Search

Cerita Miss Alin: Bermain Peran, Belajar Menjadi Diri Sendiri

miss alin bermain peran belajar menjadi diri sendiri

Bagi anak usia dini, bermain bukan sekadar kegiatan menyenangkan. Ada banyak hal yang dipelajari melalui setiap peran, cerita, dan pengalaman bermain. Dalam episode Miss Bercerita kali ini, Muliatul Falihah, S.Pd., Gr. atau Miss Alin, berbagi pengalaman mendampingi anak TK A melalui Sentra Main Peran Besar, sekaligus mengajak kita memahami bahwa setiap perilaku dan proses tumbuh anak memiliki cerita.

Daftar Isi

A. Mengenal Sosok Miss Alin

Perjalanan Miss Alin di dunia pendidikan anak usia dini dimulai sejak masa kuliah PG PAUD. Setelah delapan tahun mengajar di TK Laboratorium universitas, ia bergabung dengan PAUD Islam Bintang Juara pada 2022. Pengalaman dan kesempatan belajar yang diperoleh semakin menguatkan keyakinannya bahwa setiap anak memiliki potensi dan waktu tumbuh yang berbeda.

1. Apa yang pertama kali membuat Miss tertarik dan memilih dunia pendidikan anak usia dini? Sudah berapa lama bergabung dengan PAUD Islam Bintang Juara?

Ketertarikan Miss Alin pada dunia pendidikan anak usia dini tumbuh dari rasa kagum melihat bagaimana anak-anak belajar dari hal-hal yang sederhana. Bagi anak usia dini, bermain, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan merupakan bagian penting dari proses belajar.

Dari situlah saya menyadari bahwa mendampingi anak di usia ini bukan sekadar sebuah pekerjaan, tetapi sebuah kesempatan untuk ikut menjadi bagian dari perjalanan awal mereka dalam mengenal dunia.

Mengawali karir menjadi guru sejak pertama kali pula berada di bangku perkuliahan PG PAUD. Saat itu mendapat tawaran dari pemilik Yayasan untuk membantu di sebuah TK Laboratorium universitas selama 8 tahun. Kemudian mencoba bergabung di Bintang Juara sejak tahun 2022 hingga sekarang.

Selama berada di Bintang Juara, banyak sekali insight dan pengalaman yang saya dapatkan. Salah satu hal yang semakin menguatkan keyakinan saya adalah bahwa setiap anak tumbuh dan berkembang dengan waktunya masing-masing. Setiap anak memiliki keunikan, potensi, serta kebutuhan perkembangan yang berbeda, sehingga tugas kita sebagai guru adalah membantu menemukan, mendampingi, dan memunculkan potensi tersebut.

Pernah diberikan kepercayaan dan dukungan untuk mengikuti perlombaan guru Inovatif di tingkat kota Semarang Th. 2025 dalam rangka menyambut hari guru. Alhamdulillah meraih juara 3 di antara lembaga SD dan SMP, yg juga merupakan satu satunya lembaga TK yg masuk kategori kejuaraan.

Saya juga bersyukur karena di Bintang Juara, guru selalu mendapatkan pendampingan dan kesempatan untuk terus belajar. Bagi saya, menjadi guru berarti tidak pernah berhenti belajar—belajar tentang anak, belajar tentang diri sendiri, dan belajar menjadi pendamping yang lebih baik bagi setiap anak dalam proses tumbuh dan berkembangnya.

2. Bagaimana pengalaman Miss ketika pertama kali dipercaya menjadi wali kelas TK A?

Ketika pertama kali dipercaya menjadi wali kelas TK A, rasanya tentu ada tantangan sekaligus tanggung jawab yang besar. Anak-anak usia 4–5 tahun memiliki karakter yang sangat beragam. Ada yang sudah mandiri, ada yang masih membutuhkan banyak bantuan, ada yang mudah beradaptasi, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman.

