannya tersenggol oleh temannya.

Menjadi Miss Baby Toddler dituntut memiliki kesabaran setebal baja dan kemampuan regulasi emosi yang sangat baik. Di Baby Class, suasananya cenderung lebih tenang namun membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Kewaspadaan akan fase Eksplorasi Oral pada baby, dimana bayi akan mengeksplorasi dunia dengan mulutnya.

Pengalaman Miss di kelas ini dipenuhi dengan aktivitas mensterilkan mainan dan memastikan tidak ada benda kecil yang tertelan pada mulutnya. Sebagai guru kelas di Baby Class saat itu, Miss Ekka ada rasa bangga dan rasa senang tersendiri ketika menjadi Miss Baby Class. Miss Ekka menjadi saksi mata pertama saat seorang bayi bisa tengkurap sendiri, duduk tegak, merangkak, hingga melangkah pertama kali adalah momen emosional yang sangat memuaskan bagi seorang guru kelas di Baby Class.

Selain itu tak kalah dengan rasa senang dan bangga, yaitu rasa seru dan menyenangkan ketika mendampingi mereka saat Stimulasi Sensori. Kegiatan yang banyak melibatkan messy play (bermain tepung, jelly, air) yang membantu merangsang panca indra mereka. Miss Ekka harus siap juga dengan keseruan mereka; ada yang masih belum berani saat harus meraba, meremas tekstur tersebut yang sehingga respon mereka adalah menangis histeris.

Namun ada juga anak yang bagi mereka ini adalah bermain yang asik. Merasa asik dan menyenangkannya sehingga mereka tidak sadar jika baju dan badannya sudah penuh tepung, pewarna makanan atau basah terkena air. Seperti halnya mereka Miss Ekka pun merasa senang jika melihat mereka senang dengan penuh tawa sehingga juga tidak sadar jika baju dan anggota tubuh sudah terkena tepung atau pewarna makanan yang sedang di mainkan oleh mereka.

Di kelompok Baby Class, di usia 12 bulan ke atas juga banyak anak yang sudah lancar dalam motorik kasar. Mereka suka berjalan, memanjat, dan berlari keliling kelas. Pengalaman Miss di sini adalah mata dan telinga harus siaga 360 derajat untuk mencegah mereka jatuh atau terluka.

Selain itu Miss juga harus siap menghadapi tantrum, dimana usia anak belum paham konsep berbagi. Sehingga menimbulkan konflik berebut mainan, menggigit, atau memukul teman dan Miss bertugas memvalidasi emosi mereka dan mengajarkan cara berkomunikasi yang benar.

Menjadi Miss Baby, juga harus “mendampingi” orang tuanya dengan menghilangkan Kecemasannya karena meninggalkan bayi mereka. Miss Ekka berperan memberikan update berkala, mulai dari jam berapa anak tidur siang, berapa sendok mereka makan, hingga tekstur pup mereka hari itu serta menjadi tempat curhat orang tua yang bingung mengapa anaknya belum bisa bicara atau mendadak susah makan di rumah.

Lelah fisik Miss Baby Class seperti harus membungkuk saat melatih berjalan berpegangan, menggendong, duduk di lantai, dan bergerak aktif sepanjang hari akan terbayar oleh kehangatan anak-anak. Misalnya, ketika seorang anak berlari kencang lalu memeluk kaki Miss Ekka sambil tersenyum lebar dan mengucapkan “Eeta” (Ekka), atau anak yang tadinya belum bisa bicara, tiba-tiba bisa memanggil nama gurunya dengan pelafalan cadel.

Menjadi Miss di Baby Class bukan sekadar pekerjaan mentransfer ilmu, melainkan seni menanamkan rasa cinta, rasa aman, dan fondasi karakter pada manusia-manusia kecil yang baru mulai mengenal dunia.

4. Apa hal paling berkesan yang Miss pelajari saat mendampingi anak-anak Baby Toddler?

Hal yang berkesan mendampingi anak- anak Baby Toddler dengan menyaksikan secara langsung perubahan mereka dari minggu ke minggu. Melihat seorang bayi yang awalnya hanya bisa tengkurap, merangkak, lalu mulai belajar berdiri, tertatih mengambil langkah pertama, hingga akhirnya bisa berlari memeluk kita, memberikan rasa haru dan kebanggaan tersendiri yang sulit digantikan.

Selain perkembangan fisik motorik, hal terkesan lainnya yaitu mendengarkan mereka dalam perkembangan bahasa yang berawal dari coing, babbling hingga bisa memanggil nama “Mi Etta” (Miss Ekka), nama Miss Miss lain dan nama teman-temannya. Serta melihat perkembangan sosial emosional dan kognitif secara langsung, melihat betapa senangnya mereka bisa menyusun susunan balok karet yang disusun ke atas dengan ekspresi senang dan bertepuk tangan.

B. Menjadi Guru Pendamping TK A

Setelah bertahun-tahun mendampingi anak Baby Toddler, kini Miss Ekka mendapat kesempatan belajar sebagai Guru Pendamping TK A. Peran ini bukan sekadar membantu kegiatan kelas, tetapi juga mengamati kebutuhan anak, mendukung kemandirian, serta membantu mereka merasa aman dan nyaman selama belajar.

