Search

Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak melalui Kegiatan Bermain yang Bermakna

mengoptimalkan tumbuh kembang anak melalui kegiatan bermain yang bermakna

Bunda Vivi Psikolog membuka sesi parenting parenting wali murid TK A dengan tema “Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak melalui Kegiatan Bermain yang Bermakna” dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Apa harapan Ayah Bunda untuk anak?” Beragam jawaban muncul, seperti:

  • “Anak shalih.”
  • “Anak lebih mandiri.”
  • “Anak cerdas.”

Pertanyaan tersebut memang terdengar sederhana. Namun, semakin direnungkan, semakin banyak hal yang ternyata perlu dibicarakan.

Sebab, hampir setiap orang tua tentu memiliki harapan untuk anaknya. Ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, shalih dan shalihah, mandiri, percaya diri, mampu berkomunikasi, mudah beradaptasi, serta memiliki berbagai kemampuan yang akan menjadi bekalnya di masa depan.

Namun, bagaimana cara menuju ke sana?

Apakah cukup dengan meminta anak menjadi “anak shalih” atau “anak mandiri”? Atau justru ada proses panjang yang perlu dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil setiap hari?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi bagian dari pembahasan dalam kegiatan Parenting Wali Murid TK A PAUD Islam Bintang Juara bertajuk “Mengoptimalkan Perkembangan Anak melalui Kegiatan Bermain yang Menyenangkan dan Bermakna.” Bunda Vivi dalam materinya menyampaikan bahwa usia 4–5 tahun sebagai masa penting untuk memperkuat fondasi perkembangan anak melalui pengalaman yang sesuai dengan tahap usianya.

Parenting sebagai Ruang Bertumbuh Bersama

Kegiatan parenting ini dilaksanakan dalam dua pertemuan.

Pada Sabtu, 12 September 2026, kegiatan diikuti oleh wali murid TK A Kelompok Al Jabbar dan TK A Al Aziz.

Sementara itu, pada Sabtu, 19 September 2026, kegiatan dilanjutkan bersama wali murid TK A Kelompok Al Mu’min dan TK A Al Muhaimin.

Kegiatan dibuka oleh Miss Meliya Indriani, S.Pd., selaku Kepala KB–TK Islam Bintang Juara.

Lebih dari sekadar agenda pertemuan orang tua, parenting ini menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga. Ada beberapa tujuan yang ingin dibangun bersama, mulai dari mempererat silaturahmi antara orang tua dan guru, membangun komitmen serta kerja sama sekolah dan orang tua, hingga membangun komunikasi antarorang tua melalui pembentukan paguyuban kelas.

Tidak kalah penting, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi orang tua untuk memahami capaian perkembangan anak sekaligus menyiapkan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran PAUD yang menempatkan keluarga sebagai mitra penting dalam proses pendidikan anak. Capaian Pembelajaran PAUD juga menekankan pentingnya lingkungan belajar yang menyesuaikan usia, tahap perkembangan, minat, dan kebutuhan anak serta memberikan stimulasi secara holistik.

Dengan begitu, pendidikan anak tidak berhenti ketika anak pulang dari sekolah. Apa yang dipelajari dan distimulasi di sekolah dapat dilanjutkan melalui kehidupan sehari-hari di rumah.

Harapan Orang Tua Perlu Ditemani dengan Proses

Kembali pada pertanyaan Bunda Vivi Psikolog tentang harapan orang tua.

Ketika ada orang tua yang menjawab ingin anaknya menjadi anak shalih, Bunda Vivi Psikolog mengajak orang tua melihat harapan tersebut secara lebih realistis.

Memiliki harapan terhadap anak adalah hal yang wajar. Namun, harapan tersebut perlu ditempatkan sesuai dengan proses perkembangan anak.

Misalnya, ketika orang tua berharap anak menjadi shalih, muncul pertanyaan lanjutan:

Seperti apa anak shalih yang ingin kita tumbuhkan?