Mendampingi anak usia 4–5 tahun ternyata bukan hanya tentang menyiapkan kegiatan pembelajaran, tetapi juga tentang membangun rasa aman dan kepercayaan anak terhadap guru dan lingkungan sekolah.

3. Setelah mendampingi anak-anak TK A, apa hal tentang dunia anak yang paling mengubah cara pandang Miss?

Hal yang paling mengubah cara pandang Miss Alin adalah menyadari bahwa setiap perilaku anak sebenarnya memiliki cerita. Anak yang belum mau mengikuti kegiatan, mudah menangis, berebut mainan, atau sulit fokus bukan berarti anak tersebut tidak mampu. Bisa jadi ia sedang belajar mengelola emosi, berkomunikasi, menyesuaikan diri, atau membutuhkan cara pendampingan yang berbeda. Jadi, kita perlu melihat prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya.

B. Dunia Sentra Main Peran Besar

Ketika anak bermain menjadi dokter, guru, koki, atau anggota keluarga, sebenarnya mereka sedang belajar memahami kehidupan. Melalui Sentra Main Peran Besar, anak mendapatkan kesempatan untuk berimajinasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan mencoba berbagai pengalaman yang dekat dengan kesehariannya.

4. Banyak yang melihat bermain peran hanya sebagai permainan. Sebenarnya, apa yang sedang dipelajari anak melalui kegiatan tersebut?

Bermain peran sebenarnya adalah cara anak belajar memahami kehidupan. Ketika anak bermain menjadi dokter, ibu, ayah, guru, atau kasir, mereka sedang belajar memahami fungsi suatu peran, mengikuti alur kegiatan, berkomunikasi, menggunakan bahasa, dan memecahkan masalah sederhana.

Jadi, bermain bukan berarti anak sedang tidak belajar. Justru melalui bermain, anak belajar dengan cara yang paling dekat dengan dunianya.

5. Ketika anak bermain menjadi dokter, guru, koki, orang tua, atau profesi lainnya, kemampuan apa saja yang sedang mereka bangun?

Ketika anak menjadi dokter, misalnya, anak tidak hanya belajar tentang dokter. Mereka belajar berkomunikasi dengan pasien, menggunakan alat sesuai fungsinya, menunggu giliran, menunjukkan kepedulian, dan mengambil keputusan sederhana.  Ketika menjadi orang tua, anak belajar merawat, menyiapkan makanan, atau mengajak anggota keluarga melakukan aktivitas bersama.

Jadi, yang dibangun bukan hanya imajinasi, tetapi juga bahasa, sosial-emosional, kemandirian, kreativitas, penalaran, kemampuan memecahkan masalah, dan pemahaman tentang kehidupan sehari-hari.

6. Apa yang membedakan Sentra Main Peran Besar (MPB) dengan Sentra Main Peran Kecil (MPK)? Adakah perbedaan cara bermain?

Secara sederhana, perbedaan Sentra Main Peran Besar dan Sentra Main Peran Kecil dapat dilihat dari skala dan pengalaman bermainnya. Dalam MPB, anak menggunakan tubuhnya secara langsung untuk memerankan tokoh dalam lingkungan bermain yang lebih besar, misalnya bermain menjadi dokter di klinik atau menjadi anggota keluarga di rumah.

Sementara MPK biasanya menggunakan benda atau figur yang berukuran lebih kecil sebagai media untuk memainkan suatu cerita. Keduanya sama-sama memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan imajinasi dan memahami kehidupan, hanya pengalaman bermainnya yang berbeda.

7. Seberapa penting ruang untuk berimajinasi bagi perkembangan anak usia TK A?

Imajinasi sangat penting, terutama bagi anak TK A. Dari imajinasi, anak belajar menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru. Kardus bisa menjadi mobil, kursi bisa menjadi kendaraan, dan anak bisa berubah menjadi dokter hanya dengan menggunakan stetoskop mainan.