5. Sebenarnya, seperti apa peran Guru Pendamping TK A dalam keseharian di kelas?

Membantu guru sentra atau guru kelas dalam menyiapkan media belajar, mengelola kelas, serta mendampingi anak-anak agar tetap fokus, disiplin, dan mandiri.

6. Dalam situasi seperti apa biasanya seorang anak membutuhkan pendampingan lebih dari Guru Pendamping?

Dalam situasi ketika mereka menghadapi kesulitan dalam mengikuti proses belajar secara mandiri akibat kondisi perkembangan atau kebutuhan khusus tertentu:

  • Seperti pendampingan kepada anak berkebutuhan khusus dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan menstimulasi untuk perkembangan anak tersebut. Pendampingan lebih diperlukan ketika perilaku anak mulai mengganggu proses belajar dirinya sendiri maupun teman sekelasnya, seperti: Sering berteriak, memukul, merusak barang, atau keluar masuk kelas tanpa izin saat sesi belajar berlangsung.
  • Anak yang tidak mampu fokus pada saat kegiatan dibandingkan teman nya dan sangat mudah terdistraksi.
  • Anak yang sering membuat kegaduhan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
  • Anak yang belum mampu mengikuti rutinitas sekolah secara mandiri, kesulitan beradaptasi dengan alur harian sekolah (seperti baris-berbaris, duduk melingkar, atau merapikan barang-barang ke dalam tas) meskipun sudah dibimbing berulang kali.

7. Bagaimana Miss menentukan kapan harus membantu anak dan kapan sebaiknya memberi kesempatan anak mencoba sendiri?

Sebenarnya peran guru pendamping bukan mengambil alih tugas anak, melainkan menjadi jembatan agar anak perlahan-lahan mampu mandiri. Miss akan membantu anak ketika mengalami kesulitan yang menyangkut keselamatan, kestabilan emosi yang bisa menghentikan proses belajar, atau saat anak belum memiliki keterampilan dasar saat proses pembelajaran.

Sebaliknya Miss akan memberikan kesempatan kepada murid untuk mencoba sendiri saat melakukan kegiatan sehari-hari (kemandirian), saat proses belajar melalui bermain, dan ketika menyelesaikan masalah sederhana. Memberikan kesempatan ini sangat penting untuk membangun rasa percaya diri, motorik, dan kemampuan berpikir kritis anak. Seperti : memakai melepas sepatu, merapikan kotak bekal atau merapikan mainan, membuka bungkus makanan.

Selain itu pada saat proses belajar, Miss memberikan kesempatan anak untuk memberikan kesempatan memilih warna pada saat jurnal, ataupun saat anak bermain mencampurkan warna air pada saat tuang isi di sentra bahan alam. Juga memberikan kesempatan anak untuk menyusun balok menjadi bangunan gedung atau jembatan sesuai imajinasi mereka, tanpa mendikte harus meletakkan balok di mana.

Ataupun pada saat anak menghadapi permasalahan sederhana seperti kesulitan mengambil sesuatu, seperti: jika mainan anak menggelinding ke bawah meja, Miss menyemangati anak untuk mencoba menjangkaunya sendiri atau alat bantu seperti penggaris, sebelum Miss turun tangan membantu.

8. Bagaimana bentuk kerja sama antara Guru Pendamping dan Wali Kelas agar kebutuhan setiap anak bisa terakomodasi?

Bentuk kerja sama antara Guru Pendamping dan wali kelas agar kebutuhan setiap anak terakomodasi yaitu, melalui:

  • kerjasama dalam pembagian tugas dan tanggung jawab di mana wali kelas fokus pada memimpin kelas secara umum, merancang dan menyampaikan materi pembelajaran utama (RPPH/Modul Ajar). Sementara Guru Pendamping fokus kepada anak-anak yang membutuhkan bantuan lebih (misalnya anak yang lambat motoriknya, kesulitan fokus, atau memiliki kebutuhan khusus). Ataupun ketika ada seorang anak mengalami tantrum atau menangis karena rindu orang tua, guru pendamping bertugas membawa anak tersebut ke sudut tenang untuk ditenangkan secara personal. Sementara itu, wali kelas tetap menjaga ritme kelas agar anak-anak lain tidak ikut terdistraksi dan kegiatan belajar tetap berjalan kondusif.
  • kerja sama dalam perencanaan (Planning) Yaitu wali kelas dapat berkomunikasi tentang perencanaan materi pembelajaran yang akan datang dan guru pendamping dapat membantu dengan menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Guru pendamping juga membantu dalam menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk anak yang masih membutuhkan bantuan
  • kerja sama dalam komunikasi berbagi informasi dan observasi harian yaitu wali kelas dan guru pendamping keduanya saling berbagi catatan tentang perkembangan emosi, sosial, dan kognitif anak saat proses pembelajaran yang sudah terlaksana atau kegiatan di luar bermain sentra. Selain itu berbagi informasi tentang kondisi anak perihal medis baik dari rumah atau saat di sekolah.