Menjadi pribadi yang shalih bukanlah target yang selesai dalam satu tahap usia. Ada proses panjang yang melibatkan pembiasaan, keteladanan, penguatan nilai, dan pendampingan dari lingkungan terdekat anak.

Karena itu, ketika orang tua berharap anak TK A sudah konsisten melakukan salat lima waktu, misalnya, harapan tersebut boleh menjadi cita-cita. Namun, yang tidak kalah penting adalah melihat proses pembiasaannya.

Bunda Vivi mengajak orang tua untuk bercermin:

“Dalam prosesnya, apakah kita sebagai orang tua sudah seshalih itu mendampingi anak?”

Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan orang tua. Justru menjadi pengingat bahwa anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan kepadanya, tetapi juga dari apa yang ia lihat dan alami setiap hari.

Anak membutuhkan contoh nyata.

Ketika orang tua ingin anak mencintai ibadah, anak membutuhkan pengalaman melihat dan merasakan bahwa ibadah adalah bagian yang hangat dan bermakna dalam kehidupan keluarganya.

Begitu pula dengan kemandirian.

“Anak Lebih Mandiri” Dimulai dari Hal-Hal Sederhana

Ketika salah satu orang tua menyampaikan harapan agar anaknya tumbuh lebih mandiri, Bunda Vivi Psikolog menjelaskan bahwa harapan tersebut sangat wajar.

Namun, melatih kemandirian anak tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Justru, kemandirian dapat tumbuh dari rutinitas sederhana yang dilakukan anak setiap hari.

Misalnya:

  • memakai kaos kaki sendiri,
  • mencoba mengenakan pakaian sendiri,
  • makan sendiri,
  • menyimpan barang miliknya,
  • mencoba melakukan aktivitas bantu diri,
  • mengambil keputusan-keputusan kecil yang sesuai dengan usianya.

Dalam materi parenting TK A tersebut, orang tua juga diajak memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan sesuatu secara mandiri dengan pendampingan atau sedikit bantuan, memberikan kesempatan mengambil keputusan kecil, memberikan apresiasi yang positif, serta menghindari kritik berlebihan ketika anak mengalami kegagalan.

Menariknya, aktivitas sederhana tersebut ternyata tidak hanya berkaitan dengan kemandirian.

Ketika anak memakai kaos kaki, mengenakan baju, makan sendiri, atau melakukan aktivitas bantu diri, ada berbagai kemampuan lain yang ikut dilatih, seperti:

  • Koordinasi tubuh berkembang.
  • Motorik halus terstimulasi.
  • Keseimbangan tubuh terlatih.
  • Anak belajar mengontrol gerakan dan menyelesaikan tugas.

Inilah mengapa aktivitas sehari-hari tidak seharusnya selalu diambil alih oleh orang tua hanya karena ingin semuanya lebih cepat selesai. Kadang-kadang, memberikan waktu kepada anak untuk mencoba adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.

galeri kegiatan parenting TK A - 1

Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Usia 4–5 Tahun: Masa Memperkuat Fondasi

Bunda Vivi Psikolog kemudian menjelaskan bahwa usia 4–5 tahun merupakan bagian dari masa penting dalam pembangunan struktur perkembangan anak. Pada usia ini, anak sedang berada pada tahap perkembangan kognitif praoperasional dan psikososial inisiatif. Anak juga semakin senang bermain bersama teman sebaya, bermain dengan tujuan tertentu, memunculkan berbagai ide permainan, serta mulai lebih mampu menyimak dan memahami informasi.

Pada tahap ini, anak memang terlihat semakin aktif;

  • Mereka banyak bergerak.
  • Banyak bertanya.
  • Banyak berbicara.
  • Banyak mencoba.
  • Bahkan, terkadang banyak membantah.