Ketika kita memberikan ruang untuk berimajinasi, sebenarnya kita sedang memberikan kesempatan kepada anak untuk berpikir kreatif, mencoba, dan mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya.

8. Bagaimana bermain peran membantu anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, berbagi peran, dan menyelesaikan konflik?

Bermain peran memberikan kesempatan yang sangat besar untuk belajar bersama. Anak harus berkomunikasi, menentukan siapa yang menjadi ayah, ibu, dokter, pasien, kasir, dan sebagainya. Mereka juga belajar berbagi alat, menunggu giliran, mengikuti kesepakatan, bahkan menghadapi konflik ketika keinginannya berbeda dengan teman.

Konflik dalam bermain bukan selalu sesuatu yang harus langsung dihindari. Dengan pendampingan guru, konflik justru menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar menyampaikan keinginan dan mencari solusi.

9. Apakah dari pilihan peran atau cara anak bermain, guru bisa melihat minat, karakter, atau cara mereka memahami lingkungan?

Dari permainan anak, guru bisa mendapatkan banyak informasi. Pilihan peran, cara menggunakan alat, bahasa yang digunakan, siapa yang diajak bermain, bahkan bagaimana anak menghadapi masalah dapat menjadi gambaran tentang apa yang menarik bagi anak dan bagaimana ia memahami lingkungan di sekitarnya.

Misalnya, ada anak yang sangat tertarik menjadi dokter dan memperhatikan alat-alat kesehatan. Ada juga anak yang lebih tertarik menjadi orang tua dan menyiapkan makanan untuk keluarganya. Dari situ guru dapat melihat minat sekaligus perkembangan anak dan menjadikannya sebagai bahan untuk memberikan stimulasi berikutnya.

C. Memahami Proses Tumbuh Anak

Setiap perilaku anak menyimpan cerita tentang proses perkembangannya. Hal sederhana seperti berebut mainan, belum mau mengikuti aturan, atau membutuhkan bantuan dapat menjadi kesempatan bagi guru untuk memahami kebutuhan anak dan memberikan pendampingan yang tepat.

10. Ketika anak sulit mengikuti aturan, berebut mainan, atau belum mau bekerja sama, bagaimana sebaiknya kita memahami perilaku tersebut?

Ketika anak berebut mainan atau belum mau mengikuti aturan, kita perlu berhenti sejenak dan memahami bahwa kemampuan regulasi diri mereka memang masih berkembang. Anak usia TK belum selalu mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.

Jadi, daripada langsung memberikan label yang negatif kepada anak, lebih baik kita membantu anak memahami apa yang terjadi, misalnya, “Kamu ingin menggunakan alat itu, ya? Teman sedang menggunakannya. Kita tunggu giliran.” Dengan begitu, anak belajar memahami aturan sekaligus belajar cara yang tepat untuk menyampaikan keinginannya.

11. Apa perkembangan kecil pada anak TK A yang sering dianggap sepele oleh orang dewasa, tetapi sebenarnya sangat berarti?

Banyak sekali. Anak yang sebelumnya selalu meminta bantuan kemudian mau mencoba sendiri, anak yang awalnya tidak mau berbicara kemudian berani menyampaikan keinginannya, anak yang biasanya menangis ketika menghadapi kesulitan kemudian mulai meminta bantuan dengan kata-kata.

Termasuk hal sederhana seperti mau menyapa teman, mengucapkan terima kasih, berbagi alat main, atau mau mencoba makanan sehat. Bagi orang dewasa mungkin terlihat kecil, tetapi bagi anak itu adalah langkah besar dalam proses kemandiriannya.

12. Dalam keseharian di kelas, seperti apa bentuk kemandirian yang sedang dibangun pada anak TK A?

Kemandirian di TK A dibangun dari kegiatan sehari-hari. Misalnya anak belajar memakai dan melepas sepatu, menyimpan barang, mencuci tangan, makan sendiri, merapikan alat bermain, memilih kegiatan, hingga meminta bantuan ketika memang membutuhkan.