9. Apa yang biasanya Miss perhatikan untuk memahami karakter atau kebutuhan masing-masing anak?

  • Memperhatikan bagaimana cara anak mengomunikasikan keinginannya, baik kepada Miss maupun kepada sesama teman.
  • Pada saat Interaksi sosial: Apakah anak cenderung bermain bersama dalam kelompok, berkolaborasi, atau justru lebih nyaman bermain sendiri.
  • Bagaimana reaksi anak saat berkonflik dengan temannya.
  • Miss juga mengamati bagaimana cara anak mengekspresikan rasa senang, kecewa, takut, sedih, atau marah.
  • Bagaimana reaksi anak ketika mendapatkan tantangan pada saat kegiatan motorik halus (seperti mengunting menempel) dan pada saat mengalami kegagalan (misalnya, menara baloknya runtuh).
  • Tingkat kemandirian: Apakah anak sudah menunjukkan kemandirian nya atau masih membutuhkan pendampingan penuh untuk aktivitas dasar.
  • Melihat bagaimana respons anak saat mendengarkan Miss memberikan informasi, dan meminta anak untuk merapikan mainan, atau mengantre bergantian pada saat berkegiatan.
  • Memperhatikan fokus perhatian anak seberapa lama mampu duduk tenang dan mengikuti instruksi Miss selama kegiatan berlangsung.
  • Keaktifan fisik anak, apakah anak tersebut sangat aktif bergerak di area indoor atau outdoor atau lebih tenang.

10. Bagaimana Miss mendampingi anak ketika sedang menangis, marah, takut, atau sulit mengikuti kegiatan?

1. Miss saat mendampingi anak ketika sedang menangis melakukan pendekatan emosional yang menenangkan, memvalidasi perasaan, dan menciptakan rasa aman, melakukan beberapa hal ini, yaitu:

  • harus tetap tenang, sabar, dan tidak menunjukkan kepanikan atau kekesalan.
  • menggunakan nada suara lembut dan perlahan bertanya penyebab kenapa anak tersebut menangis.
  • memberikan sentuhan nyaman seperti usapan lembut di tangan atau di punggung dan mengakui emosi kesedihannya atau kekecewaan nya. memberikan penjelasan yang jelas jika anak tersebut menangis karena sedih berpisah dengan Ayah Bunda saat berangkat sekolah dan menyakinkan anak tersebut dengan memberikan pijakan bahwa Ayah Bunda mereka pasti akan kembali. “Sekarang kita di sekolah berkegiatan dengan Miss dan teman-teman dulu ya. Ayah Bunda juga akan berkegiatan bekerja. Nanti setelah jam pulang, Ayah Bunda akan jemput kakak di sekolah.”
  • selanjutnya mengalihkan perhatian secara perlahan dengan ikut bergabung dengan teman-teman bermain dengan mainan yang sudah di siapkan oleh Miss di ruang tengah. Dan jika anak belum mau bergabung dengan aktivitas teman-teman yang lain, jangan dipaksa. Izinkan ia duduk di sudut yang tenang untuk sekadar mengamati Miss dan teman-temannya terlebih dahulu atau tawarkan kegiatan membaca buku atau jurnal.
  • jika anak tersebut belum mau bergabung main, Miss akan meminta bantuan teman satu kelompoknya atau teman yang cenderung dekat atau ramah untuk mengajak anak yang menangis tersebut bermain bersama atau sekadar menyapanya.

2. Miss saat mendampingi anak ketika sedang marah, melalukan pendekatan dengan menenangkan fisik anak terlebih dahulu sebelum mengajaknya berkomunikasi atau menasihatinya. Lalu kemudian melalukan hal-hal berikut ini:

  • Terlebih dahulu mengamankan situasi dan kita sebagai Miss tetap tenang dalam mengontrol emosi sendiri, menggunakan bahasa yang lembut, serta menghindari membalas amarah anak agar anak tidak semakin histeris.
  • Bawa ke tempat yang aman, jika anak mengamuk atau tantrum di ruang tengah, ajak anak ke sudut ruangan yang lebih tenang atau pisahkan sementara dari teman-temannya agar ia bisa menyendiri dengan aman.
  • Validasi perasaan anak dengan mengenali emosi yang sedang mereka rasakan dan berikan empati dengan berkata “Miss tahu kamu sedang marah karena mainannya diambil, ya?”. Dan berikan sentuhan lembut pada kedua tangan atau punggung untuk memberikan rasa aman.
  • Ajak anak membaca istigfar dan menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan untuk supaya lebih tenang.
  • Berikan waktu beberapa saat hingga ia merasa benar-benar tenang dan rileks.
  • Ketika anak sudah tenang, ajak ia mengobrol tentang penyebab kemarahannya, jika kemarahannya dipicu oleh keinginan yang tidak bisa dituruti, berikan penolakan halus lalu tawarkan 2 pilihan alternatif lain yang diperbolehkan agar anak merasa tetap memegang kendali.
  • Memberikan pijakan ke anak bahwa merasa marah itu wajar, namun menyakiti teman atau merusak barang adalah hal yang tidak boleh dilakukan.
    – Berikan penguatan positif saat anak berhasil menenangkan diri atau mau meminta maaf, berikan pujian yang spesifik atas usahanya mengontrol emosi.