Bunda Vivi juga menyebutkan bahwa anak usia 4–5 tahun berada pada masa transisi yang penuh tantangan: energi semakin besar, semakin mandiri, semakin kritis, memiliki banyak ide, semakin sering mencoba berbagai hal, serta memiliki semakin banyak kosakata.

Maka, perilaku tersebut tidak selalu perlu dilihat sebagai sesuatu yang merepotkan. Orang tua harus bisa melihat hal-hal di balik itu:

  • Bisa jadi, di balik “banyak bertanya” ada rasa ingin tahu.
  • Di balik “ingin mencoba sendiri” ada inisiatif.
  • Di balik “banyak bergerak” ada kebutuhan tubuh untuk bereksplorasi.

Tugas orang tua bukan mematikan semua itu, melainkan mengarahkan agar potensi tersebut berkembang dalam batas yang aman dan sesuai.

Anak Adalah Peneliti, Komunikator, dan Pelaku Utama

Salah satu pesan penting dalam materi parenting Bunda Vivi Psikolog adalah bahwa setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah, memiliki potensi dan keimanan. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membantu fitrah tersebut berkembang sehingga anak dapat memberi kebermanfaatan bagi dirinya dan lingkungan.

Ada tiga modal fitrah belajar anak yang perlu terus distimulasi:

1. Anak sebagai Peneliti

Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia ingin menyentuh, mencoba, membongkar, mencampur, mengamati, dan mencari tahu.

Ketika anak bertanya, “Kenapa airnya bisa tumpah?” atau, “Kenapa ini bisa tenggelam?” sebenarnya ia sedang membangun proses berpikir.

Orang tua dapat mendampingi dengan pertanyaan sederhana, bukan selalu memberikan jawaban instan.

2. Anak sebagai Komunikator

Anak belajar menyampaikan keinginan, kebutuhan, pendapat, dan perasaannya. Karena itu, percakapan sehari-hari di rumah merupakan bagian penting dari stimulasi.

Mendengarkan cerita anak, mengajak berdiskusi, membacakan buku, atau bertanya tentang pengalaman mereka di sekolah dapat menjadi kesempatan untuk memperkaya bahasa sekaligus membangun hubungan emosional.

3. Anak sebagai Pelaku Utama

Anak membutuhkan kesempatan untuk melakukan.

  • Bukan hanya melihat orang tua melakukan semuanya.
  • Bukan hanya diperintah.
  • Bukan hanya diberi instruksi.

Anak perlu mengalami proses mencoba, salah, memperbaiki, dan mencoba kembali. Dalam konteks inilah bermain menjadi sangat penting.

Bermain Bukan Sekadar Mengisi Waktu Luang

“Namanya juga anak-anak, memang waktunya bermain.” Kalimat tersebut benar, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan makna bermain bagi anak usia dini.

Bermain dapat menjadi ruang belajar yang sangat kaya.

Bunda Vivi menyampaikan bahwa kegiatan bermain dibahas sebagai aktivitas yang dapat memberikan stimulasi pada berbagai aspek tumbuh kembang anak. Bentuknya dapat beraneka ragam, seperti:

  • bermain sensorimotor atau fungsional,
  • bermain simbolik seperti bermain peran,
  • bermain konstruktif melalui kegiatan pembangunan,
  • serta bermain dengan aturan yang mulai dikenalkan pada tahap berikutnya.

Bahkan stimulasi keaksaraan, seperti literasi membaca, menulis, dan numerasi, juga bisa dikemas dalam bentuk permainan lo, Ayah Bunda.

Contohnya dapat ditemukan dalam beragam kegiatan sentra di PAUD Islam Bintang Juara:

  • Di Sentra Bahan Alam, anak dapat bereksplorasi dengan berbagai material dan pengalaman sensoris.
  • Di Sentra Seni, anak menuangkan ide melalui warna dan karya.
  • Di Sentra Main Peran Besar maupun Main Peran Kecil, anak belajar menggunakan imajinasi, berkomunikasi, dan memahami berbagai peran.
  • Di Sentra Balok, anak membangun, menyusun, merencanakan, dan memecahkan persoalan sederhana.
  • Sementara di Sentra Persiapan, anak mendapatkan pengalaman yang mendukung kesiapan keaksaraan melalui kegiatan main yang sesuai tahap perkembangannya.