Yang paling penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba terlebih dahulu. Guru tidak selalu langsung membantu, tetapi memberikan pijakan sesuai kebutuhan anak.

13. Pernahkah ada momen sederhana bersama anak yang membuat Miss merasa, “Ternyata anak ini sudah berkembang sejauh ini”?

Kalau ditanya momen yang paling membekas, justru sering kali bukan ketika anak berhasil melakukan sesuatu yang besar, tetapi ketika Miss menyaksikan sebuah perubahan kecil yang sebelumnya mungkin tidak terlalu terlihat. Ada rasa haru ketika melihat anak yang pada awalnya selalu mencari bantuan, perlahan mulai berani mencoba sendiri.

Anak yang dahulu hanya berdiri di dekat teman, kemudian mulai berani menyapa, mengajak berbicara, dan terlibat dalam permainan. Atau anak yang sebelumnya mudah menangis ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, kemudian mulai belajar menyampaikan, “Miss, aku butuh bantuan.”

Momen-momen seperti itu mengingatkan Miss bahwa perkembangan anak tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang ia tumbuh perlahan, melalui pengulangan yang terus-menerus, melalui kesabaran, melalui contoh yang diberikan setiap hari, dan melalui kesempatan-kesempatan kecil yang kita berikan kepada anak untuk mencoba. Kita mungkin tidak langsung melihat hasilnya hari ini, tetapi suatu saat tiba-tiba kita menyadari bahwa anak tersebut sudah berada jauh dari titik awalnya.

Yang paling menyentuh bagi Miss adalah ketika menyadari bahwa di balik satu kemampuan sederhana yang ditunjukkan anak, ada proses panjang yang sudah ia lalui. Ada keberanian yang sedang tumbuh, ada rasa percaya diri yang mulai terbentuk, ada kemandirian yang sedang dibangun. Dari situ Miss belajar bahwa tugas guru bukan hanya melihat “anak sudah bisa atau belum”, tetapi juga menghargai seberapa jauh anak sudah bertumbuh dari dirinya yang kemarin.

Dan mungkin itulah yang membuat setiap proses bersama anak menjadi begitu berharga. Karena terkadang kita merasa sedang mengajari mereka, padahal tanpa kita sadari, anak-anak juga sedang mengajarkan kepada kita tentang kesabaran, ketekunan, dan arti menghargai setiap langkah kecil dalam sebuah proses tumbuh.

galeri kegiatan Miss Alin di PAUD Islam Bintang Juara

D. Sekolah dan Ayah Bunda Tumbuh Bersama

Pembiasaan yang dibangun di sekolah akan semakin bermakna ketika dilanjutkan di rumah. Karena itu, komunikasi dan kerja sama antara guru dengan Ayah Bunda diperlukan agar anak mendapatkan pendampingan yang konsisten, sesuai kebutuhan dan tahap perkembangannya.

14. Mengapa pembiasaan yang dilakukan di sekolah perlu dilanjutkan juga di rumah?

Karena waktu anak lebih banyak berada bersama keluarga. Apa yang dibiasakan di sekolah akan lebih kuat ketika mendapatkan penguatan yang sama di rumah. Misalnya di sekolah anak dibiasakan makan mandiri, menjaga kebersihan, mengucapkan terima kasih, merapikan mainan, atau meminta bantuan dengan cara yang baik. Jika di rumah juga diberikan kesempatan yang sama, anak akan lebih mudah memahami bahwa kebiasaan tersebut bukan hanya aturan di sekolah, tetapi bagian dari kehidupannya sehari-hari.