3. Miss saat mendampingi anak ketika sedang takut dengan cara memvalidasi emosinya terlebih dahulu, memberikan rasa aman secara fisik dan verbal, serta membantunya mengelola kecemasan secara perlahan. Berikut ini tahapan yang biasa kami lakukan:

  • Miss datang dan mendekati anak dan memberikan kehadiran fisik dengan memberikan sentuhan lembut pada kedua tangannya atau belaian lembut pada punggung serta berbicara dengan suara yang tenang dan lembut untuk menurunkan tingkat kepanikan anak.
  • Mendengarkan penyebab ketakutannya dan tidak mengabaikan atau meremehkan penyebab ketakutan mereka.
  • Apabila penyebab ketakutan tersebut yaitu takut naik brakiasi pada saat kegiatan motorik, maka Miss memberikan keyakinan kepada anak tersebut dengan pendampingan Miss yang ada di sampingnya insyaAllah akan aman, serta dengan memberikan dukungan dan motivasi cara naik brakiasi dengan aman.
  • Berikan Pujian atas apresiasi keberanian anak yang sudah mau mencoba naik brakiasi dengan tenang.

4. Miss saat mendampingi anak ketika sedang sulit mengikuti kegiatan:

  • Dekati anak secara personal dengan suara lembut dan tanyakan apa yang ia rasakan.
  • Memberikan Instruksi yang pendek dan jelas serta menggunakan kalimat positif seperti “Yuk, sekarang waktunya kita duduk tenang mendengarkan cerita”.
  • Menempatkan anak yang sulit fokus di dekat Miss dan jauh dari distraksi utama seperti pintu keluar atau jendela.
  • Memberikan tanggung jawab kecil dengan menyalurkan energi berlebih atau keinginan mencari perhatiannya dengan memberikan tugas membantu Miss, seperti membagikan kertas atau selembar Asmaul Husna, atau memimpin senam.
  • Memberikan pujian ketika anak berhasil duduk tenang selama beberapa menit atau berhasil mengikuti satu instruksi kecil.

galeri Miss Ekka bersama murid PAUD Islam Bintang Juara

C. Memahami Anak dari Baby Toddler hingga TK A

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan dan kemampuan anak berkembang dengan cara yang berbeda. Pengalaman Miss Ekka mendampingi dua tahap usia ini memberinya kesempatan untuk melihat perubahan dalam kemampuan bahasa, motorik, kemandirian, interaksi sosial, dan pengelolaan emosi anak.

11. Setelah pernah mendampingi Baby Toddler dan sekarang TK A, apa perbedaan kebutuhan anak di kedua tahap tersebut?

Perbedaan paling mendasar terletak pada pergeseran fokus perkembangan, dari yang tadinya berpusat pada kemandirian fisik dasar dan regulasi emosi awal, kini bergeser ke arah sosialisasi, kemampuan kognitif yang lebih kompleks, dan persiapan akademik awal.

Perbedaan kebutuhan anak di Baby Toddler dan TK A bisa dilihat pada tabel berikut:

TahapanKemandirianMotorikBahasa & KomunikasiSosialisasi & EmosiKemandirian
Baby ToddlerMasih butuh bantuan penuh atau sebagian untuk kegiatan makan minum, memakai baju, dan toilet training.Motorik Kasar: Belajar berjalan, berlari, melompat, dan menjaga keseimbangan.Menambah kosakata baru, meniru kata, dan mengekspresikan keinginan lewat kalimat pendek.Bermain berdampingan tapi tidak berinteraksi. Menangis karena belum mampu mengungkapkan dengan cara berbicara atau berkomunikasi.Berbasis sensorik (menyentuh, merasakan, mengeksplorasi tekstur dan benda).
TK AMulai mandiri (toilet training, bisa memakai sepatu tanpa tali, makan sendiri, memakai baju atau celana sendiri).Motorik Halus: Belajar memegang pensil, spidol, krayon dengan benar, menggunting, dan menempel.Berbicara lancar, mampu menceritakan kembali sebuah kisah, dan memahami instruksi 2–3 tahap.Bermain secara bersama, berbagi, dan bernegosiasi dan mulai belajar regulasi emosi.Berbasis permainan terstruktur, mulai mengenal konsep simbolis (huruf, angka, dan bentuk).

12. Menurut Miss, kemampuan apa yang mulai terlihat berkembang ketika anak beranjak dari Baby Toddler menuju TK A?

Ketika anak beranjak dari masa Baby Toddler menuju TK A, mereka mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di fase ini, anak mulai bertransformasi dari seorang balita yang masih sangat bergantung pada orang tua menjadi individu kecil yang lebih mandiri dan bersosialisasi.

Kemampuan yang terlihat berkembang sangat jelas seperti:

1. Kemampuan Bahasa dan Komunikasi

  • Kosa kata yang semakin banyak sehingga anak tidak lagi memakai kalimat pendek (2-3 kata), tetapi sudah bisa berbicara dalam kalimat lengkap dan bercerita tentang harinya.
  • Anak sudah memahami instruksi yang lebih kompleks. Jika dulu mereka hanya bisa mengikuti satu perintah, sekarang mereka mampu melakukan 2 hingga 3 perintah sekaligus (misalnya: “Tolong ambil tasnya, buka resletingnya, lalu ambil jilid ngaji yang ada di dalamnya“).
  • Banyak bertanya, Kalimat mereka didominasi oleh pertanyaan “Kenapa Miss ?“, “Apa itu Miss?”, dan “Bagaimana Miss?“.