Dengan demikian, ketika anak terlihat “hanya bermain”, sebenarnya bisa jadi ada begitu banyak kemampuan yang sedang dibangun.

galeri kegiatan parenting TK A - 2

Lima Kebutuhan yang Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Selanjutnya Bunda Vivi Psikolog juga mengajak orang tua memperhatikan beberapa kebutuhan dasar yang mendukung perkembangan anak, yaitu:

  1. kecukupan nutrisi,
  2. aktivitas motorik kasar dan halus,
  3. lingkungan serta kegiatan bermain yang variatif dan bermakna,
  4. pengalaman emosi yang variatif dan konstruktif,
  5. rangsangan berpikir logis dan analitis yang penuh tantangan.

Artinya, stimulasi anak tidak harus selalu berbentuk lembar kerja atau aktivitas akademik. Namun bisa berupa:

  • Mengajak anak bermain di playground dapat menjadi stimulasi.
  • Berjalan di permukaan yang berbeda dapat menjadi pengalaman sensorik.
  • Melompat dan menjaga keseimbangan dapat melatih kemampuan motorik.
  • Bermain puzzle dapat menstimulasi persepsi visual-spasial.
  • Bermain ritme dapat memberikan pengalaman auditori.
  • Bermain peran dapat mengembangkan komunikasi dan kemampuan sosial.

Bahkan kegiatan sederhana seperti eksplorasi aroma rempah di dapur dapat menjadi pengalaman belajar bagi anak. Bunda Vivi juga memberikan berbagai contoh stimulasi di rumah yang melibatkan sistem sensorik dan motorik, seperti oobleck, sensory mat, grounding, permainan melompat, balance board, playground, eksplorasi aroma, animal walk, cross midline, permainan puzzle, serta aktivitas yang melatih koordinasi mata dan tangan.

Jadi, rumah pun bisa menjadi ruang belajar yang kaya.

Bagaimana dengan Anak yang Tumbuh Kembangnya Berbeda?

Dalam kegiatan parenting tersebut, orang tua juga diajak memahami bahwa setiap anak memiliki perkembangan yang unik.

Ciri anak yang berkembang secara optimal tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat ia membaca, menulis, atau berhitung.

Bunda Vivi menyebutkan beberapa ciri anak cerdas, di antaranya:

  • capaian perkembangan yang sesuai tahapan usia,
  • memiliki kelekatan emosi yang aman,
  • mampu beradaptasi dengan lingkungan baru,
  • mampu menyelesaikan masalah atau kesulitan sehari-hari,
  • serta memiliki beragam potensi kecerdasan (teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner).

Karena itu, ketika melihat perkembangan anak, orang tua perlu bertanya: “Apa yang sudah berkembang?” bukan hanya, “Apa yang belum bisa?”

Disampaikan pula dalam kegiatan ini perkembangan anak-anak TK A yang beragam. Sebagian besar anak di salah satu kelompok sudah berkembang dalam kemandirian, koordinasi tubuh, bahasa, ekspresi perasaan, dan hubungan sosial, sementara beberapa anak masih membutuhkan stimulasi pada aspek tertentu seperti kontrol gerak, motorik halus, keseimbangan, fokus menyimak, dan pengelolaan emosi.

Sementara itu, pada kelompok lain, kebutuhan stimulasi juga terlihat beragam. Ada anak yang sudah menunjukkan kemandirian dalam makan dan toilet training, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan pendampingan dalam berganti pakaian, menyimpan barang, beradaptasi dengan lingkungan, mempertahankan fokus, berkomunikasi lebih terstruktur, serta mengelola emosi.

Pesannya jelas:

Tidak semua anak harus berada pada titik yang sama dalam waktu yang sama.