15. Kebiasaan apa yang menurut Miss penting untuk dibangun bersama antara sekolah dan rumah?

Yang paling penting adalah kemandirian, menjaga kebersihan dan kesehatan diri, kemampuan berkomunikasi, mengelola emosi, berbagi, peduli, serta bertanggung jawab terhadap barang dan aktivitasnya. Tidak perlu terlalu banyak target. Yang penting dilakukan secara konsisten dan sesuai usia anak.

16. Kalau Ayah Bunda merasa perkembangan anaknya belum seperti anak lain, apa yang ingin Miss sampaikan?

Ayah Bunda, ketika merasa perkembangan si Kecil belum sesuai dengan anak-anak seusianya, Miss ingin mengajak Ayah Bunda untuk melihat perkembangan anak dari perspektif yang lebih utuh.

Setiap anak memiliki karakteristik, potensi, dan kebutuhan perkembangan yang berbeda. Ada anak yang menunjukkan kemajuan pesat dalam kemampuan bahasa, tetapi masih memerlukan stimulasi dalam aspek kemandirian. Ada anak yang mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, tetapi masih membutuhkan pendampingan dalam membangun interaksi sosial. Ada pula anak yang menunjukkan perkembangan baik dalam kemampuan literasi, tetapi masih perlu belajar mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan anak tidak hanya dapat dinilai dari satu aspek saja. Perkembangan mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan, seperti bahasa, kognitif, sosial-emosional, fisik-motorik, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi.

Oleh karena itu, penting bagi Ayah Bunda untuk tidak menjadikan pencapaian anak lain sebagai satu-satunya tolok ukur dalam menilai perkembangan si Kecil. Sebaliknya, kita perlu mengamati kemajuan anak secara berkelanjutan, memahami kebutuhan belajarnya, serta mengenali kemampuan yang sudah berkembang dan aspek yang masih memerlukan dukungan.

Cobalah mengajukan pertanyaan refleksi, “Apa kemajuan yang sudah ditunjukkan anak saya? Keterampilan apa yang mulai berkembang? Dukungan apa yang dapat saya berikan agar ia dapat berkembang lebih optimal?”

Kemajuan anak tidak selalu ditunjukkan melalui pencapaian yang besar. Kemampuan untuk mencoba sesuatu yang baru, menyampaikan kebutuhan dengan lebih baik, mengikuti arahan sederhana, berinteraksi dengan teman, atau mulai mengelola emosi merupakan bagian dari proses perkembangan yang patut diapresiasi.

Namun, memahami bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda juga perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap tahapan perkembangan sesuai usianya. Apabila Ayah Bunda memiliki kekhawatiran mengenai kemampuan tertentu, jangan ragu untuk berdiskusi dengan guru dan berkonsultasi dengan tenaga profesional agar kebutuhan anak dapat diidentifikasi dan memperoleh pendampingan yang tepat.

Peran kita bukan membandingkan pencapaian anak, melainkan memahami profil perkembangannya, mengenali potensinya, dan memberikan dukungan sesuai kebutuhannya.

Mari membangun pola asuh yang berfokus pada proses, bukan sekadar hasil. Berikan apresiasi atas setiap kemajuan, ciptakan lingkungan yang aman untuk belajar, dan berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, serta berkembang melalui pengalaman.

Karena pada akhirnya, tujuan pendampingan bukanlah membuat anak menjadi sama dengan anak lainnya, melainkan membantu setiap anak mengembangkan potensi dirinya secara optimal.

Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Tugas kita adalah memahami kebutuhannya, mendampingi prosesnya, dan memastikan ia memperoleh dukungan yang tepat pada setiap tahap perkembangannya.

17. Informasi apa dari Ayah Bunda yang paling membantu Miss dalam memahami dan mendampingi anak di sekolah?

Informasi dari Ayah Bunda tentang kebiasaan anak di rumah sangat membantu. Misalnya bagaimana anak berkomunikasi, apa yang membuat anak nyaman atau tidak nyaman, kebiasaan makan, aktivitas yang disukai, atau perubahan perilaku yang terlihat di rumah. Informasi tersebut membantu guru memahami anak secara lebih utuh sehingga pendampingan di sekolah bisa lebih tepat.