2. Kemampuan Sosial dan Emosional

  • Saat Baby Toddler, anak biasanya bermain “sendiri-sendiri” meskipun duduk bersebelahan. Memasuki TK A, mereka mulai bermain bersama, berbagi mainan, dan bekerja sama.
  • Intensitas tantrum umumnya mulai menurun. Anak mulai bisa mengungkapkan rasa tidak nyamannya lewat kata-kata daripada sekadar menangis atau memukul.
  • Mereka mulai memahami perasaan orang lain, seperti menghibur teman yang sedang menangis.

3. Kemampuan Motorik (Fisik)

  • Motorik Kasar: Keseimbangan tubuhnya jauh lebih stabil. Anak TK A sudah lancar melompat dengan satu kaki, memanjat, berlari kencang, dan mulai belajar mengayuh sepeda roda tiga.
  • Motorik Halus: Otot jarinya semakin kuat. Mereka mulai bisa memegang pensil dengan posisi yang benar, menggunting kertas mengikuti garis, dan meniru bentuk dasar seperti lingkaran.

4. Kemandirian

  • Toilet training: Sebagian besar anak di usia TK A sudah bisa pergi ke toilet sendiri dan tahu kapan mereka harus buang air.
  • Berpakaian sendiri: Mereka mulai bisa memakai baju, celana, dan sepatu (menggunakan perekat) tanpa banyak bantuan.
  • Makan sendiri: Kemampuan makan sendiri menggunakan sendok dan garpu sudah jauh lebih rapi dibandingkan masa Baby Toddler.

13. Apakah pengalaman mendampingi Baby Toddler membantu Miss lebih memahami perilaku anak TK A sekarang?

Ya, pengalaman mendampingi kelompok Baby Toddler sangat membantu Miss Ekka dalam memahami, membaca, dan merespons perilaku anak-anak TK A saat ini. Misalnya, ketika anak TK A tantrum, menangis saat berpisah di pagi hari, maka Miss Ekka belajar dari pengalaman saat di Baby Toddler yang mengajarkan pentingnya menciptakan rasa aman, tenang dan membangun kedekatan terhadap anak sehingga membangun rasa kepercayaan anak kepada Miss.

Selain itu menghadapi Baby Toddler yang kemampuan bicaranya masih sangat terbatas melatih insting untuk membaca bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada tangisan. Kemampuan ini sangat terpakai di TK A untuk mendeteksi anak yang mulai tidak nyaman, lelah, atau cemas sebelum mereka menyuarakannya secara verbal.

Terlihat sejak di Baby Class, bahwa ada anak yang berjalan duluan, ada yang bicara duluan, dan ada yang matang secara sosial duluan. Pemahaman ini membuat Miss Ekka tidak terburu-buru memberi label atau menuntut hasil yang sama rata pada anak-anak TK A, karena setiap anak memiliki kalender perkembangannya masing-masing.

Pengalaman bersama Baby Toddler mengajarkan Miss Ekka bahwa pemenuhan rasa aman dan kebutuhan emosional adalah kunci utama sebelum kita bisa mengajak anak masuk ke ranah pembiasaan dan akademik di jenjang TK A. Selain itu mendampingi kelompok Baby Toddler melatih insting untuk membaca bahasa tubuh. Kemampuan ini sangat berguna di kelas TK A untuk mendeteksi anak yang sedang cemas, tidak nyaman, atau kehilangan fokus sebelum mereka mulai menunjukkan perilaku mengganggu di kelompoknya.

14. Ada nggak perubahan kecil pada anak yang menurut orang lain biasa saja, tetapi bagi guru sebenarnya merupakan pencapaian besar?

Ada, berikut beberapa perubahan kecil yang di anggap Miss merupakan pencapaian besar pada anak:

  • Bisa Membuka Kotak Bekal atau Menutup Botol Sendiri.
  • Berhasil Memakai Sepatu Tanpa Terbalik.
  • Mau Menunggu Giliran Tanpa Menangis.
  • Menawarkan mainan ke teman tanpa diminta.
  • Mengatakan “Aku Sedang Sedih/Marah” Dan tanpa melakukan tindakan fisik.
  • Bisa duduk tenang mendengarkan cerita selama 5 menit pada anak yang biasanya berlarian.
  • Mampu mengikuti instruksi dua tahap sekaligus, seperti,” Silahkan simpan kaos kakinya di dalam tas, lalu ambil tempat bekal dan botol minumnya ya“.
  • Mengulurkan tangan meminta maaf kepada temannya, ketika melihat temannya tidak nyaman karena dari perbuatan nya.

Bagi Miss Ekka, pertumbuhan anak tidak diukur dengan nilai, melainkan dengan momen-momen kecil penuh perjuangan.

