Search

W-Sitting pada Anak: Berbahaya atau Tidak? Ini yang Perlu Ayah Bunda Ketahui

w-sitting pada anak

Ayah dan Bunda, pernah melihat si kecil duduk dengan posisi kaki membentuk seperti huruf W?

Saat sedang bermain di lantai, si kecil mungkin terlihat begitu nyaman. Kedua kaki berada di samping tubuh, lutut menekuk ke depan, sementara tubuhnya tetap tegak dan stabil.

“Apakah posisi ini berbahaya?”

Pertanyaan tersebut cukup sering muncul ketika orang tua melihat anak duduk dalam posisi W.

Posisi ini dikenal sebagai W-sitting dan cukup umum ditemukan pada anak usia dini. Anak dapat memilih posisi tersebut karena memberikan bidang tumpuan yang luas sehingga terasa stabil ketika bermain di lantai.

Namun, apakah W-sitting pasti buruk untuk postur anak?

Ternyata tidak sesederhana itu.

Penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa kita perlu berhati-hati dalam mengatakan bahwa W-sitting adalah posisi yang berbahaya.

W-Sitting pada Anak Tidak Otomatis Berarti Ada Masalah

W-sitting adalah posisi duduk ketika anak duduk dengan lutut berada di depan dan kedua kaki berada di sisi tubuh sehingga jika dilihat dari atas, bentuknya menyerupai huruf W.

Posisi ini cukup umum pada anak usia sekitar 3–6 tahun. Salah satu alasannya berkaitan dengan perkembangan alami bentuk dan rotasi tulang paha pada masa kanak-kanak.

Karena posisi W memberikan dasar tumpuan yang lebar, anak dapat merasa lebih stabil ketika bermain menggunakan kedua tangannya.

Itulah sebabnya, ketika Ayah dan Bunda melihat si kecil W-sitting, tidak perlu langsung panik atau menganggap ada kelainan pada tubuhnya.

W-sitting sesekali bukan berarti anak sedang mengalami gangguan perkembangan. Yang lebih penting adalah melihat gambaran perkembangan anak secara keseluruhan.

Lalu, Apakah W-Sitting Berbahaya?

Anggapan bahwa W-sitting dapat menyebabkan berbagai masalah ortopedi memang sudah lama beredar.

Beberapa kekhawatiran yang sering disebut antara lain dapat menyebabkan displasia pinggul, gangguan bentuk kaki, kontraktur, atau masalah perkembangan motorik.

Namun, bagaimana dengan bukti ilmiahnya?

Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Acta Orthopaedica Brasileira dan terindeks PubMed menelaah penelitian mengenai W-sitting. Peneliti menelusuri beberapa basis data ilmiah dan pada akhirnya menganalisis tujuh studi.

Hasilnya cukup menarik: tidak ditemukan bukti ilmiah yang mendukung larangan W-sitting pada anak dan tidak ditemukan hubungan antara W-sitting dengan developmental dysplasia of the hip (DDH). Review tersebut juga menyatakan bahwa bukti yang tersedia saat ini masih terbatas dan sebagian besar penelitian memiliki kualitas metodologis yang rendah.

Artinya, kita tidak bisa mengatakan: “Anak W-sitting pasti akan mengalami masalah pinggul.”

Pernyataan seperti itu tidak didukung oleh bukti ilmiah yang cukup.

Bagaimana dengan Postur dan Perkembangan Motorik?

Kekhawatiran lain adalah W-sitting dianggap dapat menghambat perkembangan motorik atau menyebabkan pola gerak yang buruk.

Namun, tinjauan mengenai mitos dalam ortopedi anak juga menyatakan bahwa belum ada bukti ilmiah bahwa W-sitting menyebabkan kontraktur, dislokasi pinggul, atau defisit fungsional.

Sebuah penelitian yang melihat hubungan antara W-sitting dan displasia pinggul juga tidak menemukan hubungan tersebut. Pada penelitian terhadap 104 anak, displasia pinggul ditemukan pada 9% anak yang pernah atau sedang W-sitting dan 10% pada kelompok yang tidak W-sitting—perbedaannya tidak bermakna secara statistik.

Jadi, bukan berarti orang tua harus terus-menerus mengoreksi anak setiap kali melihat posisi W.

Justru, yang lebih penting adalah memberikan anak kesempatan untuk menggunakan berbagai posisi tubuh dan bergerak secara aktif.

Bukan Melarang, tetapi Memberikan Variasi

Kalau begitu, apakah Ayah dan Bunda boleh membiarkan anak W-sitting?

Daripada berpikir dalam kategori “boleh” atau “tidak boleh”, akan lebih bermanfaat jika kita melihatnya sebagai salah satu dari banyak posisi yang dapat digunakan anak.

Ketika bermain di lantai, anak dapat duduk bersila, selonjor, duduk menyamping, berlutut, berdiri, berjalan mengambil mainan, kemudian kembali duduk.

Semakin beragam pengalaman geraknya, semakin banyak kesempatan anak untuk menggunakan tubuhnya dalam berbagai cara.