E. Refleksi dan Pesan Miss

Selama mendampingi anak TK A, Miss Alin menyadari bahwa guru pun terus belajar dari setiap pengalaman bersama anak. Dari bermain, bereksplorasi, hingga menghadapi tantangan kecil, selalu ada pelajaran tentang kesabaran, penerimaan, dan arti menghargai setiap proses tumbuh.

18. Selama menjadi wali kelas TK A, apa yang justru Miss pelajari dari anak-anak?

Selama menjadi wali kelas TK A, saya menyadari bahwa proses belajar tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada diri seorang guru. Anak-anak mengajarkan kami tentang kesabaran, fleksibilitas, dan pentingnya memahami setiap anak sebagai individu yang memiliki karakter, minat, serta kebutuhan belajar yang berbeda.

Pengalaman ini semakin menguatkan pemahaman guru tentang konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), yaitu pendekatan pembelajaran yang mendorong anak untuk belajar secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Dalam pendekatan ini, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada apa yang anak ketahui, tetapi juga pada bagaimana anak memahami, mengalami, dan menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya belajar bahwa pembelajaran yang bermakna tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Terkadang, kegiatan yang sudah dipersiapkan dengan baik justru berkembang menjadi pengalaman belajar yang berbeda karena rasa ingin tahu, pertanyaan, dan ide spontan anak. Dari situ, Saya memahami bahwa guru perlu memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi, mencoba, mengamati, bertanya, dan menemukan jawabannya sendiri. Guru tidak harus selalu menjadi pusat informasi, tetapi berperan sebagai fasilitator yang merancang pengalaman belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak.

Dalam konteks pembelajaran mendalam, saya juga belajar untuk lebih memperhatikan pengalaman belajar anak melalui proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, Misalnya, ketika anak melakukan kegiatan sederhana di kelas, guru tidak hanya berfokus pada hasil akhir atau apakah anak mampu menyelesaikan tugasnya, tetapi juga mengamati bagaimana anak membangun pemahaman, mencoba strategi yang berbeda, bekerja sama dengan teman, serta menceritakan kembali pengalaman yang diperolehnya.

Anak perlu merasa aman untuk menyampaikan pendapat, nyaman untuk mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan. Ketika anak merasa dihargai dan terlibat secara aktif, proses belajar menjadi lebih dari sekadar menyelesaikan kegiatan; anak memperoleh kesempatan untuk membangun pemahaman dan mengembangkan potensinya.

Pengalaman mendampingi anak-anak TK A juga mengajarkan saya bahwa penerapan pembelajaran membutuhkan kemampuan guru untuk terus melakukan refleksi. Guru perlu mengevaluasi apakah kegiatan yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak, apakah setiap anak memperoleh kesempatan untuk terlibat, dan apakah pengalaman belajar tersebut memberikan makna bagi mereka. Dengan demikian, perencanaan pembelajaran bukan sesuatu yang kaku, melainkan dapat disesuaikan berdasarkan hasil pengamatan terhadap respons dan perkembangan anak.

Hal paling berharga yang saya pelajari adalah bahwa pembelajaran tidak dimulai dari seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan guru, tetapi dari seberapa bermakna pengalaman belajar yang diperoleh anak. Guru perlu hadir sebagai pendamping yang peka, reflektif, dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan yang muncul selama proses pembelajaran.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa pendidikan anak usia dini bukan hanya tentang mempersiapkan anak untuk tahap pendidikan berikutnya, tetapi juga tentang memberikan pengalaman yang membantu mereka mengenal diri, memahami lingkungan, membangun kemampuan sosialisasi dengan orang lain, dan menumbuhkan kecintaan terhadap proses belajar.