15. Apa yang sebenarnya sedang dipelajari anak ketika mereka bermain, bereksplorasi, atau berinteraksi dengan teman?

Saat anak bermain, bereksplorasi, atau berinteraksi, mereka tidak sekadar bersenang-senang. Bagi mereka bermain adalah cara utama mereka belajar. Di balik tawa dan keriuhan mereka, otak dan keterampilan mereka sedang berkembang secara masif melalui aktivitas berikut:

1. Saat Mereka Bermain.

  • Bermain dengan teman memaksa anak untuk menggunakan kata-kata secara efektif. Mereka mendengar dan meniru kata-kata baru dari temannya dan belajar bagaimana cara mengekspresikan keinginan, memberikan instruksi permainan, dan mendengarkan ide teman agar komunikasi dua arah dapat terwujud.
  • Aktivitas fisik saat bermain membentuk perkembangan fisik mereka seperti: Motorik Kasar (Berlari, melompat, memanjat, dan mengejar teman melatih keseimbangan, kekuatan otot, dan koordinasi tubuh), dan Motorik Halus (Memegang mainan kecil, meronce atau mengancingkan baju melatih otot-otot jari tangan yang nantinya sangat penting untuk belajar menulis.)
  • Bermain juga melatih ketahanan mental dan kepercayaan diri seperti : Saat memanjat pohon atau melompat dari tempat yang agak tinggi, anak belajar mengukur batas kemampuan dirinya.
  • Bermain juga melatih diri untuk belajar dari kegagalan: Ketika menyusun balok dan runtuh, mereka belajar untuk tidak langsung menyerah dan mencoba membangunnya kembali dengan strategi yang berbeda.

2. Saat Mereka Bereksplorasi.

Ketika mereka eksplorasi dengan bermain air, balok, pasir, atau mencampur warna, mereka belajar konsep volume, gravitasi (menyusun balok terlalu tinggi akan runtuh), dan keseimbangan. Selain itu mereka juga belajar akan kemampuan berpikir simbolik: Saat bermain peran (berpura-pura menjadi dokter, guru, atau memasak), mereka melatih imajinasi dan kemampuan berpikir abstrak yang menjadi dasar kemampuan membaca dan berhitung di masa depan.

3. Saat Mereka Berinteraksi dengan Teman.

Ketika anak berebut mainan, mengobrol, atau membuat aturan permainan bersama, mereka sedang belajar memahami perasaan orang lain (“Dia menangis karena mainannya kuambil“) dan mengontrol emosi sendiri saat harus bergantian, menemukan solusi saat berebut mainan, belajar bernegosiasi, dan berkompromi agar permainan bisa tetap berjalan. Selain itu mereka belajar tentang konsep kerja sama dengan Memahami konsep bergiliran dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (misalnya menyusun balok di sentra balok).

D. Dari Baby Toddler, Belajar Memahami Anak

Pengalaman bersama anak-anak yang masih belajar mengenali dunia mengajarkan Miss Ekka untuk lebih peka terhadap kebutuhan dan perasaan mereka. Pelajaran tersebut tetap ia terapkan saat mendampingi anak TK A, terutama dalam memberikan rasa aman, memvalidasi emosi, dan menghargai ritme perkembangan setiap anak.

16. Apa pelajaran dari mendampingi Baby Toddler yang sampai sekarang masih Miss terapkan ketika mendampingi anak TK A?

Ada beberapa pelajaran yang Miss Ekka dapatkan dari Baby Toddler yang masih Miss Ekka terapkan pada saat mendampingi anak TK A yaitu:

Kebutuhan dan Pelajaran yang DidapatKebutuhan regulasi emosi dengan validasi emosi terlebih dahulu.Belajar Melalui Eksplorasi Sensori dan BermainFokus pada Proses, Bukan Hasil Akhir
Pelajaran dari BabyToddlerBabyToddler saat mereka tidak nyaman, mereka merespon dengan menangis karena otak emosional mereka belum matang dan mereka belum bisa mengekspresikan diri dengan kata-kata. Mereka butuh orang dewasa untuk membantu menenangkan diri, dan yang dilakukan adalah dengan memeluk dan menenangkan fisiknya.BabyToddler belajar tentang lingkungan sekitar dengan melihat, meraba, meremas, eksplorasi rasa atau bau, dan menggerakkan seluruh tubuh mereka.Saat BabyToddler belajar makan sendiri, fokusnya adalah mereka mau mencoba, bukan masalah makanannya berantakan atau tidak.
Penerapan
di TK A
Anak TK A sudah bisa berbicara dengan baik, tetapi saat mereka sedih, kecewa atau lelah, kemampuan bahasanya bisa menurun dan mereka tetap bisa menangis atau marah (misalnya berebut mainan atau tidak mau ditinggal orang tua). Miss Ekka akan menerapkan ilmu BabyToddler dengan menenangkan emosinya terlebih dahulu, mengakui perasaannya, baru kemudian mengajak mereka berdiskusi atau penyelesaian masalah.Meskipun anak TK A sudah mulai belajar hal-beda yang lebih akademis (seperti mengenal huruf dan angka di sentra persiapan). Miss Ekka saat pendampingan dengan anak tetap membawa unsur belajar sensorik dan bermain, misalnya mengajak mereka berhitung untuk mengetahui jumlah siswa yang hadir dan tidak hadir, menghitung stik es krim dan mengenal bentuk geometri dari kegiatan motorik halus, serta mengenal nama buah atau hewan saat kegiatan bermain serta meraba benda nyata dari lingkungan sekitar.Saat anak TK A mau berlatih makan sayur, menggunting, atau memakai sepatu sendiri, Miss Ekka tidak menuntut kerapian yang sempurna. Pelajaran dari masa Baby Toddler mengajarkan Miss Ekka untuk memuji usaha dan prosesnya agar mindset mereka terbentuk dan tidak takut salah.