Yang penting adalah orang tua dan guru mengetahui kebutuhan anak, kemudian bersama-sama memberikan stimulasi yang tepat.

Ketika Rutinitas Berubah, Orang Tua Perlu “Setting Ulang”

Dalam perjalanan mengasuh anak, kondisi keluarga dapat berubah.

  • Rutinitas berubah.
  • Lingkungan berubah.
  • Kebutuhan anak berubah.

Maka, pola yang sebelumnya berjalan baik mungkin perlu disesuaikan kembali.

Jika ada keteraturan yang berubah karena kondisi tertentu, orang tua dapat melakukan setting ulang: melihat kondisi baru, menentukan aturan atau batasan baru, kemudian membantu anak beradaptasi dengan pola tersebut.

Anak tetap membutuhkan aturan dan batasan. Kebebasan bukan berarti tanpa arah. Batasan justru membantu anak memahami mana yang boleh, mana yang tidak, serta bagaimana ia dapat mengekspresikan dirinya dengan cara yang tepat.

Dan ketika perilaku anak belum sesuai harapan, mungkin bukan hanya anak yang perlu belajar. Orang tua pun perlu belajar kembali.

Orang Tua Hebat adalah Pembelajar Sepanjang Hayat

Pada akhirnya, mengoptimalkan tumbuh kembang anak bukan tentang menjadi orang tua yang selalu benar. Bukan pula tentang memiliki anak yang selalu sesuai dengan harapan.

Menjadi orang tua adalah proses belajar yang berlangsung terus-menerus. Hari ini mungkin kita belajar tentang kemandirian. Besok belajar tentang emosi. Lusa belajar tentang komunikasi. Kemudian belajar kembali ketika anak memasuki tahap perkembangan berikutnya.

Di PAUD Islam Bintang Juara, proses tersebut diupayakan melalui sinergi antara sekolah dan keluarga. Guru mengenal perkembangan anak di lingkungan sekolah, sementara orang tua memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana kebutuhan tersebut dapat dilanjutkan melalui rutinitas di rumah.

Sebab, tumbuh kembang anak bukan tanggung jawab satu pihak saja. Sekolah dan orang tua perlu berjalan bersama.

Melalui kegiatan parenting ini, para wali murid TK A tidak hanya mendapatkan wawasan tentang perkembangan anak, tetapi juga diajak kembali melihat rutinitas sederhana di rumah sebagai kesempatan untuk memberikan stimulasi, seperti:

  • Memakai kaos kaki sendiri.
  • Makan sendiri.
  • Membereskan barang.
  • Bermain bersama.
  • Mengajak anak berbicara.
  • Membiarkan anak mencoba.
  • Memberikan batasan dengan penuh kasih.
  • Mendengarkan pertanyaannya.

Dan menemani prosesnya ketika ia belum berhasil.

Karena mengoptimalkan tumbuh kembang anak usia dini, mungkin yang sedang dibangun bukan hasil besar yang langsung terlihat hari ini. Yang sedang dibangun adalah fondasi:

  • Fondasi keimanan.
  • Fondasi kemandirian.
  • Fondasi komunikasi.
  • Fondasi kemampuan berpikir.
  • Fondasi pengelolaan emosi.
  • Fondasi hubungan sosial.
  • Fondasi kecintaan untuk belajar.

Dan yang paling penting, fondasi karakter yang akan terus dibawa anak dalam perjalanan hidupnya.

Seperti pesan yang menjadi bagian dari kegiatan parenting PAUD Islam Bintang Juara:

Setiap anak adalah Bintang dan berhak menjadi Juara.

Tugas kita bukan membuat semua anak bersinar dengan cara yang sama. Tugas kita adalah membantu setiap anak menemukan, mengembangkan, dan menggunakan potensi yang Allah titipkan kepadanya dengan sebaik-baiknya. ⭐*** (CM-MRT)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*