Bagi saya, menjadi guru berarti terus belajar bersama anak-anak. Mereka belajar mengenal dunia melalui pengalaman yang kita fasilitasi, sementara kita belajar memahami dunia dari sudut pandang mereka. Sebab, pembelajaran bukan hanya tentang membantu anak belajar lebih bermakna, tetapi juga tentang kesediaan guru untuk terus berefleksi, memperbaiki praktik pembelajaran, dan bertumbuh bersama setiap anak.

19. Apa yang ingin Miss sampaikan kepada Ayah Bunda yang masih menganggap bermain sebagai kegiatan yang belum tentu menghasilkan sesuatu?

Mungkin kita perlu melihat kembali apa yang terjadi selama anak bermain. Ketika anak bermain menjadi dokter, sebenarnya ia sedang belajar bahasa, sosial, matematika sederhana, motorik, aturan, empati, dan problem solving. Bermain adalah kebutuhan anak. Jadi, jangan buru-buru melihat bermain sebagai sesuatu yang tidak menghasilkan. Justru dari bermain kita bisa melihat banyak proses belajar yang sedang terjadi.

20. Menurut Miss, apa yang paling dibutuhkan anak usia TK A dari orang dewasa di sekitarnya?

Yang paling dibutuhkan anak adalah rasa aman, penerimaan, kesempatan untuk mencoba, dan orang dewasa yang mau mendengar. Anak tidak selalu membutuhkan orang dewasa yang langsung memenuhi semua keinginannya. Terkadang, mereka hanya membutuhkan kita untuk hadir, mendampingi, memberikan contoh, menetapkan batasan dengan penuh kasih, dan percaya bahwa mereka mampu mencoba.

Anak juga membutuhkan ruang untuk bereksplorasi, kesempatan untuk melakukan kesalahan, serta pendampingan dalam mengenali emosi, membangun hubungan dengan orang lain, mengembangkan kemampuan berpikir dan berbahasa, serta melatih kemandirian dan kreativitasnya.

Karena pada dasarnya, anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang mengajarkan banyak hal, tetapi juga orang dewasa yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, nyaman untuk bertumbuh, dan percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri.

21. Kalau hanya boleh menyampaikan satu pesan kepada Ayah Bunda yang sedang menemani anak tumbuh di usia TK A, apa yang ingin Miss katakan?

Kalau Miss boleh menitipkan satu pesan kepada Ayah Bunda, jangan terburu-buru mengejar hasil, tetapi sempatkan diri untuk menikmati setiap proses tumbuh anak.

Usia TK A adalah masa ketika anak sedang belajar banyak hal untuk pertama kalinya. Mungkin hari ini mereka masih membutuhkan bantuan, masih mudah menangis, masih belajar berbagi, atau belum berani mencoba. Tidak apa-apa. Berikan mereka waktu, peluk mereka dengan kesabaran, dan yakinkan bahwa mereka mampu.

Sebab, anak-anak tumbuh bukan dalam sehari. Mereka tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali, dari kesempatan untuk mencoba, dari kesalahan yang diberi ruang untuk diperbaiki, dan dari orang dewasa yang tidak pernah lelah percaya.

Karena suatu hari nanti, kita akan merindukan masa ketika langkah mereka masih kecil dan tangan mereka masih mencari tangan kita. Maka, selagi masih ada waktu, mari hadir sepenuh hati. Bukan untuk membuat mereka tumbuh paling cepat, tetapi untuk memastikan mereka tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan merasa dicintai.

Kisah Miss Alin mengingatkan kita bahwa anak tidak perlu tumbuh paling cepat untuk menjadi istimewa. Mereka membutuhkan ruang yang aman untuk bereksplorasi, kesempatan untuk mencoba, dan orang dewasa yang percaya pada kemampuannya. Mari nikmati setiap proses tumbuh anak, karena setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari perjalanan besar mereka kelak.*** (CM-MRT)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*