17. Apakah pengalaman Baby Toddler membuat Miss melihat bahwa setiap anak memang punya ritme tumbuh yang berbeda? Bisa diceritakan pengalamannya?

Ya, Pengalaman mendampingi anak-anak di usia Baby Toddler adalah bukti paling nyata bahwa setiap anak memiliki ritme tumbuh kembang yang unik dan tidak bisa disamakan.

Miss Ekka mempunyai pengalaman dimana ritme anak berbeda dalam perkembangan motorik kasar (Berjalan) yang ada di kelompok Baby Class.

  • Pengalaman: Miss Ekka pernah mendampingi dua anak di Baby Class yang usia berbeda jauh. Anak pertama berusia 11 bulan dan anak kedua berusia 16 bulan. Di usia mereka yang berbeda, mereka berdua baru mulai berani melepaskan pegangan dan berjalan mandiri keliling kelas.
  • Pelajaran yang Diambil: Anak kedua tidak mengalami keterlambatan; dia hanya memiliki ritme yang berbeda. Fokusnya saat itu ternyata sedang beralih ke kemampuan lain, yaitu mengamati lingkungan secara visual dan fokus pada motorik halus. Begitu dia merasa siap dan percaya diri, kemampuan berjalannya langsung melesat tanpa hambatan.

Dari pengalaman ini, Miss Ekka belajar bahwa tugas kita sebagai Miss bukan mendorong atau memutus ritme alami anak agar sama dengan anak lain. Tugas kita adalah:

  • Menyediakan stimulasi yang tepat sesuai dengan zona perkembangan mereka saat itu.
  • Menghargai proses tanpa memberikan label atau membanding-bandingkan.
  • Menjaga rasa percaya diri anak agar mereka merasa dihargai dengan ritme mereka sendiri.

Melihat anak tumbuh dengan ritmenya masing-masing adalah proses yang sangat indah, karena pada akhirnya, setiap anak akan sampai pada tujuannya dengan cara dan keunikan mereka sendiri.

18. Dari pengalaman Miss, apa yang sering kali orang dewasa salah pahami tentang perilaku anak usia dini?

Dari pengalaman Miss Ekka mendampingi proses belajar anak, orang dewasa sering kali salah memahami perilaku anak usia dini dengan menganggapnya sebagai bentuk kenakalan, kesengajaan, atau kurangnya aturan. Seperti: melempar barang (usia 0-2 tahun), menolak perintah (usia 1-4 tahun), berteriak, dan suka berlarian atau tidak fokus.

Padahal anak tersebut berada di fase eksplorasi sensori motor untuk memahami sebab akibat, sedang belajar memahami kehendak dan kemandirian. Selain itu anak tersebut belum memiliki kemampuan bahasa dan regulasi emosi yang matang untuk menyampaikan apa yang ia rasakan.

Pada anak usia dini rentang perhatian memang masih sangat pendek dan mereka membutuhkan ruang bergerak untuk menyalurkan energi serta stimulus. Selain itu orang dewasa cenderung menilai perilaku anak usia dini menggunakan standar logika dan kontrol emosi orang dewasa. Anak-anak bukan “orang dewasa versi mini”. Otak mereka sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat, namun bagian yang mengatur logika, perencanaan, dan kontrol emosi belum matang sempurna.

E. Sekolah dan Ayah Bunda, Tumbuh Bersama

Proses tumbuh kembang anak tidak berhenti ketika kegiatan sekolah selesai. Pembiasaan di rumah, komunikasi yang terbuka, dan keselarasan pendekatan antara guru dengan orang tua menjadi bagian penting agar anak memperoleh pendampingan yang konsisten dalam kesehariannya.

19. Kebiasaan atau kemampuan apa yang menurut Miss penting untuk dilanjutkan Ayah Bunda di rumah agar selaras dengan pembiasaan di sekolah?