Jadi, ketika si kecil W-sitting, Ayah dan Bunda dapat menawarkan alternatif dengan santai:

“Mau coba duduk bersila sambil susun baloknya?”

atau

“Yuk, setelah ini kita berdiri dan ambil mainan yang di sana.”

Bukan teguran. Bukan kemarahan. Melainkan ajakan untuk berganti posisi dan bergerak.

Mengapa Anak Perlu Banyak Bergerak?

Masa kanak-kanak merupakan masa ketika kemampuan motorik terus berkembang.

Anak belajar menjaga keseimbangan, mengatur koordinasi, berlari, melompat, memanjat, meraih benda, membawa barang, hingga berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya.

Karena itu, kesehatan postur tidak hanya ditentukan oleh bagaimana anak duduk. Kesempatan untuk bergerak juga penting.

Daripada terlalu fokus memastikan anak duduk dalam satu posisi yang dianggap “paling benar”, Ayah dan Bunda dapat menciptakan lingkungan bermain yang membuat anak aktif bergerak dan secara alami berganti posisi.

Misalnya dengan meletakkan mainan pada beberapa area sehingga anak perlu berpindah tempat untuk mengambilnya.

Ajak anak bermain di luar. Berikan kesempatan untuk berlari, melompat, berjalan, atau melakukan permainan yang sesuai dengan usianya.

Dengan begitu, tubuh anak mendapatkan pengalaman gerak yang lebih beragam.

Kapan Orang Tua Perlu Lebih Memperhatikan?

Meskipun W-sitting sendiri belum terbukti menyebabkan masalah ortopedi, bukan berarti semua kondisi yang terlihat bersamaan dengan W-sitting harus diabaikan.

Ayah dan Bunda dapat memperhatikan apabila anak menunjukkan keluhan nyeri, kesulitan bergerak, keterbatasan gerak yang nyata, sering jatuh, perubahan kemampuan motorik, atau kekhawatiran lain mengenai perkembangan tubuhnya.

Dalam situasi seperti itu, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang sesuai.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi anak secara keseluruhan, bukan semata-mata posisi duduknya.

Ini juga penting karena beberapa anak yang memiliki kondisi perkembangan atau neuromotor tertentu mungkin menggunakan W-sitting sebagai cara untuk mendapatkan stabilitas tubuh.

Jadi, posisi W bukan otomatis penyebab masalah. Dalam beberapa kondisi, posisi tersebut justru dapat menjadi bagian dari cara anak beradaptasi dengan kemampuan tubuhnya.

Jadi, Haruskah Anak Dilarang W-Sitting?

Jawabannya: tidak perlu panik dan tidak perlu langsung melarang.

Bukti ilmiah saat ini tidak menunjukkan bahwa W-sitting pada anak yang berkembang secara tipikal menyebabkan displasia pinggul atau kerusakan ortopedi tertentu. Bahkan, systematic review terbaru menyimpulkan bahwa belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk melarang posisi tersebut.

Namun, Ayah dan Bunda tetap dapat mengajarkan variasi posisi.

Bukan karena W-sitting pasti berbahaya, tetapi karena anak memang membutuhkan pengalaman bergerak dan menggunakan tubuh dalam berbagai posisi.

Jadi ketika melihat si kecil duduk seperti huruf W:

  • Amati.
  • Jangan langsung panik.
  • Berikan alternatif.
  • Ajak bergerak.
  • Dampingi sesuai kebutuhan.

Dan jika ada tanda perkembangan atau gerak yang membuat Ayah dan Bunda khawatir, jangan menebak-nebak sendiri. Konsultasikan kepada tenaga profesional agar anak mendapatkan pendampingan yang sesuai.

Pada akhirnya, tujuan kita bukan membuat anak selalu duduk dalam posisi yang “sempurna”.

Tujuan kita adalah membantu anak mengenal tubuhnya, aktif bergerak, merasa nyaman, dan berkembang sesuai kebutuhannya.

Karena tubuh anak sedang belajar.

Dan tugas kita bukan mengoreksi setiap geraknya, melainkan menyediakan lingkungan yang aman agar ia dapat bergerak, bermain, bereksplorasi, dan tumbuh dengan optimal.*** (CM-MRT)

Sumber Referensi:

  • Nordon, D. G., dkk. (2024). W-Sitting in Childhood: A Systematic Review. Acta Ortopédica Brasileira, 32(6). Baca jurnal di PubMed
  • Rethlefsen, S. A., dkk. (2020). Hip Dysplasia Is Not More Common in W-Sitters. Clinical Pediatrics, 59(12), 1074–1079. Baca penelitian di PubMed
  • Honig, E. L., dkk. (2021). Pediatric Orthopedic Mythbusters: The Truth About Flexible Flatfeet, Tibial and Femoral Torsion, W-Sitting, and Idiopathic Toe-Walking. Current Opinion in Pediatrics, 33(1), 105–113. Baca review di PubMed

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*