Agar proses belajar dan pembentukan karakter anak berjalan selaras antara sekolah dan rumah, ada beberapa pembiasaan dan kemampuan mandiri yang sangat penting untuk dilanjutkan oleh Ayah dan Bunda di rumah yaitu:

  • Kemandirian Dasar: Membiasakan anak untuk merapikan barangnya sendiri (seperti mainan atau tas sekolah), memakai sepatu atau baju sendiri, makan sendiri dan merapikan alat makan selesai makan, toilet training secara konsisten, mencuci tangan sebelum atau sesudah makan menggunakan sabun.
  • Menjaga kebersihan: membuang sampah pada tempatnya.
  • Rutinitas yang Teratur: Menjaga jadwal tidur, bangun, dan makan yang konsisten seperti di sekolah agar anak memiliki ritme biologis yang stabil.
  • Kemampuan Mengelola Emosi: Mengajarkan anak mengenali emosinya (marah, sedih, kecewa) dan memberikan ruang aman bagi mereka untuk bercerita atau merasakan lewat kata-kata (bukan dengan menangis atau mengamuk).
  • Komunikasi dan Etika: Membiasakan penggunaan “tiga kata ajaib” (Tolong, Terima Kasih, dan Maaf) dalam interaksi sehari-hari di rumah.
  • Berbagi dan mengantre: Melatih kesabaran anak untuk menunggu giliran, baik saat bermain bersama saudara maupun saat berinteraksi dengan orang tua.
  • Menjaga kebersihan: Melatih anak membuang sampah pada tempatnya dan menaruh piring kotor mereka ke wastafel setelah makan.
  • Membaca bersama: Luangkan waktu minimal 10-15 menit sehari untuk membaca buku cerita bersama anak dan mendiskusikan isinya.
  • Recalling dan merefleksikan hari: Ayah Bunda bisa bertanya “Hal apa yang paling menyenangkan di sekolah hari ini?” untuk memancing anak bercerita secara runut.

20. Seberapa penting komunikasi antara guru dan orang tua dalam memahami perkembangan seorang anak?

Komunikasi antara guru dan orang tua memiliki peran yang sangat penting karena menjadi pondasi utama untuk menyamakan persepsi pendidikan dan pengasuhan antara sekolah dan rumah.

Melalui komunikasi yang efektif, guru dan orang tua dapat menciptakan kesinambungan stimulasi yang konsisten bagi tumbuh kembang anak. Selain itu ketika guru dan orang tua aktif berbagi informasi, anak akan mendapatkan lingkungan belajar yang stabil dan selaras, baik saat berada di sekolah maupun di rumah.

21. Apa pesan Miss untuk Ayah Bunda yang mungkin merasa anaknya “belum bisa” dibandingkan anak seusianya?

Pesan terpenting untuk Ayah Bunda adalah: Berhentilah membandingkan, karena setiap anak memiliki jadwal perkembangannya sendiri.
Sangat wajar jika Ayah Bunda terkadang merasa cemas atau khawatir saat melihat anak seusianya tampak “lebih cepat” dalam hal tertentu.

Namun, perlu diingat bahwa tumbuh kembang anak bukanlah sebuah perlombaan. Setiap anak memiliki garis start, kecepatan, dan waktu berkembang yang berbeda-beda. Anak yang terlihat “belum bisa” saat ini bukan berarti mereka tidak mampu, melainkan mereka sedang sibuk membangun fondasi perkembangan yang lain.

F. Dari Anak-Anak, Miss Juga Belajar

Selama mendampingi anak dari Baby Toddler hingga TK A, Miss Ekka menyadari bahwa proses pendidikan berlangsung dua arah. Anak-anak tidak hanya belajar dari orang dewasa, tetapi juga mengajarkan kesabaran, ketulusan, dan pentingnya menyediakan ruang yang aman agar setiap anak dapat berkembang sesuai potensinya.

22. Setelah mendampingi anak dari usia Baby Toddler hingga TK A, apa pelajaran terbesar yang justru Miss dapatkan dari anak-anak?

Mendampingi anak-anak bertumbuh dari masa baby toddler hingga duduk di bangku TK A adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. Dari sebuah perjalanan hingga mendapatkan pelajaran yang didapatkan dari mereka dalam mendampingi anak-anak bukan hanya tentang membentuk karakter mereka, melainkan tentang bagaimana mereka secara perlahan melembutkan dan memperbaiki karakter kita sebagai orang dewasa.

Banyak orang mengira guru atau pendidik adalah pihak yang memberikan pelajaran. Namun pelajaran terbesar justru datang dari anak-anak itu sendiri.

Melihat perkembangan mereka dari yang awalnya hanya bisa merangkak dan menangis, hingga kini bisa berdiskusi, bercerita, dan memimpin doa di kelas TK A membuat Miss Ekka sadar bahwa tugas kita bukanlah “membentuk” mereka menjadi apa yang kita mau, melainkan menyediakan ruang yang aman, sabar, dan penuh kasih agar mereka bisa berkembang menjadi diri mereka sendiri yang terbaik.

Selain itu mendampingi mereka membuat kita sadar bahwa mendidik anak bukan tentang “mengisi gelas kosong”, melainkan tentang menyelaraskan diri kita agar bisa bertumbuh bersama mereka. Mereka adalah cermin yang merefleksikan bagaimana kita bersikap.

Kisah Miss Ekka mengingatkan kita bahwa tumbuh kembang anak bukanlah perlombaan. Setiap anak memiliki ritme, kebutuhan, dan cara belajar yang berbeda. Ketika orang dewasa bersedia memahami, mendampingi dengan sabar, dan menghargai setiap kemajuan kecil, anak memiliki ruang untuk tumbuh menjadi dirinya yang terbaik. Sebab, membersamai anak juga berarti belajar dan bertumbuh bersama mereka.*** (CM-MRT)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*